
"Kauuu!"
"Kenapa kau bisa disini?"
"Apa yang kau perbuat disini?"
"Verin, aku ingin bertemu dengan Zoya!"
"Zoya?" Tanya Verin.
Verin tersulut emosi lalu menarik tangan Genta untuk keluar dari perkarangan rumah sakit dan menjauh. Genta yang merasa bersalah hanya pasrah dan mengikuti wanita di depannya ini menarik nya kemana saja.
Verin melepaskan tangan Genta.
Plakk!
Tamparan keras mendarat di pipi Genta, membuat lukisan sebuah telapak tangan bewarna merah muda dengan sempurna.
"Kau tau apa yang kau lakukan? Apa akibat dari semua kelakuanmu?"
"Dari awal aku udah merasa curiga dengan gelagatmu, dan ternyata benar! Karena kau murid kesayangan kakekku aku berusaha mempercayai dirimu sepenuhnya seperti kakekku, haha tetapi apa yang kau lakukan? Rencana busuk apa itu?"
"Aku salah, aku akan bertanggung jawab atas semuanya! Aku akan menebus dosa ku," ujar Genta menyesal.
"Kakek, kakek Brees tuan besar Mexmar beserta yang lainnya telah tewas! Saguna dan Max dan beberapa anggota lainnya masih berjuang didalam sana. Apa kau kira setelah mereka mengetahui dalang dari semua ini adalah kau, mereka akan mengampunimu?"
"Genta si lelaki bodoh, hanya karena uang kau tega mengkhianati saudaramu sendiri, pergilah! Aku tidak ingin melihat wajah menjijikanmu itu, dan ingat aku tidak akan mau memaafkanmu kalau mereka tidak selamat juga!"
"Aku akan pergi setelah bertemu dengan Zoya! Beri aku kesempatan, Verin!"
"Kau sungguh tidak mempunyai sedikit isi yang bisa kau banggakan di otak kecilmu itu, setelah mereka sadar semua aku akan memberitahukan semua kelakuan busukmu!"
"Oh iya dimana, Alex?" tanya Verin.
"Jawab pertanyaanku, dimana kau sembunyikan badebah itu!" Bentak Verin.
Genta tidak ingin membuka suara sama sekali, dia bisu mengunci rapat mulutnya untuk semua informasi.
"Cih, pergilah!"
"Dan ingat, kau akan hancur ditanganku suatu saat!"
Genta menunduk lalu menatap sekilas Verin dengan wajah bersalahnya, lalu pergi meninggalkan Verin.
Beberapa tahun yang lalu, Verin melihat Genta yang sedang berlatih, menurut Verin Genta adalah lelaki sempurna yang akan menjadi satu-satunya lelaki di masa depan nya.
"Kak," panggil Verin.
"Verin, kau ngapain disini?" tanya Genta lembut.
"Apa kakak haus? Aku ambilkan minum ya!" Verin berlari masuk.
"Ini kak." Verin memberikan sebotol air minum kepada Genta.
Dengan tersenyum ramah Genta mengambil air minum itu dan menghabiskannya, membuat Verin merasa senang. Verin dengan gugup ingin mengeringkan keringat yang ada di wajah Genta, lalu dengan menahan gugup dan rasa malu nya maju mendekat dan mengelap keringat Genta menggunakan sapu tangan.
Genta terkejut menatap Verin tidak percaya lalu mengambil sapu tangan itu dari Verin dengan tersenyum lalu membersihkan nya sendiri membuat Verin kecewa tetapi tetap mengulaskan senyumannya.
"Kakak sehabis ini mau kemana?"
"Mau pulang,"
"Verin boleh ikut nggak main kerumah, kak Genta?"
"Jauh, Verin! Nanti kamu dimarahin sensei." Genta mengelus puncak kepala Verin yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Verin sesunggukan melihat masa lalu nya itu, Genta yang tidak pernah membalas perasaan nya, dan sekarang mengetahui penghianatan nya.
"Bang sat kau Genta!"
"Badebah sialan!" umpat Verin.
Verin menghapus air matanya saat mendengar ponselnya itu berdering.
"Halo?"
"Kau dimana, Verin?"
"Didepan, ada apa?"
"Kembalilah, Zoya menghawatirkan dirimu!"
"Aku akan segera kesana."
bersambung .....