
Lelaki tersebut melepas topi dan juga kacamata nya lalu memperlihatkan senyuman yang selama ini Zoya nantikan.
Semua diruangan ini yang mengetahui keadaan Max sungguh terkejut, seakan tidak percaya. Begitupun dengan sepasang pengantin itu turun lalu mendekat ke Max.
"Max, ini kau?" tanya Zoya lagi tidak percaya, Max belum mampu untuk banyak bicara hingga ia merentangkan tangannya agar Zoya mendekat memeluknya.
Sontak Zoya mendekat lalu memeluk suaminya yang selama ini sangat ia rindukan.
"Max, benar kau ini?"
"Aku nggak percaya,"
"Tapi aku senang banget, aku merindukanmu." Zoya terus menangis dengan tubuh bergetar, ia tidak mampu menahan semuanya saat ini.
Fayza menatap Saguna dengan senyuman hangat, lalu Saguna membawanya kedalam pelukannya.
Erlan yang iri langsung memeluk Khansa juga, Khansa yang masih menikmati suasana bahagia ini terkejut tubuhhnya tiba-tiba dipeluk lalu menatap tajam ke Erlan.
"Lepas." Khansa menatap tajam ke arah Erlan.
"Kenapa? Kau nggak iri semua pada berpelukan?"
"Mending aku berpelukan dengan Amar daripada denganmu." Khansa menjauh dan ingin mendekat dengan Amar.
Erlan melotot tajam dan langsung menarik tangan Khansa memeluknya erat, semua yang melihat nya tertawa. Tetapi Erlan menatap tajam ke arah Amar. Amar yang tidak tau apa-apa kenapa mendapatkan masalah juga?
"Jauhi kekasihku!" Tegas Erlan kepada Amar.
Tiba saja hati Khansa menghangat, tetapi dia malu dan menutup wajahnya. Semua yang ada disitu tertawa begitupun dengan Max.
Baby twins menangis dipangkuan baby sister nya, membuat baby sister itu kebingungan karena tangisannya tidak berhenti.
"Mbak, bawa kemari aja!" Perintah Zoya.
Lalu Zoya menggendong putri nya dan memberikan nya kepada Max, Max menangis haru melihat kedua anaknya.
Dia tidak menyangka kalau ia telah memiliki seorang putra dan putri yang sangat tampan dan cantik.
"Sayang," lirih Max.
Zoya menunduk mendekatkan dirinya kepada Max.
"Maafkan aku yang sudah membuatmu khawatir setiap saatnya, membiarkanmu merawat dah melahirkan mereka tanpa aku. Dan maafkan ketidak becusan suamimu ini!" Ujar nya lirih.
Zoya memeluk suaminya.
"Aku nggak apa-apa, dan makasih sudah mau membuka mata untukku dan anak kita."
Suasana yang haru dan penuh tangis itu membuat Haider dan Amar kebingungan, bagaimana acara pernikahan menjadi ajang tangis dan haru?
"Kelakuan kalian ada aja ya, ada apa ini?"
"Ini acara bahagia kalian, jadi kalian harus kembali. Pengantin nggak boleh ikut-ikutan, biar nanti malam prosesnya lancar jaya aman sejahtera, biar bany twins ada temannya." Celetos Amar.
Saguna tersenyum devil lalu melepas tangan mereka dari tubuhnya lalu merangkul Fayza.
"Oh iya sayang, nanti malam kan kita mau malam pertama. Enak banget ya udah punya istri, nggak sendiri dan ngehalu dikamar mandi pakai sabun." Saguna langsung pergi dengan tersenyum sedangkan Fayza tentu sangat malu.
"Woi, siapa itu? Kau Haider?" tanya Amar tidak terima.
"Ya eng-enggaklah. Kau kali!" ujar Haider.
Max kembali tertawa begitupun dengan Zoya. Ia merasa kebahagiaan sekarang sudah lengkap.
Kehilangan satu persatu orang yang dekat dengan kita mungkin menyakitkan, tetapi bagaimana kalau kau sekaligus kehilangan semuanya dalam waktu yang bersamaan? Apakah hidup akan terus berjalan sedangkan dunia yang kau ciptakan itu hancur.
Tetapi percayalah tidak semua bahagia akan menyertai, begitupun dengan tangis. Semua berjalan dengan porsinya masing-masing. Syukuri dan nikmati kehidupan saat ini. Apa yang kau lakuin saat ini akan menentukan dirimu dimasa depan.
Zoya kembali memeluk suaminya, rasanya bahagia ini cukup. Ia memiliki sahabat yang tidak pernah pergi, dan juga orang-orang baik lainnya. Mereka kejam dan keras tetapi itu watak yang mereka tunjukkan pada dunia luar bukan kepada orang terdekatnya.
"Setelah ini, banyak banget yang mau aku ceritakan padamu."
Max tersenyum lalu mengecup kening Istrinya, dan mencium putra dan putrinya.
Haider dan Amar sedang bernyanyi di ujung sana, suara mereka cukup bagus untuk diterima oleh telinga para tamu, tetapi tidak dengan Verin yang sangat kesal lalu menghampiri mereka.
"Haider, kenapa sih suaramu sangat melengking. Nafasmu saja sudah fales bagaimana kau dengan percaya dirinya bernyanyi, sini biar aku saja yang bernyanyi." Verin merebut mic nya dan berduet dengan Amar lagu kesukaannya.
Haider menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, karena ia ditertawakan oleh para anggota Mexmar.
Haider mendekat, "Tunggu hukumanmu, ketika sampai di mansion."
Lalu tubuh Verin membeku dan menatap Haider yang sedang tersenyum devil kepadanya dan berjalan santai menuju Max ingin menggendong baby twins.
Verin menatapnya dengan kesal lalu kembali bernyanyi.
Seketika itu tatapannya jatuh kepada lelaki yang memakai tuxedo bewarna maroon yang juga sedang memperhatikan nya, setelah lagu selesai Verin berburu-buru turun dan menemui lelaki tersebut.
Lelaki yang tidak lain adalah Genta, dia malah berjalan keluar dan terus diikuti oleh Verin.
Sampai disebuah taman, Verin menarik tangan Genta dengan kasar hingga langkah lelaki itu terhenti.
Bersambung.....
Like, komentar dan juga vote ya guys. biar author semangat terus. hari ini author akan up lagi untuk readers kesayangan author. dinantikan next up nya yaa. ada yang senang nggak max telah sadar??ðŸ¤ðŸ˜…