
Setelah berbincang cukup lama dengan Jennie, akhirnya Agnes pun keluar dari kamar mertuanya dan berjalan menuju kamarnya sendiri.
Namun saat di perjalanan, ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk.
" Siapa ini? " Gumam Agnes yang langsung membuka pesan dari orang yang tidak di kenalnya.
+6285......
Pergi ke dapur! Disana ada pintu rahasia, masuklah jika kau ingin mengetahui segala tentang masa lalu suamimu!
" Tidak perlu pusing memikirkan siapa ini, karena aku tahu itu kau. Ayah mertua, " Ucap Agnes sambil tersenyum sinis.
" Ha..Okay! Aku akan menemuimu sekarang, karena aku yakin masih banyak rahasia yang tertutup rapi tentang si gold prince itu. " Gumam Agnes yang langsung pergi menuju dapur.
Saat berada di sana, Agnes berhenti dan meneliti semua sudut yang berada di ruangan tersebut.
Seketika dia tersenyum kecil saat melihat tombol merah kecil yang menempel tepat di pinggir lemari es yang berada di sudut ruangan.
" Ck, Ayah terlalu bodoh untuk menyembunyikan ruang rahasia. Ini terlalu mudah untukku temukan, atau mungkin karena IQ di atas rata-rata yang ku miliki. " Gumam Agnes membanggakan diri sendiri.
Tanpa menunggu lagi, Agnes pun berjalan dan menekan tombol kecil itu. Dan terbukalah lorong menuju ruangan bawah tanah yang tampak gelap.
" Wow, dark. I like it! " Ucap Agnes pelan.
Agnes mengambil ponselnya dan menyalakan senter untuk menerangi jalannya.
Bukan karena takut karena gelap, tapi dengan kondisi Agnes yang sedang hamil membuatnya lebih berhati-hati lagi dalam melangkah.
Cukup lama Agnes berjalan melewati lorong gelap itu, hingga akhirnya dia berhenti tepat di depan dua orang pria yang sedang duduk memandanginya.
Karena gelap, Agnes tidak bisa melihat siapa kedua pria itu. Yang pastinya salah satunya adalah Ryan.
Tapi yang satunya?
" Kak Afan? " Ucap Agnes saat melihat wajah Alfan lah yang ia dapatkan saat ia mengarahkan senter ponsel miliknya.
Alfan tersenyum, " Kemari Agnes, duduklah! Kita bicarakan ini baik-baik, " Titah Alfan.
Agnes hanya memasang wajah biasanya dan terduduk tepat di depan mereka berdua. Dia sudah seperti seseorang yang sedang di intrograsi sekarang.
" So, to the point saja padaku. Ayah, " Ucap Agnes yang membuat Ryan tertawa.
" Haha..Rupanya kau pandai menebak juga ya, menantuku. " Balas Ryan yang sudah menampakkan wujudnya karena lampu ruangan itu yang sudah menyala terang.
Agnes tersenyum sinis, " Kau terlalu meremehkanku, ayah. " Ucap Agnes.
Ryan berdecis, " Cih, kau terlaku sonbong nak. Ingat, kesombongan itu tidak baik untuk manusia! Karena- "
" Di atas langit masih ada langit, bukan begitu. Ayah? " Potong Agnes sambil menyeringai.
Ryan menatap Agnes kesal, sementara Alfan hanya diam dan memperhatikan setiap gerak gerik Agnes dan Ryan.
" Aku sudah menebak ini akan terjadi, maka dari itu aku sudah menyiapkan mentalku sejak awal. " Ucap Agnes yang membuat Ryan menatapnya heran.
" Apa maksudmu? "
" Kau mau mengujiku, bukan? Maka ayo! Kau bisa melayangkan beberapa pertanyaan padaku tentang apa alasan aku bersama Kak Afgan, dan apa alasanku mengorek masa lalu kak Afgan. " Jelas Agnes panjang lebar yang membuat raut wajah Ryan menjadi berubah karena rencananya yang dapat di tebak oleh Agnes.
" Sial, ternyata perempuan ini cerdik juga. " Batin Ryan.
" Bukan Queen namanya jika tidak cerdik dalam mengatasi masalahnya, ayah. Aku tahu kau dan putra sulungmu itu sudah tahu tentang aku yang- " Agnes menggantung ucapannya sambil menopangkan kaki kanannya ke kaki kirinya.
" Mafia! " Lanjutnya sambil menyeringai penuh kemenangan.
" Youps, aku mafia. Kenapa? Apa kalian masih memiliki niatan untuk memusnahkan dunia hitamku, em? Tidak akan bisa! Selama aku masih hidup, tidak akan ku biarkan kalian mengusik organisasi ku! " Ucap Agnes penuh penekanan.
Alfan hanya bungkam, sedangkan Ryan terus menatap Agnes tajam.
" Apa maumu sebenarnya? " Tanya Ryan sekerika.
Agnes menatap Ryan, kemudian dia tertawa hambar yang di akhiri dengan tatapan tajamnya pada sang ayah mertuanya itu.
" Mau ku? Jelas ketenangan! Aku hanya ingin hidup dengan tenang tanpa harus kalian usik seperti ini, bisa? " Jawab Agnes.
" Ketenangan yah? Justru kau yang sudah mengusik ketenangan keluarga kami! Kau datang sebagai istri Afgan hanya untuk melancarkan aksimu bersama si Regata itu, " Ucap Ryan kesal.
" Owh, rupanya kau sudah tahu banyak ya Ayah. Tapi tenang! Aku dan Regata tidak akan mengusik orang yang tidak mengusik kami terlebih dahulu. " Balas Agnes.
" Jika kalian masih sayang nyawa, maka menyingkirlah dari jalan kami! " Lanjutnya memperingati.
Ryan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
" Aku tidak akan membiarkan kau menghancurkan hidup putraku lagi Agnes! Jika kau hanya mempermainkan putraku saja, maka sebaiknya kau pergi sekarang sebelum cinta Afgan semakin besar untukmu. " Ucap Ryan penuh penekanan.
Agnes mengangkat sebelah alisnya, kemudian dia tertawa tidak percaya dengan Ryan yang menganggapnya hanya mempermainkan Afgan.
" Hah, kau terlalu negative thinking padaku Ayah. Jujur, aku memang sedang berusaha menerima kak Afgan sebagai suamiku, dan aku juga tidak akan meninggalkannya karena aku tidak ingin anakku lahir tanpa seorang Ayah. " Ucap Agnes jujur.
Ryan menatap Agnes penuh selidik, " Apa kata-katamu itu bisa aku pegang? Awas saja, jika- "
" Oh come on! Aku sungguh sudah mencintainya, Ayah. " Aku Agnes refleks.
Deg.
Agnes melamun, dia baru menyadari apa yang baru saja dia ucapkan tadi.
" Apa, cinta? Apa benar aku sudah mencintainya? " Batin Agnes.
Ryan tersenyum lega, akhirnya cinta putranya tidak bertepuk sebelah tangan lagi.
Jujur saja, Ryan sama sekali tidak membenci Agnes. Dan dia juga menerima menantunya yang adalah seorang mafia, karena dia juga sadar mengenai siapa anaknya dulu.
Dia hanya takut Agnes hanya mempermainkan putranya saja, maka dari itu dia bersikap sedikit keras pada menantunya ini.
" Baiklah, sepertinya ucapanmu bisa di percaya. Jika memang kau tidak akan meninggalkan putraku, aku akan menceritakan semuanya padamu. " Ucap Ryan yang membuat Agnes menatapnya serius.
" Tapi jika kau memang berniat mempermainkan putraku, maka aku akan mengurungmu di rumah ini selamanya hanya agar bisa terus bersama dengan putraku! " Lanjut Ryan yang malah membuat Agnes tertawa.
" Sungguh lucu. Jika pun memang aku memiliki niatan seperti itu, kau tidak mungkin bisa mengurungku. Apa kau lupa siapa aku? " Tanya Agnes sambil menatap Ryan gelik.
Ryan memutar bola matanya malas, " Rupanya kau memang sangat mengerikan ya, Agnes. Bahkan kepolosanmu yang dulu sudah terhapus dengan kekejamanmu yang sekarang. " Ucap Ryan yang membuat Agnes menatapnya bingung.
" Dulu, apa maksudmu? "
Ryan menyeringai, " Rupanya kau tidak ingat aku ya, Agnes. Sungguh, apa kau tidak ingat pernah bertemu denganku sebelum kau terjun ke dalam dunia hitamu dulu? " Tanya balik Ryan yang membuat Agnes berpikir keras.
Agnes kembali menatap Ryan dengan mata membulat, " K-kau? "
" Yes, it's me! Ryanandra double A, " Ucap Ryan sambil tersenyum tampan.
" Gila. Kebetulan macam apa ini, Paman? "
_-_
Tbc!