King Mafia Vs Bad Girl

King Mafia Vs Bad Girl
Keberadaan Zoya



"Tuan muda, ini tidak benar! Aku yakin nona muda tidak ada disini, nona muda pasti masih hidup!" Ujar Amar menenangkan.


Mereka memaksa agar Max mau naik ke atas permukaan walau mereka tahu akan menerima akibatnya karena kehilangan tuan muda hal yang paling tidak diinginkan.


"Berani sekali kalian?" Bentak Max dengan melepas tangan mereka dari tubuh nya setelah sampai di permukaan.


"Maaf tuan muda, kami tidak ingin tuan muda kenapa-kenapa," ujar Amar menunduk.


"Arrrghhhh, sialan,"


Max langsung memasuki mobil nya tidak mengerti akan mencari kemana keberadaan Zoya dia merasa sangat menyesal dan bersalah.


"Zoya please jangan pernah coba untuk pergi!" Ujar nya memukul stir dengan sangat keras dan tanpa disadari nya air mata jatuh begitu saja.


Max masih di dalam mobil yang berada tepat di tepi laut tempat terjatuh nya pesawat memastikan kalau Zoya masih hidup dan membawanya kembali pulang.


Pikiran Max berputar pada kejadian dimana saat dia baru pertama kali bertemu dengan wanita itu yang membuatnya sangat sulit untuk melupakan nya, kejadian pertama kali Max ditampar oleh wanita dan pertama kali nya dia akrab dengan wanita.


Dengan obsesi nya untuk memiliki Zoya dan agar wanita itu tidak pergi jauh dari dirinya dengan menjadikan dirinya budak, tetapi Max yang sama sekali belum pernah berinteraksi dengan wanita menggunakan perasaan tentu saja tidak mengetahui kalau sebenarnya itu akan melukai Zoya.


Max terus menatap ke arah laut yang semakin lama semakin gelap karena waktu telah menunjukkan malam telah tiba.


Tokk...tokk


Seseorang mengetuk jendela mobil Max, Max langsung menoleh melihat siapa yang mengganggunya ternyata adalah Saguna, dengan malas Max membuka pintu dan keluar.


"Tadi ada kabar terbaru ada dua penumpang yang tidak menaiki pesawat, namun data mereka tidak diketahui apa benar itu Zoya dan Khansa atau orang lain, namun masih ada harapan untuk kita semua!" Ujar Saguna menjelaskan dengan menatap datar kedepan.


"Lalu dua penumpang itu apa telah ditemukan?" Tanya Max.


"Belum, jejak mereka gak diketahui bahkan di cctv tidak terlihat!"


Max langsung membuka bagasi mobil nya dan memberi tahu koper milik Zoya, "Ini milik Zoya, masih lengkap dan dalam nya utuh hanya rusak bagian luar aja,"


"Serius? Kalau gitu harapan kita udah gak ada lagi Max kau harus sabar!" Ujar Saguna menenangkan Max.


Max tidak memperdulikan omongan Saguna dia langsung kembali memasukan koper milik Zoya dan masuk ke dalam mobil melajukan nya ke apartemen Zoya.


...----------------...


Fayza telah menaiki pesawat menuju negara Y dengan pikiran yang kalut dan hati yang tidak tenang, Fayza ingin terus berada disana namun Saguna tetap menyuruhnya kembali ke negara Y karena mengkhawatirkan keadaan Fayza jika berada di negara X menerus.


Pandangan Fayza menatap kosong ke arah luar seperti melihat gumpalan awan membentuk senyuman indah milik sahabat nya membuatnya tanpa sadar kembali menetes kan air mata.


"Aku harus jelaskan apa sama mama mu Khansa?"


"Zoya..." Ujarnya lirih.


Hingga akhirnya Fayza tertidur karena telah merasa sangat lelah bukan raga melainkan jiwa nya sangat lelah saat ini, beberapa jam kemudian pesawat telah landing waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi.


Fayza seperti kehilangan arah dan tidak semangat, terlebih lagi semua orang didekatnya membicarakan tentang kejadian terjatuhnya pesawat yang ditumpangi kedua sahabatnya. Membuatnya ingin segera menjauh dan mencari tempat yang sepi.


Drrrttt...drrrttt...drrrttt


Bahkan suara dering ponselnya Fayza tidak mendengar nya karena pikiran nya yang saat ini sedang kosong dan tidak ingin diganggu.


Sampai 7 panggilan tidak terjawab, namun ponsel Fayza tidak berhenti berdering membuat Fayza sadar lalu memperhatikan layar ponselnya.


"Nomor asing, cihhh!"


"Seharusnya ini kau Zoya yang mengabarkan aku kalau kalian udah sampai disana!" Ujarnya lirih dan kembali memasukan ponsel nya ke dalam tas.


Lalu melihat supir pribadi nya telah menjemput langsung dirinya memasukinya, dan mobil berjalan dengan kecepatan sedang.


"Pak tambah kecepatan nya!" Perintah Fayza.


"Oh baik non,"


Tanpa butuh waktu lama Fayza telah sampai dirumah nya dan berjalan lunglai menuju kamar nya, dia hidup di apartemen sendirian karena ingin berusaha mandiri tidak ingin bergantung terus kepada kedua orangtuanya.


Fayza membanting dirinya di atas kasur menatap langit kamar dengan tatapan yang tidak dapat di artikan hingga ponselnya kembali berdering.


Drrrtttt...drrrtttt


Fayza dengan kesal mengambil ponselnya dan melihat yang telah mengganggu nya dan ternyata masih nomor yang sama membuatnya semakin kesal dan mengangkat telephonnya.


📞


"Halo!" Ujar Fayza dengan ketus.


Namun tidak ada jawaban dari seberang telepon sana.


"Cih, kurang kerjaan banget!" Ujar Fayza dan ingin mematikan sambungan telephon nya.


"Fayzaaaaaaa," teriak dari sebrang telepon.


Fayza mematung dan menjatuhkan ponselnya pikiran nya langsung ke Khansa, lalu menutup mulut nya menggunakan kedua tangan nya dan tanpa disuruh air matanya kembali jatuh.


"Halo, Fayza!" Panggil dari seberang telepon.


Fayza langsung mengambil ponselnya kembali dan mendekat kan ke telinga nya untuk memastikan kalau itu benar suara Khansa.


"Kha... Khansa? Ini kau benar Khansa?" Tanya Fayza dengan gemetar dengan air mata yang terus mengalir.


"Iya, maafin kami telat memberi tahumu! Pasti kau sangat terpuruk saat mengetahui pesawat itu jatuh kan? Kami baik-baik aja Za, kau jangan sedih begitu ya, sekarang kita video call ya!" Ujar Khansa dan mengalihkan telepon nya ke video call.


"Fayza lihat kami baik saja bukan?" Tanya Khansa dengan melambaikan tangan nya.


Namun bukan senang Fayza kembali menangis melihat mereka berdua.


"Kenapa makin nangis, Za!" Ujar Zoya tidak tega.


"Kalian kenapa tega samaku, ha?" Ujar Fayza dengan gemetar.


"Maafin kami ya, sebenernya kejadian nya panjang banget! Tetapi kami bersyukur atas kejadian itu kami selamat dari tragedi jatuhnya pesawat, kami ingin menghubungi dari awal cuma disini baru saja ada sinyal, jangan sedih lagi yaa lihat dong kami baik aja, gak ada yang kurang satupun!" Ujar Zoya menenangkan.


"Karena kalian berdua, aku maki-maki tuh petugas di bandara, gue maki-maki Max dan gue gampar sekuatnya!" Sungut Fayza saat sudah tenang.


"Apaa?" Teriak mereka bersamaan.


"Kenapa bisa ada, Max?" Tanya Zoya penasaran.


"Itu gak terlalu penting, yang penting ceritain dulu gimana kejadian kalian bisa gak jadi naik pesawat itu?"


"Oke jadi gini!"


Flashback


"Eh Zo perut ku sakit, bentar kesana dulu yuk!" Ujar Khansa menarik tangan Zoya.


"Kemana hei!"


"Ke toilet, mules banget!"


"Kita sebentar lagi pesawat lepas landas Za, kau bercanda ya?" Ketus Zoya.


"Sebentar doang, kalau di pesawat gak keburu!" Ujar Khansa terus menarik tangan Zoya.


Sampai mereka di toilet dan Zoya menunggu diluar dengan panik, namun yang di dalam sepertinya tidak ingin keluar sama sekali karena sudah hampir 15 menit Khansa tidak kelihatan juga.


Sampai dimana mata Zoya jatuh pada seorang wanita yang kelihatannya adalah seorang dokter lagi di kerubungi oleh sepuluh lelaki bertubuh tegap dan besar, membuatnya langsung berlari menghampiri mereka.


Khansa yang baru saja selesai dan keluar dari toilet menghampiri Zoya.


"Udah siap, Zo! Eh Zo kau mau kemana?" Tanya Khansa ikut mengejar Zoya.


Sampailah Zoya tepat di kerumunan mereka.


"Hei apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Zoya teriak.


Semua pria itu langsung menatap Zoya dan dokter wanita itu seperti ketakutan dan menyorot kan tatapan memohon pertolongan pada Zoya.


"Kau siapa? Berani ikut campur sama urusan kami?" Ujar salah satu pria dengan suara besar dan serak itu.


"Kenapa kalian menindas seorang dokter terlebih lagi dia wanita, apa kalian tidak memiliki rasa malu?"


"Cih, berani sekali kau mengatai kami, kau hanya wanita lemah seperti dia," ujar mereka menunjuk kearah dokter itu.


"Apa kau juga ingin bersama kami seperti dia, kami tentu sangat senang!"


"Selain tidak memiliki rasa malu ternyata kalian tidak memiliki otak!" Ujar Zoya.


"Sialan, dasar jalangg kau!" Ujar lelaki itu dan melayangkan tangan nya menampar Zoya.


Zoya yang sudah sangat mengerti langsung menangkisnya dan memutar tangan lelaki itu sampai berbunyi tulang yang retak, semua yang berada disitu merasa terkejut dan menatap Zoya tidak percaya sedangkan Zoya hanya menampilkan seringainya lalu meninju wajah lelaki itu hingga tersungkur jatuh.


"Berani sekali kau." Ujar teman nya dan menghajar Zoya dengan menendang ke arah perutnya.


Zoya dapat menghindar lalu kembali melayangkan Bogeman ke kepala lelaki itu, namun Zoya hanya sendiri sedangkan mereka ada sepuluh orang dengan badan yang besar membuat Zoya kewalahan.


Khansa memperhatikan dari jauh dengan menggigit jari ketakutan lalu menelan Saliva nya dengan susah payah menyaksikan itu semua terlebih lagi yang dihadapi Zoya adalah para lelaki.


"Aduh kenapa Zoya kau bisa berhadapan dengan lelaki jelek seperti mereka!" Ujar Khansa dan gemetar ketakutan dan melirik kesana kesini untuk meminta pertolongan namun tidak ada manusia lain terlihat disini kecuali mereka.


Zoya kehabisan tenaganya dan langsung mengeluarkan pistol milik Max yang selalu dia bawa saat ikut melawan komplotan mafia Gerxas tempo hari dan mengarahkan nya pada mereka.


Dorrr....


Dooorrrr...


Belum sempat Zoya menarik pistol dan menghunuskan kepada lawan nya dari belakang ternyata ada yang telah menembak mereka, membuat Zoya kaget dan langsung menatap kebelakang.


Bersambung ...


semoga semuanya suka yaa🥰


Terimakasih yang sudah mendukung terus karya ini, dan author akan selalu minta dukungan dari para kakak semua 😁🥰


salam sayang untuk semua nya ❤️


Jangan lupa like, komentar, favorit, vote, dan gift yaa bintang 5 juga jangan lupa ❤️ terimakasih