Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Firasat



Agnes berdiri dengan mulut yang menganga ketika mendengar ucapan Regata.


" Apa? Jadi maksudmu, kita akan membasmi paman kak Afgan di hari resepsiku? " Pekik Agnes tidak habis pikir.


Bagaimana Agnes tidak syok? Rencana Regata itu sungguh konyol dan dapat merenggang banyak nyawa.


Saat Agnes menceritakan apa yang Ryan ceritakan padanya, Regata langsung mengambil kesimpulan jika paman dari suami Agnes itu hanya ingin menghancurkan Ryan dan kembali mengendalikan Afgan.


Dan keluarlah rencana gila Regata saat mereka membahas tentang bagaimana cara mereka membasmi paman jahat dari suaminya.


Regata menatap Agnes dengan santai.


" Tenanglah! Kau hanya perlu duduk manis di pelaminan sementara aku yang bekerja, " Ucap Regata simple.


" Kau gila Gata! " Pekik Agnes.


" Apa kau tidak memikirkan resiko jika kita bertarung di tempat umum seperti itu? Apa kau tidak memikirkan para tamu yang akan datang dan keselamatan keluargaku? " Cerocos Agnes ngegas.


" Ck, aku bingung dengan cara pikirmu. Yang makin sini makin lemot saja, sebaiknya kau turun jabatan Gata! " Celetuk Agnes sambil memijit pelipisnya pusing.


Regata menatap Agnes sinis, " Enak saja, justru kau yang makin sini makin tidak faham dengan apa yang berusaha aku sampaikan! " Sulut Regata.


" Dengar Agnes. Jika kita melawannya secara terang-terangan, sudah pasti kita akan kena imbasnya karena mafia itu sudah mulai menguat sekarang. Apalagi dengan dia yang sudah tahu wajahku dan semua orang yang ada dalam hidupku, " Ucap Regata.


" Aku tidak mau mengambil resiko dengan membahayakan nyawa Afra, Veyna dan adik Afra. Kita tidak sebebas dulu Agnes, sekarang kita sudah berkeluarga dan kita harus berfikir dua kali jika tidak maka keluarga kita pun akan kena imbasnya dengan apa yang kita lakukan. " Lanjut Regata berusaha memberi Agnes penjelasan.


Agnes masih memijit pelipisnya pusing, memang benar apa kata Regata. Tapi dia juga sedikit ragu dengan nantinya yang akan banyak orang.


Apa tidak bahaya jika mereka main baku hantam dan tembak-tembakan di pesta resepsi pernikahannya dengan Afgan yang pastinya akan ada banyak orang?


" Tapi Gata, kau- Tunggu. Tadi apa yang kau bilang? " Tanya Agnes yang hendak protes namun baru menyadari ucapan Regata barusan.


" Apa? " Ling-lung Regata.


" Kau bilang tidak mau membahayakan Afra, Veyna dan- " Agnes menggantung ucapannya dan menatap Regata dengan bola mata yang terbelalak.


" Hamil!! " Pekik keduanya bahagia.


" Gila, Veyna hamil? Gercep banget kamu tertanya, " Puji Agnes sambil cekikikan.


Regata menarik kerah bajunya sekilas membanggakan diri.


" Regata gitu loh, suami kamu aja kalah gercep sama aku! Apalagi kalo soal ranjang, uh..Gue rajanya, " Ucap Regata percaya diri.


Agnes mendelik malas ke arah Regata, " Hilih, bacotmu. Nih ya, jangan ragukan kak Afgan kalo soal urusan ranjang! " Balas Agnes yang ikut berbicara ke arah 18+.


" Halah, palingan sekali goyangan aja langsung ambruk. " Ejek Regata.


" Enak aja! Suami aku tahan lama tau. " Semprot Agnes yang tak rela jika ada yang meragukan keperkasaan suaminya.


" Huh, tetep gak bisa dia nandingin keperkasaan gue kalo- "


Plak.


" Oke fiks garing dah lah males, " Potong Agnes sambil menampol mulut Regata dengan telapak tangannya.


" Udah comeback juga tu bahasa gaul! " Celetuk Regata.


Agnes menatap tajam ke arah Regata.


" Heh, kamu pikir hanya karena aku lama di Amerika aku melupakan bahasa-bahasa negara yang membesarkanku ini hah! Sungguh tidak dapat di percaya, " Cibir Agnes yang malah membuat Regata tertawa.


Seketika Regata kembali menatap Agnes serius.


" Jadi, mau kau pertimbangkan saran dariku? " Tanya Regata yang membuat Agnes berpikir sejenak.


" Tapi Gata, tidak mungkin kan kita membahayakan banyak orang hanya untuk memusnahkannya? " Tanya Agnes khawatir.


Regata tersenyum tipis. Kemudian pria itu berjalan pelan membelakangi Agnes sambil berkata:


" Kau tenang saja, tamu yang akan mengacau hanya akan datang di akhir acara. " Ucap Regata santai.


" Maksudmu? " Tanya Agnes bingung.


Regata menyeringai, " Kau lihat saja nanti bagaimana caraku membuat sad ending dalam kisah bejadnya. " Balas Regata.


" Yang perlu kau lakukan, hanya mendiskusikannya dengan Tuan Ryan dan membuat rencana cadangan dengannya apabila yang ku rencanakan tidak berjalan mulus. " Lanjut Regata yang di angguki oleh Agnes.


" Aku mengerti. Dan aku harap tidak ada korban lagi kali ini, " Ucap Agnes pelan namun dapat di dengar oleh Regata.


Regata berbalik dan memegang kedua pundak Agnes. Dia menunduk dan menatap dalam kedua bola mata wanita yang dulu pernah dia cintai itu dalam-dalam.


" Positive thinking, okay? Aku akui misi kita kali ini sulit, karena adanya orang-orang yang menjadi kelemahan kita. Tapi sebisa mungkin, kita jadikan mereka sebagai kekuatan kita, bukan kelemahan kita. " Ucap Regata penuh penekanan.


Tanpa sadar Agnes menitihkan air matanya. Entah kenapa dia menangis, padahal tidak ada hal yang harus membuatnya menangis.


Dan hal itu membuat Regata terkejut, dengan segera dia menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi mulus Agnes.


" Kau kenapa? " Tanya Regata bingung.


" Entahlah, aku rasa aku akan kehilangan seseorang yang sangat berarti bagiku. Dan rasa itu seakan nyata dan akan segera terjadi, " Balas Agnes yang di akhiri dengan kembali mengalirnya lebih deras air mata tanpa suara.


Regata mematung. Dia tahu benar, apa yang Agnes rasakan kemungkinan besar memang itu yang akan terjadi.


Dan dia jadi sedikit berpikir tentang rencananya, bagaimana jika di antara mereka harus ada yang berkorban demi salah satu dari mereka?


Dengan segera Regata memeluk Agnes erat.


" Kau tidak akan kehilangan apapun dan siapapun, kau dan Afgan akan tetap bersama Agnes aku berjanji padamu. " Ucap Regata sambil mengelus punggung Agnes.


" Jika pun ada yang harus berkorban, aku akan dengan suka rela mengorbankan diriku demi kamu dan keluargaku. " Lanjut Regata yang membuat Agnes mendongak dan menampar pipi Regata.


Plak.


" Kau pikir dengan berkorban akan mengakhiri segalanya, hah? " Bentak Agnes dengan air mata yang semakin meluncur deras.


Agnes maju dan menarik kerah baju Regata.


" Dengar Gata. Apapun yang terjadi, King dan Queen tidak akan pernah berpisah meskipun malaikat maut sendiri yang menjemput salah satu dari kita. " Ucap Agnes tegas.


" Jika pun memang harus ada salah satu dari kita yang harus berkorban dan itu terjadi padamu, maka aku akan ikut bersamamu saat itu juga. " Lanjut Agnes dengan menatap Regata penuh yakin.


Regata menatap Agnes dalam. Rupanya bukan hanya dia yang rela berkorban demi Agnes, tapi Agnes juga.


Dan hal itu membuat semangat keinginannya untuk menang melawan musuhnya bangkit berkobar-kobar.


" Kau tenang saja Agnes, aku akan berusaha mati-matian untuk memenangkan pertarungan ini. Tidak perlu ada yang berkorban di antara kita. Kau, aku, dan keluarga kita berdua lah yang harus rela mengorbankan pria tidak berguna itu sebagai hadiah pernikahanmu. " Ucap Regata pasti.


_-_


Tbc!