
"Dia-
Flashback on!..
Afgan membawa Agnes berjalan menuju Apartement yang ia sewa dadakan dengan susah payah.
Karna akibat dari obat perangsang itu,membuat sekujur tubuh Agnes terasa begitu panas yang membuat gadis itu kehilangan kendali dan terus memepet Afgan.Pria yang berada dekat dengannya
Sementara Alvin,dia santai-santai saja dibuatnya.Bahkan dia menikmatinya,moment dimana Afgan yang mengusap wajahnya kasar karna frustasi menghadapi Agnes.
Setelah masuk ke dalam Apartement,Afgan berhenti melangkah dan menengok ke arah Alvin dengan mata yang melotot tajam seolah memberi peringatan.
Alvin hanya mengangkat kedua tangannya ke udara sambil berkata:
"Aku tidak mau ikut campur.Kau yang membawanya,jadi kau juga yang harus mengatasinya!"Ucapnya santai.
"Kau-!"Geram Afgan dengan tangan yang terus menahan tangan nakal Agnes.
"Sudahlah.Nikmati saja semuanya,aku pergi.Bye..!!Selamat melepas keperjakaanmu tuan muda..!!"Ucap Alvin sambil terkekeh dan melangkah meninggalkan Apartement begitu saja.
"Brengsek kau!!"Geram Afgan.
"Panas...pa-nas..!!"Lirih Agnes.
Wanita itu terus memepet Afgan dengan tangan yang terus menempel di dada bidang Afgan dan mengelusnya secara sensual.
Dan hal itu membuat Afgan memejamkan kedua matanya hanyut terbawa suasana.Seketika kesadaran Afgan kembali,dengan segera ia menggendong tubuh ramping Agnes dan membawanya ke kamar mandi yang terketak di kamar apartementnya .
Dia menyalakan shower dan mengguyurkannya pada seluruh tubuh Agnes.
"Aghk....!!"Teriak Agnes yang kaget.
Afgan meneguk salivanya susah payah.Dengan dres tipis yang Agnes gunakan,nampak terlihat jelas setiap lekukkan indah tubuhnya itu.Apalagi dengan pakaian yang sudah basah oleh air.
Dengan cepat Afgan menggeleng-gelengkan kepalanya menyingkirkan hal-hal kotor yang seketika menjalar di kepalanya.Kemudian pria itu kembali fokus mengguyur tubuh Agnes.
Tapi Agnes justru semakin liar.Gadis itu menarik kerah baju Afgan yang berada di hadapannya dan mencium bibirnya dengan kasar.Dengan kedua tangan yang perlahan mendorong tubuh Afgan sehingga pria itu menempel di dinding kamar mandi dengan Agnes yang memepetnya dari depan.
Mata Afgan membelalak.Dengan langsung pria itupun mendorong dan mengubah posisinya.Kini,Agneslah yang menempel di dinding kamar mandi
dengan dirinya yang berada di hadapan wanita itu.
"Dengar Agnes,sadarlah!"Ucap Afgan sambil menatap Agnes intens.
"Pa..nas.I-ini sa-sakit..!"Balas Agnes lirih.
Kini wanita itu tidak bisa bergerak.Karna tubuhnya sudah di penjara dengan tubuh Afgan yang menempel padanya.
Afgan bingung sendiri.Obat perangsang itu sepertinya dosis tinggi,sehingga dengar diguyur air sekalipun efeknya tidak hilang.Malah semakin parah
Afgan melihat dalam kedua mata Agnes.Nampak terlihat jelas kesakitan di dalamnya.Afgan si tidak keberatan jika harus melakukan itu,apalagi dengan dirinya yang begitu masih sangat mencintai Agnes.
Tapi fikiran warasnya mengingatkannya pada Agnes.Bagaimana nasib dan reaksi wanita itu setelah ia melakukannya?dan,sudah pasti Agnes akan membencinya jika melakukan itu.
Saat tengah merenung dengan fikirannya,Agnes yang berada beberapa senti di wajahnya itupun dengan segera menarik kepala Afgan dan mel*mat habis bibir sexy pria di depannya.
Afgan yang tadinya memberontak menjadi luluh seketika.Dia bahkan membalas serangan Agnes lebih agresif dari gadis yang usianya terbalut satu tahun darinya itu.
Bagaimanapun,dia tetap lelaki normal.Yang tidak akan tahan jika dirinya di goda terus menerus seperti ini oleh seorang lawan jenis.Apalagi orang itu merupakan seseorang yang sudah lama berada dalam hatinya,sudah pasti tidak akan kuat.
Afgan melepaskan pangutan bibir mereka dan membawa Agnes ke atas ranjang apartement mewah miliknya.
Setelah Agnes berbaring diatas ranjang,dengan segera Afgan melepaskan bajunya dan menindih Agnes.
Afgan menatap intens wanita yang berada di bawahnya.Sementara Agnes yang sudah merasakan panas yang begitu lebih panas dari tubuhnya dengan segera menarik Afgan dan mengubah posisi mereka.
Kini,Agneslah yang berada di atas tubuh Afgan.
Afgan terkejut,bahkan mata dan bibirnya sampai terbuka melihat tingkah Agnes yang begitu agresif.
"Kau akan menyesal,Agnes!"Seru Afgan memperingati.Mungkin,ini untuk yang terakhir kalinya.
Karna kewarasannya sudah hampir hilang tergantikan oleh nafsunya.
Agnes tersenyum.Kemudian gadis itu mendekatkan bibir tipisnya pada telinga Afgan yang berada di bawahnya.
"Aku tidak akan menyesal,mari lakukan!"
Ucapan bodoh tanpa pemikiran itu keluar begitusaja dari mulut Agnes.
Kewarasan wanita itu sudah hilang sedaritadi,apalagi saat melihat roti sobek milik Afgan yang membuatnya semakin risah tidak jelas.
Mendengar suara serak serak basah yang begitu menggoda milik Agnes,membuat Afgan menegang dan sama-sama kehilangan pemikiran warasnya.
Dengan segera pria itupun membalik posisinya lagi.Kini,dialah yang berada di atas Agnes.
"Aku sudah berbaik hati memperingatimu agar keluar dari cengkramanku,tapi kau sepertinya memang ingin merasakan kehebatanku.Maka jangan salahkan aku karna melakukannya,sayang!"Ucap Afgan dengan suara berat menahan nafsu.
Bukannya takut,Agnes malah tersenyum cantik.Yang membuat Afgan sungguh kehilangan akal sehatnya dan menyerang Agnes tanpa ampun.
Agnes yang dalam pengaruh obat perangsang itu pun merasa senang dan merasa tidak puas dengan cara kerja Afgan yang menurutnya sangat lambat.
Afgan sebagai pria merasa terhina karna di anggap kurang memuaskan,dengan segera pria itu pun kembali membalikkan posisinya dan langsung menyerang Agnes dengan beruntal.
"Arghk..!!"Erang Agnes kesakitan.
Afgan terkejut.Tak lama sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman kecil.
"Perawan."
_-_
Flashback off!
**
"Woi woi!!"Teriakan Vano membuat lamunan Afgan buyar.
Sedaritadi ketiga temanya itu nampak mengernyitkan alisnya bingung melihat Afgan yang sepertinya sedang melamunkan sesuatu dengan semyuman tampan yang tak lepas dari bibirnya.
Tentu saja mereka bingung.Bukannya melanjutkan ceritanya,Afgan malah melamun dengan bibir yang terus tersenyum.Dan Hal itu tentu saja membuat ketiganya kesal dibuatnya.
"Dia apa hah?"Tanya Kevin penasaran."Lo kalo ceritanya jangan setengah-setengah dong!"Lanjutnya kesal.
"Tau nih Afgan!"Lanjut Alvin.
Sementara Afgan yang baru saja sadar dari lamunannya langsung menatap ketiga temannya secara bergantian.
"Emang gue mau cerita apa?"Ucapnya polos.
Ketiganya mendengus malas."Lo mau cerita first time lo bareng Agnes coi,gitu aja lupa."Ucap Vano kesal.
"Oh!"
"Bukan oh,ayo lanjut!"Ucap Alvin jengkel.
"Ya gak gimana-mana,seru aja."Ucap Afgan biasa.
Perlahan pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan membuka pintu seperti hendak keluar.
Sebelum Afgan benar-benar keluar,dia menengok ke belakang melihat ketiga sahabatnya yang tengah berkomat-kamit meluncurkan setiap sumpah serapah yang ditujukan kepadanya.
"Vin,adik lo hot juga yah kalo urusan ranjang."Ucap Afgan dengan mengedipkan sebelah matanya disertai kekehannya.
"Sialan lo!"Seru kevin kesal dan hendak melempar Afgan dengan sepatunya.
Tapi Afgan dengan gesit keluar dan menutup pintunya dengan kasar sambil terkekeh melihat ekspresi marah Kevin karna adiknya digoda.
"Brengsek emang tu anak!"Kesal kevin di dalam sana sambil membenarkan kembali sepatunya.
Alvin dan Vano hanya tertawa geli mengingat ucapan Afgan.Ditambah melihat ekspresi kesal Kevin saat ini.
"Apa?"Semprot Kevin sambil menatap ketiganya.
Ketiganya hanya menggelengkan kepala takut kena boom amarah Kevin.Kemuduan Alvin menyadari sesuatu yang menurutnya perlu ia sampaikan pada kedua temannya itu.
"Apa kalian tidak menyadari sesuatu di sini?"Ucap Alvin yang membuat kedua temanya menjadi mode serius seketika.
"Maksud lo apa?"Tanya Vano bingung.
"Lopada tau sendirikan seperti apa Afgan beberapa tahun ke belakang ini,dia seperti robot yang tidak berekspresi!"Ucap Alvin.
"Tapi setelah bertemu dan mengalami kejadian ini bersama Agnes,rasanya gue kembali menemukan Afgan yang dulu.Afgan yang kita kenal sewaktu SMA,yang ceria dan menikmati hidup."Lanjutnya yang membuat Vano dan Kevin merenungkan ucapannya.
"Lo bener,Afgan emang udah sedari dulu menyukai adik gue.Tapi Agnes yang dingin itu sama sekali tidak menyadari perasaan Afgan terhadapnya."Ucap Kevin
"Kita harus bertindak untuk mengembalikan Afgan seperti dulu lagi."Sambung Vano.
"Gimana caranya?"Tanya Alvin bingung.
"Agnes!"
"Gak akan mudan van,lo tau sendirikan gimana adik gue."Ucap Kevin lemah.
"Kita pakai tante jennie,tante rempong itukan ada di sini!"Ucap Vano
"Maksud lo?"Tanya keduanya bingung.
"Lo liat aja ntar,bagaimana cara babang tamvan ini menyatukan romeo dan jullient yang sudah terpisah lama."Lanjutnya narsis.
Keduanya hanya mendengus malas dan mendelik ke arah vano yang kembali narsis itu.Sama seperti mereka muda dulu.
Tak lama,Kevin merenung,mengingat adikknya.
"Gimana kabar lo dek,gue kangen banget sama lo.Setelah ini,gue janji.Gue akan temui lo dan memberi lo semangat untuk menghadapi dunia yang kejam ini.Lo tenang aja,seperti apapun kondisi lo saat ini,gue akan tetap berada di samping lo.Dukung lo!"
_-_
Tbc!