King Mafia Vs Bad Girl

King Mafia Vs Bad Girl
Kelanjutannya!



Zoya terus mendesah dengan permainan yang dilakukan oleh Max yang seperti sudah sangat ahli dalam hal itu, Zoya yang baru pertama kali tentu saja tidak dapat mengimbangi permainan Max.


"Aaahhhh,"


"Apa kau sangat menikmati nya, Sayang?" Tanya Max saat memberhentikan sebentar permainan nya.


"Apa kau sangat ahli dalam hal ini?"


"Tentu, aku sudah belajar banyak biar membuat mu puas!" Ujar Max mengecup bibir Zoya.


"Dengan wanita lain?" Tanya Zoya kaget.


"Tidak, Sayang!"


Lalu Max melakukan nya lagi hingga kedua nya sampai di puncak gunung Krakatau, salah bukan itu maksudnya.


Keduanya berbaring lemas, Max berbaring di samping tubuh Zoya dan memeluknya erat meletakkan kepalanya di tengkuk leher Zoya.


"Makasih, Sayang!" Ujar Max.


Zoya tidak menjawab hanya membalas memeluk Max hingga keduanya terlelap sampai pagi tanpa menghiraukan keadaan diluar sedang kacau karena musuh bertambah banyak untuk menghancurkan Mexmar.


Lawan kira Mexmar akan lengah karena sedang melakukan acara besar ternyata dugaan mereka salah besar tentunya Mexmar tidak segegabah itu untuk membiarkan lawan menghancurkan dalam sekejap.


Gerxas tidak ikut andil dalam perlawanan itu, dan hanya menonton dari jarak jauh karena Mafia lain yang sekutu dengannya yang turun tangan.


Hingga pertarungan itu berakhir dan Mexmar mampu mempertahankan kekuatan mereka.


Waktu terus berlalu hingga matahari telah menampakkan dirinya yang sangat menawan menyapa seluruh makhluk sebagai awal kehidupan baru, sepasang insan yang sedang tertidur pun akhirnya terbangun karena cahaya matahari memasuki sela kamar dan menerangi wajah mereka.


Zoya mengucek kedua matanya dan terbangun melihat sekitar dan pandangannya terpaku pada Max yang masih tertidur dengan memeluk dirinya, ketampanan yang berlipat ganda dan itu sekarang menjadi milik Zoya seorang.


Zoya mengusap wajah Max dan menyingkirkan rambut yang menghalangi mata nya, Max yang sadar ada pergerakan langsung membuka matanya dan melihat istri nya sedang menatapnya.


"Hmm, kenapa? Mau lanjut lagi?" Tanya Max tanpa dosa dengan suara khas bangun tidur.


Zoya langsung melepas pelukan Max dan bangkit karena tidak ingin melakukan nya lagi dipagi seperti ini, nyeri yang ia rasa saja bahkan belum hilang bagaimana mau ditambah berkali-kali lipat rasa nyeri.


Zoya menurunkan kakinya hendak berdiri, "Awww," ringis Zoya dan kembali duduk.


Max yang melihat nya segera mendekat dan terlihat khawatir, "Ada apa, sayang?"


"Gak tau, nyeri banget!"


"Apanya yang nyeri?" Tanya Max polos.


"Apanya? Ya karena ulah kamu tadi malam lah!" Ketus Zoya.


Max langsung menutup mulutnya dan memperhatikan Zoya dari atas hingga bawah yang tubuhnya ditutupi oleh selimut, "Buka dong, selimut nya biar aku lihat,"


"Gak, palingan juga bentar lagi hilang nyerinya! Aku mau mandi dulu, kamu terserah mau mandi atau tidak," ketus Zoya.


"Mandi bareng!" Rengek Max.


"Sudah besar," teriak Zoya yang sudah berada di dalam kamar mandi.


Max tertawa dan senang karena berhasil memiliki Zoya sepenuhnya, lalu dia mengambil ponsel disebelah nya yang terus berdering.


"Hmmm," dehem Max.


"Wah, pengantin baru susah banget ya dihubungi!" Ledek Saguna.


"Erlan, ini Max! Apa kau ingin bicara?" Tanya Saguna di sebrang telephon.


"Sampaikan saja, bilang jangan terlalu ganas nanti bisa di tendang Zoya!" Ujar Erlan.


"Oke-oke! Ke intinya aja langsung, Paman Omar kesayangan dirimu sedang berada dalam IGD karena kritis akibat pertarungan tadi malam, Paman Brees selamat dan tidak ada luka, namun ayahku terluka parah begitupun dengan Will, yang lain nya hanya luka ringan saja!"


"Sialan, siapa yang berani melakukan nya?" Teriak Max tersulut emosi.


"Mafia dari negara X, sekutu dengan Gerxas! Dan satu Mafia dari negara ini yang menyerangku dahulu juga sekutu dengan Gerxas!" Jelas Saguna.


"Aku sebenarnya tidak ingin memberitahukan nya padamu, karena mengingat ini adalah hari bahagia kalian berdua, tetapi kau harus tau informasi ini karena kau adalah penerus Mexmar!"


"Dan untungnya Erlan datang tepat waktu memberikan bantuan, dan membawa pembunuh bayaran yang sangat bagus sekitar 20 orang dan berhasil membantu kekurangan anggota kita! Karena tidak semua berjaga diluar, perintah dari tuan besar harus banyak yang menjaga didalam gedung!"


"Badebah kau Gerxas, seharusnya sudah kubunuh kau sedari awal! Setelah kau membunuh ibuku dan sekarang kau ingin membunuh paman Omar? Matilah kau tua bangka terkutuk, dendamku harus dituntaskan segera!" Ujar Max dengan emosi dan manik mata yang sudah memerah.


Mendengar kemarahan Max yang begitu besar Saguna langsung mematikan sambungan teleponnya.


Zoya yang baru selesai mandi dan keluar dari kamar mandi melihat Max yang sudah berubah ekspresi dan mata yang memerah langsung berjalan menuju Max dan duduk didekatnya.


"Max, ada apa?" Tanya Zoya berhati-hati.


Max langsung menatap Zoya dan berusaha mengontrol emosinya dan memegang kepalanya yang pusing karena berusaha dengan paksa mengontrol emosinya agar tidak menakuti Zoya.


Zoya bingung harus berbuat apa dan langsung menghambur memeluk Max, Max yang kaget akan perlakuan Zoya namun emosinya langsung mereda.


"Aku gak apa-apa, Sayang!" Ujar Max membalas memeluk Zoya.


Zoya yang merasa emosi Max sudah mereda langsung melepas pelukannya dan menatap Max butuh penjelasan.


"Max, apa aku boleh mengetahui nya?"


"Gak ada apa-apa!"


"Max, kau tahu aku wanita seperti apa bukan? Jangan berusah keras untuk meredam amarahmu demi aku, aku tidak akan ketakutan! Dan aku ingin mengetahui semuanya tentang keluargamu dan juga masalah yang terjadi, bukankah aku sekarang sudah resmi menjadi nona muda?"


"Lagian, nona muda mau berbuat apa kalau sudah mengetahui nya?" Tanya Max lembut menatap Zoya.


"Tuan muda, istrimu bisa melakukan apapun!"


"Kau emang istri tuan muda yang tangguh!" Ujar Max gemas dan memeluk Zoya.


Zoya kembali melepaskan nya dan menagih penjelasan dari Max.


"Jelasin!"


"Hmm, paman Omar lagi di IGD sedang kritis karena di acara kemarin musuh pada terang-terangan menunjuk kan perlawanan!" Ujar Max kembali emosi.


"Apa kau sekarang ingin kerumah sakit?"


"Iya, kau disini dulu ya!" Pinta Max.


"No, aku mau ikut! Dan aku mau tau semua keluarga Mexmar!"


"Baiklah, bersiap-siaplah aku ingin mandi dulu!" Ujar Max dan bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.


Zoya penasaran sebenarnya apa yang membuat Max jadi sangat pemarah dan sekejam itu, dan sebenarnya siapa Gerxas? Yang menjadi musuh terbesar nya untuk membalaskan dendam nya itu. Apa masalah Gerxas sebelumnya hingga Max menjadikannya sebagai sasaran terus menerus.


Zoya langsung memakai bajunya dan bersiap-siap, sekalian mengambil kan pakaian untuk Max kenakan. Setelah itu Zoya menghias wajahnya dengan menggunakan make up tipis.


Bersambung ...


Jangan lupa dukungannya yaaa🙏 semoga suka dengan part ini🥰❤️


hai author mau rekomendasi kan cerita yang juga menarik nih.