
Semua orang memasang wajah terkejutnya saat mendengar ucapan Afgan.
Istri? Agnes, istri Afgan? Kapan mereka menikah? Kapan mereka menyandang gelar Suami-Istri? Kenapa Afgan tidak memberitahu bahkan meminta restu keluarganya?
Begitu banyak pertanyaan yang terlintas di kepala mereka. Hingga akhirnya Ryan sebagai kepala keluarga pun angkat suara.
" Boy, you kidding me right? " Ucap Ryan sambil menatap putranya serius.
" I'm seriously yah. Dia istriku, dan dia juga sedang mengandung anakku! "
Deg.
Agnes seketika menatap Afgan. Sedangkan Afgan hanya acuh saja dengan terus menatap sang ayah tanpa melirik ke arah Agnes.
" A-anak? " Ucap semua orang lebih terkejut.
" Hei bodoh. Ini tidak lucu yah! " Serga Alfan dengan menatap sang adik tajam.
" Kau tidak percaya? Tidak apa! Aku juga tidak peduli. " Balas Afgan bodoamat.
Semua orang membuka mulutnya sambil mengerutkan keningnya bingung.
Sementara itu, Jennie justru tidak di ambil pusing. Mau Agnes sudah nikah atau belum dengan putranya, mau Agnes hamil atau tidak, yang penting sekarang gadis itu sudah menjadi menantunya.
" Ah..Sayang, biarkan Afgan yang menjelaskan semuanya pada mereka yah. Sekarang kamu ikut aja sama Bunda, yuk! " Ajak Jennie sambil melepaskan tangan Afgan yang berada di pinggang Agnes dan membawanya pergi dari sana.
" Fani, ayo! " Seru Jennie saat melihat keponakannya yang hanya diam saja.
" Eh, eh. Iya oke tan. " Balas Fani dan berlari kecil menyusul teman dan tantenya yang sudah berjalan menjauh.
Ryan terus menatap Afgan tajam, begitu juga dengan Alfan sang kakak. Tapi Afgan? Pria itu malah santai-santai saja sambil berjalan menuju sofa tidak memperdulikan keduanya.
" Afgan, Ayah mau bicara sama kamu! " Ucap Ryan agak berteriak.
" Kalau ingin berbicara, ya ayo! Tapi aku tidak terbiasa berbicara sambil berdiri. " Balas Afgan yang sudah terduduk di salah satu sofa tanpa melihat ayahnya.
Ryan menghela nafas dalam. Kemudian paruh baya itu pun menyusul anaknya yang sudah terduduk di sofa ruang tamu.
Sementara Alfan, mau tidak mau dia mengikuti sang ayah sambil memaki dalam hati:
" Afgan sialan. Masa ia gue kalah start dari dia! " Batin Alfan berdecak sebal.
" Jelaskan! " Titah Ryan tegas saat dirinya dan sang putra sulung sudah ikut terduduk tepat di hadapan Afgan.
" Aku dan Agnes sudah menikah, kami menikah di Amerika beberapa bulan yang lalu. " Bohong Afgan.
" Beberapa bulan yang lalu? " Ulang Ryan geram. " Kau sudah menikah beberapa bulan yang lalu tapi kau baru mengabari keluarga mu sekarang? Wah..Hebat Afgan! Sungguh hebat!! " Lanjutnya sambil bertepuk tangan.
Afgan hanya bisa sedikit menundukkan kepalanya. Yah, dia memang salah dengan tidak mengabari keluarganya. Bahkan dia berbohong dengan pernikahannya yang dia bilang beberapa bulan yang lalu. Padahalkan pernikahannya belum sampai satu minggu.
" Afgan, lo gak nganggep kita keluarga lo, hah? " Kini giliran Alfan yang geram pada adiknya.
" Lo bahkan gak ngundang keluarga lo sendiri di hari pernikahan lo. Lo itu- Hah! " Lanjut Alfan sambil membuang muka dari Afgan karna kehabisan kata-kata.
" Kami tidak mengadakan resepsi apapun di sana, kami hanya menikah di gereja saja tanpa mengundang orang banyak. " Jelas Afgan.
" Apa!! " Pekik Ryan dan Alfan dengan mata membulat.
" Lo- apa lo kekurangan uang Afgan? Hah? Apa lo kekurangan uang sehingga mengadakan resepsi saja tidak mampu? Sungguh, kasihan sekali nasib Agnes. " Ejek Alfan.
Seketika Afgan menatap kakaknya kesal. Sedangkan Alfan hanya terseyum mengejek membalas tatapan adiknya.
" Afgan, apa kau gila? Kenapa kau menikahi Agnes seorang Tuan Putri dari Filex Alexander sekaligus Drax Drexy dengan cara seperti itu, hah? Apa kau tidak tahu seperti apa keluarga mereka? " Tanya Ryan yang tidak habis pikir dengan cara kerja otak anaknya.
" Aku tahu Ayah! Dan aku juga sudah meminta restu pada mereka berdua sebelum mengajak Agnes ke Indonesia. " Jawab Afgan.
" Ya tapi kenapa kau menikahi Agnes dengan cara seperti itu Afgan? Apa kau tidak kasihan pada Agnes? Impian seorang wanita pastilah ingin merayakan pernikahannya secara besar-besaran. Apalagi ini Agnes, perempuan yang sudah terbiasa dengan yang namanya kemewahan yang bukan abal-abal. "
" Iya Ayah aku tahu. Tapi aku melakukannya juga agar dia segera menjadi menantumu. " Celetuk Afgan.
" Apa maksudmu? " Tanya Ryan yang tidak mengerti.
" Tunggu, maksud lo?- " Ucap Alfan menggantung karna sedang mengingat-ingat sesuatu.
" Jadi lo rebut Agnes dari Regata Afgan? " Pekik Alfan ketika sudah mengingat tentang Video Viral yang di unggah oleh Rey dalam akun media sosialnya.
" Ya...Bisa di bilang seperti itu. " Balas Afgan cuek.
Sementara Ryan hanya bisa diam karna kehabisan kata-kata. Anaknya merebut calon istri orang? Dan memisahkan mereka setelahnya menikahi gadisnya? Sungguh- Ah..Angkat tangan dia.
" Afgan, sebaiknya kau susul istrimu dan usir dua orang itu supaya pergi dari kamarmu. Kau dan Agnes istirahatlah! Karna perjalanan kalian yang panjang sudah pasti sangat melelahkan. Kasihan Istri dan anakmu yang sedang di kandungnya. " Ucap Ryan.
" Hem. " Balas Afgan.
Tanpa menunggu lama, calon dady tampan itu pun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
" Ayah, apa kita tidak akan mempublikasikan hubungan mereka? " Tanya Alfan setelah kepergian Afgan.
" Entahlah! Ayah akan mendiskusikannya dengan Bunda dulu. " Balas Ryan sambil memijit pelipisnya yang pusing.
Alfan hanya mengangguk menurut. Seketika dia menghela nafas dan menghembuskannya secara perlahan.
**
Sementara di kamar Afgan, terjadi perang antara ibu dan anak yang sama-sama saling mengusir satu sama lain.
Afgan sudah menyuruu ibu dan adik sepupunya itu untuk keluar dari kamarnya sementara Jennie kekeh ingin berbincang banyak dengan Agnes tanpa ingin di ganggu Afgan.
Dan terjadilah aksi saling mengusir di antara keduanya.
Sementara Agnes dan Fani hanya bisa menengok pada siapa yang berbicara tanpa ikut ke dalam pembicaraan itu.
" Bun, bunda pergilah! Aku dan Agnes ingin istirahat! " Ucap Afgan kesal dengan sikap ibunya yang tidak pengertian.
" Tidak! Lagian Agnes gak lelah kok, ya kan sayang? Tuh, iya katanya. " Balas Jennie yang bertanya dan di jawab oleh sendirinya.
" Bunda!! " Geram Afgan.
" Afgan!! " Geram Jennie yang ikut-ikutan.
" Hei hei sudahlah! " Lerai Fani yang hanya di dapati tatapan tajam oleh keduanya.
" Hehe..Yaudah silahkan lanjutkan kembali! " Ucap Fani yang seketika angkat tangan.
Agnes hanya bisa tersenyum kecil melihat perdebatan antara suami dan ibu mertuanya.
Saat sedang sibuk melihat kedua orang yang sibuk mengusir satu sama lain, tiba-tiba perut Agnes serasa di aduk-aduk dan rasanya sangat mual.
" Ewekh..! " Ucap Agnes yang seketika menutup mulutnya. " Dimana kamar mandi? " Lanjutnya dengan suara tertahan.
Seketika semua mata tertuju padanya. Dan Afgan pun seketika ingat jika Agnes sedang hamil. Dengan cepat dia meraih kedua bahu Agnes dan menuntunnya menuju kamar mandi.
" Uwekhh...Uek..Wekh..! " Terdengar suara Agnes yang sedang muntah dengan di temani Afgan di dalam kamar mandi sana.
Sementara diluar Fani dan Jennie saling tatap. Mereka tidak ingat jika Agnes sedang hamil.
Beberapa saat kemudian Agnes keluar dari kamar mandi dengan dituntun Afgan.
Wajah perempuan itu sangat pucat sekarang.
Agnes berbaring dan menyandar di tempat tidur dengan Afgan yang sudah menarik dan menutupi dirinya dengan selimut sampai perut.
" Kau baik-baik saja? " Tanya Afgan cemas.
" Hem, aku baik. " Balas Agnes sambil tersenyum cantik. " Eum, kak. Aku mau wi-
" Tidak ada! " Potong Afgan cepat. Dia sudah tahu apa yang istrinya inginkan.
Dan harus berapa kali juga Afgan jelaskan bahwa minuman bersoda itu tidak baik untuk kandungan.Tapi Agnes, perempuan itu masih saja kekeh akan keinginannya.
Agnes yang mendengar penolakan suaminya seketika cemberut. Dia ingin itu, tapi lagi-lagi suaminya tidak membiarkan dia meminumnya.
" Kak. " Rengek Agnes.
" Agnes! " Balas Afgan sambil menatap istrinya tajam.
" Huh, dasar pelit! " Ucap Agnes kesal sambil memalingkan wajahnya dari Afgan.
" Ha..Bukannya pelit Agnes. Tapi itu tidak baik untuk anak kita! " Jelas Afgan berusaha memberi pengertian.
Agnes hanya diam sambil cemberut tanpa menatap suaminya. Dalam hati, dia berkata:
" Kalau pelit ya pelit saja, jangan menggunakan anakku sebagai alasan! "
Jennie dan Fani saling tatap. Kemudian mereka tersenyum saat mengingat jika Agnes hamil dan kemungkinan saja perempuan itu sedang mengidam.
Dengan perlahan, Jennie mendekat dan mendorong jauhkan Afgan dari Agnes.
" Sayang, apa kau menginginkan mangga muda? " Tanya Jennie sambil mendekatkan dirinya pada sang menantu.
" Mangga? " Ulang Agnes sambil menatap ibu mertuanya bingung.
" Iya, mangga. Mangga muda itu seger loh sayang. Kalo kamu mau, nanti bunda suruh pelayan buat pelik dari pohonnya langsung. " Tawar Jennie.
" Wah, mau mau bun! " Pekik Agnes senang.
" Oke. Sebaiknya kamu istirahat sebentar yah! Ini masih terlalu pagi, dan gak baik juga kalau pagi-pagi kamu makan mangga. Jadi nanti siang, baru bunda kasih kamu mangga mundanya. Yah! " Bujuk Jennie sambil mengelus lembut rambut Agnes.
" Oke bun! " Balas Agnes dan mulai memiringkan badannya untuk tertidur.
Jennie tersenyum. Kemudian dengan perlahan dia melangkah menjauh dan pergi bersama Fani dari kamar Afgan untuk memerintahkan pelayannya supaya memetik mangga pesanan Agnes.
Afgan tersenyum kecil ketika melihat Agnes yang sudah tertidur dan bisa ibunya bujuk dengan mangga muda.
Sepertinya keputusannya membawa Agnes ke Indoneisa benar. Disini ada banyak orang terutama ibunya yang sudah berpengalaman dalam menghadapi wanita hamil.
Dan semoga saja ibunya itu bisa selalu membujuk Agnes jika menginginkan hal-hal yang tidak baik untuk kandungannya seperti meminum minuman itu.
_-_
Tbc!