Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Ajakan Dadakan



Keesokan harinya..


Agnes dan Regata kini sedang berada di salah satu Restaurant mewah yang sengaja pria itu siapkan untuk sang pujaan hati.


Setelah terjadinya insiden kecil kemarin,Agnes langsung pulang kembali ke kediaman Filex.Karna memang perempuan itu sudah nyaman disana.Alasannya?tentu saja karna banyak orang dan sangat asik tentunya,dibandingkan tinggal di kediaman Drax yang hanya d berpenghuni Rexi dan Drexy.Haley?tentu saja perempuan itu sudah mempunyai tempat tinggal baru yang lebih tepat untuknya.Rsj


Regata menatap Agnes dengan senyuman tak jelasnya,yang mana membuat Agnes menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Kenapa?"Tanya Agnes.


"Aku tidak menyangka,kita pada akhirnya bisa bersama juga.Setelah sekian lama perjuanganku untuk mendapatkanmu,dan membuatmu selalu ada di sisiku sebagai teman hidupku akhirnya saat itu akan segera tiba juga."Ujar Regata sambil menatap Agnes sendu dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajah tampannya.


Agnes hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Regata.Baru saja Regata hendak membuka suaranya kembali,seorang pelayan sudah terlebih dahulu menghampiri mereka dengan membawa makanan yang khusus Regata pesan untuk dirinya dan Agnes sebelum Agnes sampai tadi.


"Permisi tuan,nona.Pesanan anda telah tiba!"Ucap pelayan itu ramah.Yang hanya dibalas anggukan dan senyuman kecil dari Agnes dan Regata.


Setelah mengucapkan itu,pelayan itu pun langsung saja menyajikan berbagai macam makanan ke atas meja mereka.


"Selamat menikmati."Ucap Pelayan itu setelah menyelesaikan tugasnya.


Agnes kembali mengangguk kecil dan pelayan itu pun berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Ayo makan!"Seru Regata dengan tangan yang sudah menyambar sendok dan pisau untuk mulai menikmati makanan di hadapannya.


Agnes mengangguk dan tersenyum.Tangan perempuan itu pun dengan gesit meraih sendok dan pisau.Saat hendak memakan salah satu dari sekian banyaknya makanan di hadapannya,seketika Agnes merasa enek dan ingin muntah menatap makanan dan aroma makanannya.


Gluk..


Agnes menelan ludahnya susah payah.Rasanya dia ingin mengeluarkan seluruh isi dalam perutnya begitu melihat makanan yang tersaji di depannya.


Entah mengapa nafsu makan Agnes hilang sekerika,dan tergantikan dengan rasa sebal yang bukan main.


Regata menghentikan aktifitasnya begitu melihat Agnes yang hanya diam seperti menahan sesuatu dengan mata yang terus memandang makanan di hadapannya.Dan hal itu tentu saja membuat Regata bingung.


"Agnes,kenapa?apa kau tidak suka,bukankah ini adalah makanan favorite-mu?"Tanya Regata heran.


Agnes menggeleng."Ti-tidak,bukan begitu.Aku,Uekh..!"Ucapan Agnes tergantung saat tangannya membungkam mulutnya yang hendak muntah.


Tanpa pamit,wanita itu pun segera pergi menuju toilet wanita untuk mengeluarkan segala isi perutnya agar rasa mual di tenggorokannya berkurang.


"Loh,Agnes!"Panggil Regata yang heran melihat kepergian Agnes yang tiba-tba.


Pria itu hendak bangkit dari duduknya untuk menyusul Agnes,akan tetapi niatnya itu ia urungkan setelah mendengar namanya di panggil.


"Rere!"Panggil seorang wanita yang berada di belakangnya lembut.


Lantas Regata menoleh dan dengan sekejap matanya membulat melihat siapa sosok wanita yang baru saja memanggilnya.


"K-kau!"


**


"Uekh...uekh...!"


Agnes mengeluarkan segala cairan bening yang di akhiri dengan membasuh dan menatap wajahnya sendiri melalui pantulan cermin yang berada di hadapannya.


"Apa ini,rasanya sangat sebal melihat dan mencium aroma makanan tadi.Padahal benar kata Regata,itu adalah makanan kesukaanku semua."Gumam Agnes merasa heran dengan dirinya sendiri.


Agnes nampak memutar otaknya untuk berfikir.Seketika matanya membulat sempurna dengan tangan yang refleks menyentuh perut datarnya.


"Jangan-jangan aku-"Ucapnya menggantung.Agnes menggeleng pelan dengan tatapan tak percaya yang ia sorotkan pada dirinya sendiri di pantulan cermin sana. "Tidak,tidak.Tidak,ini tidak mungkin."Ucap Agnes lirih dengan airmata yang sudah jatuh membasahi pipi mulusnya.


"Huft...Tidak.Aku hanya tidak suka saja aroma makanannya,bukan berarti aku hamil kan?iya kan?Hah,tentu saja ia."Elak Agnes sambil menghapus airmatanya kasar dan kembali mebasuh wajahnya menggunakan air.


Agnes mengambil tissue yang berada di tas selempangnya dan dengan segera ia membersihkan sisa-sisa air yang berada di wajahnya.


Agnes tersenyum kecil dan menghela nafas dalam sebelum akhirnya perempuan itu pergi meninggalkan toilet yang sempat ia singgahi.Namun tiba-tiba-


Bughk...


"Tidak apa,"Ucap Perempuan itu sambil berusaha berdiri. "Saya juga yang-"Kedua mata wanita itu membulat sempurna saat melihat Agnes


"Di-dia!"Batin Wanita itu.


Agnes menatap wanita itu bingung.Yang mana tatapan Agnes membuat wanita itu gelagapan.


"A-ahh..maksudku,ti-tidak apa!Lagian tadi aku juga yang salah nona,hehe.."Ucap Wanita itu yang di akhiri tawa canggungnya.


Agnes hanya tersenyum tipis.Saat hendak berlalu meninggalkan wanita itu,tiba-tiba langkahnya terhenti karna sebuah panggilan yang di tujukan untuknya.


"Tunggu!"Ucap Wanita itu.


Agnes membalikkan badannya dan mentap wanita itu dengan alis yang terangkat satu."Ya,"Ucap Agnes dengan wajah bingungnya.


"K-kau,kau Agnes Anfilex?"Tanyanya agak ragu-ragu.


Agnes mengangguk sambil terus menatap wanita itu bingung.


"Ya,kau mengenalku?"Tanya balik Agnes yang di angguki wanita itu. "Siapa kau?"Lanjut Agnes.


"Siapa dia?aku sama sekali tidak mengenalnya.Dan lagi,matanya berair seperti hendak menangis."Batin Agnes.


"Aku-"


**


"Maaf lama,tadi-tadi aku ada urusan sebentar."Ucap Agnes sambil tersenyum ke arah Regata dan dengan segera ia mendudukkan bokongnya di kursi yang berhadapan langsung dengan Regata.


Regata mendongak sambil mengangguk kecil,dan pria itu kembali menundukkan kepalanya seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


Agnes menatap pria di depannya dengan ekspresi bingung.Pasalnya, raut wajah Regata menunjukkan kecemasan dan kegelisahan yang mendalam.Tapi yang lebih anehnya lagi,kenapa pria itu seperti menyembunyikan sesuatu yang menjadi masalahnya padanya?Biasanya sekecil apapun masalah yang ia atau Regata hadapi,mereka selalu jujur satu sama lain.Tapi ini?


"Gata,are you ok?"Tanya Agnes sambil menatap Regata.


Regata tersentak dari lamunannya.Pria itu mendongakkan kepalanya menatap Agnes lekat.Agnes yang di tatap seperti itu semakin bingung.


Baru saja mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu,Agnes sudah terlebih dahulu dikejutkan dengan tindakan Regata yang menggenggam tangannya tiba-tiba sambil berkata:


"Kau bilang kau ingin menikah denganku?"


Dengan agak ragu Agnes menjawab,"I-iya."


"Maka menikahlah denganku hari ini juga!"Ucap Regata penuh penekanan.


"A-APA!!"


**


Tanpa mereka sadari,sepasang mata selalu melihat pergerakan dan percakapan keduanya dari awal hingga akhir.


Orang itu nampak meneteskan airmatanya melihat seseorang yang dengan mudahnya mengajak orang lain menikah tanpa memikirkan perasaannya.


Orang itu menarik nafas dalam.


"Mungkin ini memang nasibku,aku akan berusaha menerimanya dengan lapang dada.Semoga kalian bahagia!Dan hubungan kalian abadi,untuk selamanya."Gumamnya sambil melihat ke arah meja Agnes dengan bibir bawah yang ia gigit berusaha memendam kesakitan hatinya.


"Maaf bila aku sempat berharap keajaiban datang padaku dengan cara memisahkan kalian dan membuatmu kembali padaku.Maaf!Mulai sekarang,aku akan mengikuti kemana arus takdir membawaku.Selamat,sekali lagi ku ucapkan selamat pada kalian!Sampai jumpa,dan semoga bagia."Lanjutnya sambil tersenyum tulus walau hatinya hancur.


Setelah mengucapkan hal-hal yang mungkin untuk sebagian orang itu sungguh menyesakkan hati,dia pun beranjak pergi dari sana.


Meninggalkan dan merelakan hati,yang pernah menghuni hatinya.Dan merelakan belahan jiwanya demi untuk bersama orang lain.Sakit!tapi lebih sakit jika harus berjuang sendirian,bahkan tanpa di hargai.


Maka untuk itu,pergi adalah jalan terbaik yang harus ia pilih!.


**


Tbc!