King Mafia Vs Bad Girl

King Mafia Vs Bad Girl
Akhir kisah.



Saat Saguna berbalik badan terlihat didepannya sudah ada Max menatap dirinya.


"Max, kau darimana? sudah seperti setan aja." sungut Saguna.


"Aku dari kamar nge-charge handphone, habis baterainya. kau sudah tau kejadian disana?" tanya Max, Saguna mengangguk.


"Badebah itu, ingin bermain denganku." sungut Max lagi.


Max langsung menuju ke penjara yang didalamnya ada Genta, sedangkan Saguna frustasi melihat sikap Max yang merasa tidak ada masalah.


"Jelas-jelas aku panik nyariin dia, ternyata dia dikamar? nge-charge handphone? arrghh pelayan itu ternyata yang bermain denganku, lihat saja." Saguna langsung mengikuti Max.


Max membuka kuncinya dengan emosi lalu bughh! Bogeman kuat melayang ke wajah Genta membuatnya tersungkur kesudut ruangan.


"Dimana Alex? kau bermain denganku?"


"Alex berada disana, aku sudah menguburnya. kenapa kalian tidak percaya? apa anggota kalian belum bisa menemukan nya?" tanya Genta.


"Disana hanya ada 3 jasad wanita dan sebuah teka-teki. Apa kau ingin berkata kalau Alex telah terpecah dan menjadi tiga wanita?" sungut Max.


"Wanita?" tanya Alex.


"Teka-teki?" tanyanya lagi dengan mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu wanita dan teka-teki?"


"Tunggu, berapa tadi? tiga?"


"Yah, dia aku juga yang membunuhnya. salah satu dari mereka adalah kekasih dari Alex, dua lainnya temannya. Identitas mereka di internet hanya sebuah kupu-kupu malam. Kalian bisa menemukan jasad mereka?"


"Sebelum aku kesini menemui kalian, aku membunuh mereka karena ingin menyebarkan berita tentang kematian Alex, hingga aku menguburnya tidak jauh dari peti jasad Alex. Hubungi mereka, jangan ikuti teka-teki itu, karena itu aku buat untuk kawanan Alex yang masih bersekutu. di pohon itu banyak jebakan, segeralah hubungi mereka." perintah Genta dengan wajah bersungguh-sungguh.


"Apa kau tidak berbohong?" tanya Saguna.


"Dia serius, hubungi Amar sekarang." perintah Max.


"halo, Saguna."


"Kalian dimana? hentikan perjalanan kalian sekarang juga."


seketika langkah mereka langsung terhenti, dan mendengar penjelasan dari Saguna.


"Benarkah begitu?"


"tetapi kenapa hanya jasad wanita itu yang bau busuk sedangkan kami tidak mencium bau busuk yang lainnya?" tanya Amar.


"Bisa kau jelaskan perihal itu?" tanya Max kepada Genta.


"Alex aku kubur terlalu dalam, 100 meter dari peti wanita itu adalah jasad Alex."


"Amar, segera lakukan."


mereka langsung menggali tempat itu dan sudah cukup dalam tetapi mereka tidak melihat ada tanda-tanda peti disitu, sedangkan suasana semakin gelap.


"Teruslah berusaha." perintah Amar.


"Ini, ada peti, Amar."


"buka."


"Tuan muda, kami menemukan satu peti dan iya dia adalah jasad Alex, dan jasadnya sedikit hancur, tetapi wajahnya masih bisa dikenali." jelas Amar lewat telepon.


"Bawa dia kesini, dan kubur kembali wanita itu." perintah Max.


"Maafkan aku."


Max melepas tangannya dari leher Genta, dan melemparkannya kesudut ruanganan lainnya.


"Saguna, cambuk dia sebanyak 300 kali lalu masukkan dia lagi keruangan terlarang itu, tempat dimana Deka mati." perintah Max.


Saguna mengangguk lalu membawa tubuh Genta menuju tempat eksekusi, Genta hanya bisa pasrah karena dia emang melakukan kesalahan yang sangat fatal. jika mati dia hanya ingin mati ditangan Mexmar.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Zoya.


"Mereka udah berhasil nemuin jasad Alex, dan Genta telah mendapatkan hukumannya."


"Genta berkata jujur?" tanya Zoya.


Max mengangguk lalu duduk dengan tidak berdaya, dia mengingat tempat ini dengan kenangan bersama lainnya, dia merindukan ayahnya, kekerasan ayahnya. dan juga Volker yang selalu menjaganya dari kecil.


"Aku menyayangimu, aku akan selalu berada disini untukmu." Zoya memeluk suaminya.


Max berasa sangat tenang berada dipelukan istrinya.


Hingga hari demi hari berlalu, jasad Alex telah dibuang dan menjadi umpan buaya. Max tidak Sudi membuatkan pemakaman untuknya. semua berkumpul diruangan utama mansion Mexmar.


"Amar, kau dari mana saja? aku baru melihatmu." teriak Khansa saat melihat kehadiran Amar.


Amar yang ditanyain seperti itu meneguk salivanya karena mendapatkan tatapan maut dari Erlan, lalu dia tersenyum kepada Khansa.


"Iya, Abang banyak urusan. kangen ya?" tanya Amar mendekat ke Saguna agar dia mendapat perlindungan.


Erlan langsung menarik tangan Khansa hingga ia terjatuh dipangkuan Erlan dan memeluknya, Khansa melotot lalu berusaha pergi tetapi tidak bisa dan hanya cengengesan.


"Kau akan menerima hukuman mu." bisik Erlan.


"Sayang, apa kau begitu kejam pada wanitamu?" bisik Khansa lagi.


"Iya, karena kau berani menggoda pria lain dihadapanku."


"jadi kalau dibelakangmu, boleh?" tanya Khansa.


"Khansaaa." teriak Erlan seperti kucing imut.


semua yang mendengarnya tertawa, Baby twins sudah pandai berjalan dengan langkah terbata-bata ia menghampiri mama dan papanya.


"Eh, sayang papa." ujar Max menggendong keduanya.


"Aku sayangnya siapa?" tanya Zoya.


Max tersenyum dan langsung memeluk istrinya dan Elza digendong oleh Zoya, Fayza mengelus perutnya berharap ia segera diberi baby imut seperti Elza dan Zidran.


Disisi lain Haider daritadi memperhatikan Verin, ia kesal karena Verin asik dengan ponselnya.


"Haider." teriak Verin dan berlari mengejarnya, Haider telah berlari jauh dengan mengecek handphone Verin, karena dia sedari tadi hanya asik dengan ponselnya.


"Balikin ponselku, Haiderrrr."


Tamat.


Wah akhirnya tamat juga ya, maaf banget kalau endingnya nggak sesuai ekspektasi para readers. Terimakasih yang sudah mendukung karya ini terus sampai sejauh ini. Lope lope deh buat readers yang baik hati❤️❤️❤️


Sampai berjumpa di kisah selanjutnya 🤗🤗