
Zoya mengajak Elena untuk keluar dari rumah sakit dan membicarakan semuanya, sedangkan Max yang melihat Zoya pergi begitu saja ingin mengikuti nya namun ditahan oleh Brees.
"Biarkan, sepertinya Zoya bisa mengatasi Elena!" Ujar Brees.
Di sebuah taman dari rumah sakit tersebut terdapat dua wanita yang sedang berbicara dengan serius.
"Sebelumnya, apa kau telah mengenalku?" Tanya Zoya dengan nada lembut.
Elena mengangguk dan menatap Zoya, "Aku fans kak Zoya dan bahkan aku tidak percaya kalau kakak sekarang menjadi istri dari tuan muda Mexmar, dan aku senang karena bisa melihat kakak secara langsung!"
"Apakah itu benar?" Tanya Zoya tidak percaya ada seseorang yang mengidolakan nya.
Zoya mengerutkan keningnya melihat tingkah Elena yang tidak menjawab pertanyaan nya malah sibuk mengacaukan isi tas nya mencari sesuatu. Setelah Elena mendapatkan sesuatu dalam tas nya langsung dikeluarkan nya dan menunjukkan nya kepada Zoya.
"Ini!" Ujar Elena memperlihatkan sebuah kotak yang didalam nya isi nya semua tenang Zoya.
Dari baju, gantungan kunci atau apapun itu semua bergambar wajah Zoya dan juga tertulis namanya, dan juga ada sebuah album video saat pertandingan Zoya di negara X ataupun di negara Y, Zoya sudah sekitar 15 kali mengikuti lomba seperti itu dan selalu memenangkan nya. Namun Zoya sendiri tidak tahu kalau nama nya cukup terkenal di negara Y dan bahkan ada yang mengidolakan nya.
Zoya mengambil nya, "Ini kau simpan?"
"Iya, aku mau seperti kak Zoya! Maka dari itu aku mohon ajarin aku ilmu bela diri!" Ujar Elena memohon.
"Hmm apa kau benaran yakin untuk bergabung di Mexmar? Ini bukan duniamu Elena, kau masih muda dan kau adalah wanita, pikirkan itu baik-baik!"
"Aku yakin kak, aku sudah memikirkan nya sejak lama! Dan aku baru berani mengatakan nya karena di Mexmar sudah ada wanita dan itu kakak, idola Elena!" Ujar nya dengan bersungguh-sungguh.
"Kalau begitu, aku akan mengajarimu!" Ujar Zoya dengan tersenyum.
Elena yang mendengar nya langsung loncat kesenangan dan berhambur memeluk Zoya.
"Terimakasih, kak!"
Zoya membalas pelukan nya, datanglah Max dan langsung menghunuskan tatapan tidak bersahabat karena Zoya dipeluk dengan orang lain.
"Hmmmm!" Dehem kuat dari Max.
Elena yang mendengar nya langsung melepaskan pelukan nya dan menatap kebelakang dan ternyata adalah tuan muda, sedangkan Zoya sudah menduga kalau dia tidak suka kalau dirinya di peluk oleh orang lain walaupun itu wanita.
Apa lelaki itu tidak bisa jelas sedikit saja? Kenapa harus cemburu dengan wanita, sungut Zoya dalam hati.
Max menarik tangan Zoya dan merangkulnya lalu menatap Elena seperti memberitahukan kalau tidak ada yang boleh memeluk Zoya kecuali dirinya.
"Elena, apa pembicaraan kalian sudah selesai?" Tanya Max.
"Sudah tuan muda!" Jawab Elena canggung karena melihat kemesraan mereka berdua.
"Apaansih? Lepasin, ada Elena!" Ujar Zoya.
Namun bukan mendengarkan omongan Zoya malah semakin merapatkan rangkulannya hingga tubuh mereka sangat dekat sekali.
"Elena, kau masuk kedalam ya temani ibumu," pintah Zoya.
"Eh...oke kak!" Ujar Elena dan langsung pamit pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sayang, kau kenapa sih?" Tanya Zoya dengan nada ditekan.
"Kenapa? Apa pantas seorang wanita yang sudah memiliki suami berpelukan dengan sembarang orang?" Tanya Max kesel dan langsung duduk di kursi dengan wajah menggemaskan.
"Apa? Jadi kau benaran cemburu? Itu wanita Max, bukan lelaki jadi wajar aja!"
"Enggak, nggak ada kata wajar!" Ujar Max menarik tangan Zoya dan jatuh dipangkuan Max.
Zoya yang ditarik merasa terkejut karena tidak siap dengan keadaan saat itu, Zoya terpaku dan menatap Max. Dengan cepat Max langsung melumatt bibir Zoya karena kesal dia tidak menyadari kesalahannya.
Zoya terpaksa melepaskan nya dan menatap Max tajam, "Banyak orang, Max!"
"Yaudah kalau begitu nanti malam tunggu aja hukumannya!" Ujar Max menurunkan tubuh Zoya.
"Hukuman apa? Emang aku salah apa?" Tanya Zoya protes.
Max tidak menjawab dan hanya menggenggam tangan Zoya menariknya untuk masuk lagi kedalam rumah sakit.
"Sayang, apa kau marah padaku?" Tanya Zoya berpura-pura baik karena tidak tau hukuman apa yang akan diberikan oleh Max.
"Hmmm!"
Zoya pasrah dan hanya mengikuti nya, terlihat dokter sudah keluar dari ruangan membuat Max mempercepat langkahnya menuju ruangan itu.
"Bagaimana? Bagaimana keadaan paman Omar?" Tanya Max.
"Hmmm, maaf tuan muda! Kami sudah berusaha dengan sebaik mungkin tetapi kita hanya menunggu keajaiban agar Omar segera sadar dari koma nya!" Ujar dokter pribadi Mexmar yang ikut andil dalam penanganan Omar.
"Gak bisa Max, semua perlu taktik yang baik untuk memenangkan nya! Sekali salah langkah maka kita yang hancur!" Ujar saguna.
"Benar yang dikatakan Saguna! Maaf bukan aku ingin ikut campur, tetapi aku setuju dengan yang diucapkan oleh Saguna! Max, jangan biarkan amarah yang mengendalikan dirimu!" Ujar Zoya.
Max menatap Zoya lalu kembali menatap semuanya, "Tim A B C, semua beraksi cari dimana keberadaan Dega sekarang juga! Aku mau besok dia harus sudah kita temukan!"
"Baik, tuan muda!" Ujar semua ketua Tim.
Semua ketua tim pamit undur diri dan segera menyamar mencari keberadaan Dega.
Sedangkan Zoya masih kebingungan siapa Dega yang dimaksud? Dan akhirnya Zoya memutuskan untuk bertanya saat sudah sampai di markas Mexmar, karena disini masih banyak mata-mata yang tidak diketahui.
"Aku ingin melihat paman sebelum kita pulang untuk membicarakan nya lebih lanjut!" Ujar Max datar.
"Baiklah," ujar dokter.
Max, Saguna beserta Brees sedang melihat kondisi yang mengenaskan dari paman Omar, terbaring tidak berdaya dan ntah kapan akan kembali sadar.
"Paman, kau tenang saja! Aku akan membawakan potongan tubuh mereka kehadapan mu untuk membalas kan dendammu!" Ujar Max gemetar emosi.
Saguna tidak dapat berkata apapun karena dia sangat terpukul saat ini, ia tidak mampu melindungi ayah nya sendiri, sedangkan Brees lebih merasa bersalah karena setiap pertempuran nyawa Omar selalu berakhir disini untuk melindungi Brees.
"Max, tepati omongan mu! Hancurkan Gerxas beserta keturunannya, balaskan dendam ibumu dan juga paman Omar!" Ujar Brees menahan amarah dan tangisnya.
Setelah itu mereka langsung kembali dari rumah sakit dan memerintahkan dokter untuk membawa tubuh Omar ke markas dengan peralatan yang lengkap, karena tidak aman kalau Omar dibiarkan di rumah sakit lebih lama.
Semua kembali menggunakan kendaraan masing-masing, di dalam mobil Zoya terdiam karena tidak berani bertanya apapun melihat keadaan Max saat ini, namun Max seperti biasanya dia selalu mencoba menahan amarahnya dan tetao bersikap baik terhadap Zoya.
Max melirik kekiri dan tersenyum ke arah Zoya, Zoya tau itu adalah senyuman yang ia paksakan agar tetap baik-baik saja di depan nya. Namun Zoya memberanikan bertanya soal Dega.
"Max, siapa Dega?" Tanya Zoya.
"Lelaki!"
"Aku tahu, tapi siapa Dega? Apa itu musuh juga?" Tanya Zoya lagi.
"Iya, dia adalah mantan anggota Gerxas dan kami mencarinya sebagai kunci mengalahkan Gerxas!"
"Apa aku boleh melihat gimana wajahnya?" Tanya Zoya.
"Untuk apa?" Tanya Max ketus.
"Apa kau juga cemburu saat aku ingin mengetahui lawanmu?" Tanya Zoya tidak percaya.
Max pasrah dan mengambil ponselnya lalu memberikan kepada Zoya dan kembali fokus menyetir. Zoya memperhatikan wajah lelaki yang ada di gambar dengan terkejut saat pikirannya langsung menuju kepada kejadian yang lalu.
"Max, aku mengetahuinya!" Ujar Zoya spontan.
Max yang mendengar nya langsung menginjak rem dan berhenti mendadak membuat Zoya hampir terkena serangan jantung.
"Max, kenapa kau sangat ceroboh?"
"Maaf, apa benar kau mengenalnya?" Tanya Max.
Zoya mengangguk pertanda kalau yang dikatakan Zoya benar adanya.
"Kenapa kau bisa mengenalnya?" Tanya Max lagi.
"Hmmm, sebenarnya itu kejadian tidak sengaja! Aku bertemu dengannya saat kau mengusirku pulang karena kalian ingin menyerang Gerxas, dia menyamar sebagai kakek pemungut sampah, dan memberiku saran agar menjauhi dirimu! Namun aku tidak mendengarkannya dan malah mengikuti kalian sampai ke markas Gerxax,"
"Terus, ya aku baru ingat dia orang yang sama yang terus mengikuti ku saat aku lari pagi di negara X namun dia tidak menyamar sebagai orang lain, hanya saja menutupi wajahnya dengan topi!" Jelas Zoya.
"Kenapa baru bilang sekarang, sayang?" Tanya Max gemes.
"Ya karena aku baru mengetahui nya kalau itu orang yang kalian cari!" Jelas Zoya lagi.
"Oke, sekarang kau ikut di dalam rapat dan pencarian Dega! Apa kau setuju?" Tanya Max.
"Aku setuju!"
Bersambung ....
semoga suka dengan part ini ya❤️
jangan lupa dukungannya ya berupa like, komentar, vote, bintang 5.
love you all❤️