
"Will, semua sudah selesai di angkut!" Lapor salah satu tim nya.
"Bawa semua masuk ke helikopter!" Perintah Will.
"Laksanakan!" Jawab mereka semua.
Begitu banyak harta tersebut hingga membutuhkan waktu lama untuk selesai membawanya ke dalam helikopter.
Drrrttt!
"Halo,"
"Gimana keadaan disana?" Tanya Will.
"Fayza telah selesai di operasi hanya menunggu dia kembali sadar," jawab Ammar.
"Aku kembali ke negara Y, titipkan salam ku kepada tuan muda dan ucapan berduka kepada Saguna, aku yakin Fayza pasti akan sadar," ujar Will.
"Semoga saja,"
"Oke, bye!" Ujar Will mematikan sambungan teleponnya.
"Semuanya sudah selesai?" Tanya Will.
"Sudah,"
"Oke, berangkat! Sebelum anggota Gerxas kembali datang," ujar Will.
Will menyalakan korek api lalu melempar nya ke gedung tersebut yang sudah di siram penuh dengan bahan bakar.
Lalu helikopter terbang melesat menjauh dari tempat tersebut dan kembali ke negara Y bersamaan dengan terbakarnya gedung tersebut.
***
Dirumah sakit, Zoya memeluk tubuh Max karena tidak kuat melihat sahabatnya begitu lemah dengan bantuan alat-alat yang terpasang di tubuhnya.
Max memeluk erat istrinya menenangkannya agar tidak berlarut sedih, lalu mengangkat kepala Zoya menatapnya dan menghapus air matanya dan tersenyum untuk meyakinkan Zoya kalau semua akan baik-baik saja.
"Semua akan baik-baik aja," ujar Max.
Zoya mengangguk lalu kembali memeluk tubuh besar Max.
Setelah Fayza telah dimasukkan ke ruangan khusus untuknya, Saguna langsung memakai pakaian khusus agar bisa masuk ke dalam.
Dengan pelan-pelan Saguna masuk menatap Fayza yang sangat lemah membuat hati nya sakit.
Saguna duduk di kursi sebelah ranjang Fayza lalu menggenggam tangan Fayza dan dihelus pelan.
"Kau harus kuat, kau harus bisa bertahan!"
"Fayza, bukankah ada yang ingin kau katakan padaku? Katakanlah sekarang aku ingin mendengarnya!"
"Aku akan menjadi pendengar terbaikmu,"
"Terimakasih sudah menolongku, dan maafkan aku tidak bisa melindungimu!"
"Buka lah matamu, aku janji nggak akan bersikap dingin lagi padamu, tetapi kau harus janji juga padaku kau harus bangun saat ini juga!"
"Kau dengar aku kan? Aku jarang loh banyak bicara seperti ini, tidak kah kau mau menghargai usahaku?"
"Fayza, aku mencintaimu! Sadarlah!" Ujar nya lemah menyatukan dahi nya dengan dahi Fayza tanpa sadar air mata Saguna menetes begitu saja.
Membuat sedikit pergerakan di tubuh Fayza membuat Saguna kembali berdiri menatap tubuh Fayza yang baru saja memberikan gerakan. Namun gerakan itu tidak terlihat lagi oleh Saguna.
Saguna berlari keluar memanggil Geisha.
"Geisha, tangan Fayza tadi bergerak!" Ujar Saguna semangat.
Semua yang mendengarnya tersenyum haru, begitupun dengan Zoya yang semakin erat memeluk Max dan kembali meneteskan air mata nya.
Geisha langsung berlari masuk ke dalam memeriksa keadaan Fayza.
"Ada perkembangan bagus, sepertinya dia bisa mendengar perkataanmu dan semangat untuk hidup nya kembali lagi, kita tunggu beberapa jam lagi, karena di luar dugaan ternyata perkembangan nya sangat cepat, banyaklah berbicara dengan nya dan memberikan semangat untuknya," jelas Geisha menepuk pundak Saguna lalu pergi meninggalkan nya.
Saguna tersenyum haru lalu mendekat ke tubuh Fayza dan berbicara kembali tepat di telinga Fayza.
"Semangat ya, aku akan selalu setia menunggumu untuk bercerita padaku!"
"I love you!"
"Maafkan aku mengecewakanmu selama ini, aku hanya tidak ingin kau terlibat di dunia gelap ini dan berakhir melukaimu, tetapi tetap saja kau terluka,"
"Setelah ini akan aku ajarin kau ilmu bela diri, tetapi kau harus bangun dulu, karena aku belum belajar gimana cara nya mengajari bela diri sama orang yang lagi tertidur,"
Lalu Saguna mengecup kening Fayza lalu pergi keluar meninggalkan Fayza.
Khansa mendapat kabar kalau Fayza telah selesai di operasi dan diam-diam ingin keluar dari ruangan tersebut, namun ketahuan oleh Erlan.
"Fayza sudah selesai di operasi, aku ingin melihatnya, please!" mohon Khansa.
"Oke, tetapi tetap di sampingku!" perintah Erlan.
"Hmm oke,"
Lalu Erlan menggenggam tangan Khansa membawa nya keluar dari ruangan itu, Khansa terus memperhatikan tangan nya yang di genggam oleh Erlan lalu mengerutkan keningnya.
"Harus banget ya kau pegangin tanganku seperti ini?" tanya Khansa protes.
Erlan menatap tajam Khansa lalu kembali menarik tangan Khansa untuk di genggam nya, "Nggak usah bantah kalau mau diperbolehkan keluar,"
Khansa menirukan omongan Erlan dengan mengejeknya namun tidak bersuara, saat Erlan melihat kebelakang Khansa berpura-pura melihat kesamping.
"Dih, udah melebihi mama ku," sungut nya kesal namun berbisik agar Erlan tidak mendengar nya.
Saat sudah hampir sampai di depan ruangan Fayza, Khansa menghempaskan kuat tangan nya agar bisa terlepas dan berlari mendekat ke Zoya, Zoya yang melihat Khansa langsung melepas pelukannya dengan Max dan membalas pelukan Khansa.
Max yang melihatnya memutar bola mata nya malas, lalu melirik ke Erlan yang sedang menatap Khansa kesal.
"Kau suka ya sama Khansa?" Goda Max.
"Nggak!"
"Jujur,"
"Nggak,"
"Oh, iya!"
"Iya apa?"
"Khansa mau aku jodohin sama Ammar soalnya," goda Max.
"Haha, silahkan mata merah! Bukan urusanku mencari pasangan orang lain,"
"Oke, lihat aja!"
Saguna keluar dari ruangan, Khansa langsung mendekat.
"Saguna, gimana keadaan Fayza?"
"Perkembangan nya baik, kita tunggu beberapa jam lagi!"
"Syukurlah," ujar Khansa bernafas lega.
Waktu sudah menunjukkan jam 00.30 mereka masih setia menunggu Fayza di luar ruangan. Khansa yang sedari tadi tidak bisa tenang membuat Erlan sangat pusing lalu menariknya untuk duduk didekat nya lalu memasangkan penutup mata agar Khansa bisa tenang.
"Erlan, lepas gak!" ujar khansa memberontak karena tangan Khansa di genggam kuat oleh Erlan.
"Nggak, diam kau jangan bergerak! Bikin orang makin pusing liat tingkahmu itu!"
"Shittt," sungut Khansa.
Erlan hanya menyungging kan senyum nya lalu kembali menutup mata nya dengan tangan nya menggenggam erat kedua tangan Khansa agar dia tidak bisa kabur.
Zoya menatap mereka hanya dengan tatapan datar, lalu bangkit melihat dari luar keadaan Fayza, dan mengganti baju nya agar bisa masuk ke dalam.
"Fayza, aku disini!"
"Apa kau bisa mendengar ku?"
"Sadarlah, setelah ini kau bisa menggoda Khansa dengan Erlan, kau juga bisa mendapat kan hati Saguna yang kau inginkan. Banyak kejutan saat kau membuka matamu, jangan pernah nyerah yaa, aku menyayangimu, kami semua menyayangimu," ujar Zoya tertawa kecil namun suasana yang haru.
Gerakan tangan Fayza terlihat oleh Zoya membuat Zoya menutup mulutnya dengan kedua tangan nya lalu tanpa sadar air mata itu menetes begitu saja dan gerakan tangan nya berkali-kali membuat Zoya memeluk Fayza.
"Terimakasih sudah berjuang," ujar Zoya.
Lalu ia menekan tombol untuk memanggil dokter agar segera datang, tanpa butuh waktu lama Geisha telah datang, kedatangan Geisha membuat semua nya heran dan langsung terbangun dan berdiri menunggu kabar dari dalam.
"Zoya? Zoya mana?" Tanya Max saat membuka mata nya melihat istrinya tidak ada di sampingnya.
"Dia ada di dalam," jawab Saguna yang tidak tidur sama sekali.
Saguna langsung mendekat ke pintu dan melihat ternyata Fayza telah membuka matanya membuat nya menangis haru dan tersenyum di waktu yang bersamaan.
Erlan membuka penutup mata Khansa yang ternyata dia juga tertidur.
"Bangun, mau lihat Fayza nggak?" Tanya Erlan lembut membangunkan Khansa.
Khansa membuka mata nya, "Fayza? Sudah sadar?"
Dia langsung berdiri mendekat ke Saguna agar bisa melihat ke dalam, ternyata benar. Fayza telah membuka mata nya.
Bersambung ...
...Hai guys jangan lupa untuk terus dukung...
......karya ini ya, author ucapkan banyak ......
......terimakasih sama semua yang ......
...masih setia mendukung karya ini....
...Tanpa kalian author nggak ada apa-apa nya...
...^^^dan dukungan itu berarti banget ^^^...
...untuk author dan kemajuan ...
...karya ini....
......**jangan lupa klik like, vote, favorit, bintang 5 dan juga hadiah. Yang penting jangan lupa untuk komentar yaa, karena komentar kalian buat author terus semangat. ......
...love you all** ❤️...