
"Verin!"
"Iya kek! Ada apasih?"
"Bertarung lah dengan murid kakek! Dengan jurus yang telah kau pelajari tempo hari!"
Ucap guru Zoya yaitu sensei Hisao kepada cucunya.
"Hai! Apakah itu kau kak Zoya?" Tanya Verin sambil melambaikan tangannya.
"Hai Verin! Apa kabarmu?"
"Baik! Apa kau siap bertarung dengan pegulat terbaik murid sensei Hisao?" Ucapnya dengan meletakkan tangan dipinggang serta tertawa.
Seorang gadis lucu yang sedari kecil telah hidup dengan kakeknya karena kedua orang tuanya telah meninggal waktu dirinya lahir kedunia belum genap setahun. Hingga sensei Hisao merawat nya hingga tumbuh besar menjadi gadis yang cantik dan juga lucu, tetapi siapa sangka dia adalah pegulat terbaik karena sensei terus melatih kekuatannya saat masih berusia tujuh tahun hingga saat ini sudah berusia dua puluh tahun.
"Tentu! Apa kau meragukan diriku?" Ujar Zoya menaikkan alisnya.
"Haha, bagaimana aku bisa meragukan senior ku?" Ujar nya dan langsung memberikan salam sebagai pembuka pergulatan mereka yang juga di balas oleh Zoya.
Verin melayangkan tendangan maut nya ke arah tepat di perut Zoya dengan ketangkasan Zoya langsung menangkis dan kembali menyerang mengenai tepat jantung verin membuat Verin mundur beberapa langkah.
"Apakah kau tidak akan mengasihaniku, kak Zoya?" Tanya nya dan langsung melayangkan pukulan tajam ke arah wajah Zoya dan menendang kaki pertahanan Zoya.
Zoya yang fokus mempertahankan pukulan tepat di wajahnya tidak menduga Verin akan melayangkan pukulan double kepadanya dengan apik hingga membuat Zoya terjatuh dan langsung Verin mengembalikan pukulan ke arah wajah Zoya yang dapat Zoya tahan dengan posisi tertidur lalu memutar nya dan menjadikan tumpuan agar dirinya bisa berdiri tegak lagi, terus menerus pertarungan itu berlanjut pukulan demi pukulan mereka layangkan untuk menjatuhkan dan menghancurkan pertahanan lawan.
Disisi lain sensei Hisao asik menatap pergelutan itu dengan asik sambil menyeduh teh yang telah dibuat oleh Verin. Sensei terus menatap mereka dengan tatapan yang datar tidak ada yang bisa mengartikan nya, sensei adalah seorang guru pegulat terbaik hingga sangat sulit untuk menjadi murid nya dan dia selalu hidup sederhana tidak ingin dikenal dan hanya ingin membangun generasi terbaik untuk kedepannya yang dapat mengganti posisi nya saat ini.
Dengan wajah yang sudah terlihat banyak keriput tetapi tidak bisa menghilangkan kharisma dari dirinya, yang masih terlihat tangguh dan juga badan yang kekar.
Saat melihat Zoya hampir kelelahan tidak dapat menjaga keseimbangannya lagi dan juga kewalahan melawan Verin yang ilmu nya sudah lebih tinggi dari dirinya membuat sensei Hisao menyudahi meminum teh nya dan berdiri mendekat ke mereka.
Verin yang sedikit lagi akan mengalahkan lawan nya dengan tertawa ingin melayangkan lagi tinjunya ke arah jantung Zoya.
"Verin! Stop."
Verin yang mendengar kakeknya menyudahi perlawanan ini segera memberhentikan tangannya dan berdiri tegap membersihkan pakaiannya.
"Kak Zoya, I'm sorry!" Ucapnya tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangannya bergaya centil.
"Mari kubantu!" Verin mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Zoya.
"Apa kau dendam kepadaku? Karena aku mengalahkanmu tempo lalu?" Tanya Zoya sambil memegangi tubuh nya yang sakit.
"Hahah tidak kak Zoya! Aku sangat bersemangat tadi, apa aku sudah terlihat keren?" Tanya nya sambil mendekatkan kepalanya kepada Zoya.
Zoya mendorong kepala Verin menjauh, "iya, keren jauhkan kepalamu dariku, Verin!"
Verin hanya tertawa dan membantu membersihkan pakaian Zoya yang kotor.
"Zoya! Kau harus menguasai satu jurus yang telah ku ajarkan kepada Verin!"
"Ahh kakek! Kalau kak Zoya juga menguasainya, Verin gak akan bisa mengalahkannya lagi!" Ujar Verin cemberut.
"Apa kau tidak ingin saudarimu menenangkan perlombaan di negara ini?" Tanya sensei.
"Lomba? Lomba apa itu kak Zoya?"
"Kau sangat kudet, Verin!" Ejek Zoya.
"Kudet? Apa itu apa enak?" Tanya Verin yang tidak mengerti.
"Dinegaraku kudet itu singkatan dari kurang update!" Ujar Zoya sambil tertawa renyah melihat kelakuan Verin.
"Kapan kau membawaku kenegaramu kak Zoya?"
"Nanti! Aku masih harus menyelesaikan misi kehidupanku disini!"
"Okee!"
"Verin! Masuklah ke dalam,"
"Verin, mau melihat kak Zoya kek!"
Verin yang sudah biasa mendengar ancaman seperti itu hanya menunduk lemas dan berjalan dengan malas ke dalam rumah lalu berbalik menatap Zoya.
"Selamat tinggal kak Zoya!"
Zoya yang melihat tingkah konyol Verin hanya tertawa lalu fokus menatap sensei Hisao di hadapannya.
"Apa kau benar yakin akan mengikutinya?"
"Yakin, sensei!"
"Kewajiban yang harus kau lakukan adalah harus memenangkan nya jika kau kalah maka berhentilah menjadi muridku!" Ancam sensei Hisao.
"Dilaksanakan, sensei!" Jawab Zoya dengan tegas.
...----------------...
Disisi lain Max terus mengendap dan berjaga dari jauh melihat ke arah keberadaan keluarga Gerxas.
Kediaman Gerxas.
Suasana mencekam dan suram memenuhi seluruh ruangan kediaman Gerxas, tidak ada candaan apalagi terdengar tawaan salah satu penghuni. Seluruh wajah penguni kediaman Gerxas memiliki wajah yang seram dan badan yang kekar, dengan pemimpin keluarga Gerxas yang sudah berusia lanjut tetapi ambisinya untuk menguasai dunia tidak hilang dari pikiran dan keinginannya.
"Bos! Ada yang sedang melamar menjadi tukang kebun namun memiliki badan seperti bodyguard yang menimbulkan kecurigaan tetapi setelah saya cek biodata dan riwayat hidupnya hanya hidup sekitaran sawah dan tukang kebun!" Ujar salah satu anak buah Gerxas.
"Terima dan terus awasi gerakannya! Jangan sampai dia salah satu penyusup disini!" Perintah Gerxas.
"Baik, bos!"
Sedangkan penjaga gerbang utama kekuarga Gerxas melihat pedagang buah lewat langsung memanggilnya, dan memperhatikan dengan seksama dari atas hingga bawah.
"Kau tukang buah? Atau bodyguard mafia yang telah tobat?" Tanya anak buah Gerxas sambil tertawa menghina.
"Hei! Apa kau tidak tau saudara Gex yang telah mengundurkan diri? Jika dia berdagang buah kurasa akan seperti dia!" Ucap yang lain kepada kawanannya dengan tertawa.
Saudara Gex?, Batin Aden Dengan tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum? Kau ingin menjual buah mu atau menjual senyumanmu?" Ucapnya lagi dengan tertawa.
"Apa Abang semua ingin membeli buahku, dijamin masih segar dan manis!"
Lalu mereka semua yang berada disana mengambil seluruh buah dan melahap nya hingga habis lalu mengusir pedagang buah dengan kasar.
"Pergilah kau!"
"Tapi, kalian belum memberiku uang!"
"Apa kau sangat tidak menyayangi hidupmu?"
"MMM...maaf! Aku pergi!" Ujarnya dan pergi dengan seringai diwajahnya.
Dari jarak beberapa kilo meter di atas gedung terdapat Volker dan Max sedang mengintai pergerakan anak buah nya dan mengintai keluarga Gerxas.
"Tuan muda! Sepertinya semua aman terkendali, kalau diliat dari situasinya mereka sedang tidak merencanakan apapun lagi!"
"Ketenangan itu dapat membuat kehancuran lawan lebih dalam, Volker! Jangan gegabah,"
"Iya, apakah tuan muda tidak ada rencana kerumah wanita tadi? Biar aku aja yang menjaga disini!"
Max melotot dan melayangkan tatapan maut kepada Volker, "Apa kau sangat tidak meenyayangi nyawamu, Volker?"
"Dia sepertinya bukan wanita biasa tuan muda! Percayalah padaku, dia sangat berbakat dan dibutuhkan dimasa depan!" Ujar Volker dengan hati-hati.
Max tampak berfikir dan mencerna perkataan Volker, karena apa yang dibicarakan Volker benar adanya, wanita itu berbeda dari wanita lainnya.
Bersambung...
...----------------...
Hai para kesayangan author mohon dukungannya yaa buat karya kedua authorrrr.
saya ucapkan beribu terimakasih kepada yang sudah ikut mendukung karya ini! dukungan bisa berupa like,komentar,vote,hadiah, bintang 5. intinya mohon dukungannya yaa semua!