King Mafia Vs Bad Girl

King Mafia Vs Bad Girl
Negara P



Fayza akhirnya merasa sangat tidak tenang karena sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan Saguna, sedangkan di dalam pesawat Khansa hanya lebih memilih tidur.


Zoya menatap duduk di depan Khansa dan Fayza, Zoya menatap keluar memperhatikan pemandangan yang lumayan indah, namun perasaan nya sedari tadi terus saja tidak tenang entah apa yang dapat membuat Zoya terus tidak tenang.


Max melirik ke arah Zoya, "Sayang, ada apa?"


Zoya menoleh ke arah suaminya, "Entahlah, perasaanku nggak bisa tenang!"


"Sini, sini!" Ujar Max meletakkan kepala Zoya di dadanya dan mendekapnya agar lebih tenang.


Zoya mendapatkan kehangatan itu namun tetap saja hati nya belum bisa tenang, sebenarnya ada apa? Apa yang akan terjadi nanti, kenapa hatinya terus saja menyuarakan kegelisahan.


Karena perjalanan yang cukup memakan waktu akhirnya Zoya putuskan untuk tidur.


Beberapa jam berlalu hingga mereka telah mendarat di sebuah bandara negara P, dan terlihat sudah ada yang menunggu mereka untuk mengantarkan ke rumah Erlan.


Max telah menghubungi Erlan, dan Erlan menyarankan agar para wanita berada di rumahnya bersama Geisha agar lebih aman. Dan Max pun menyetujui nya.


Sesampainya di sebuah rumah mewah milik Erlan, terlihat Geisha baru saja pulang dari bekerja di salah satu rumah sakit di kotanya berlari mendekat ke arah mereka.


"Zoya, kalian semua! Kenapa bisa ada disini?" Tanya Geisha dengan senang.


"Ini nih si Fayza, ngebet banget ketemu Saguna!" Ketus Khansa.


Geisha yang mendengar nya langsung melirik ke arah Fayza, "Kak Saguna?"


"Iya, sebenarnya-"


Fayza langsung menutup mulut Khansa agar tidak bocor kemana-mana, hingga pembicaraan Khansa terpotong.


"Haha, yaudah kita masuk dulu yuk!" ajak Geisha.


"Geisha, apa Erlan ada didalam?" Tanya Zoya.


"Enggak, kak Erlan ikut membantu kak Saguna dalam misinya! Kemungkinan nanti malam pulangnya!" Ujar Geisha.


Khansa dan Fayza mengikuti dibelakang, sedangkan Max tidak ikut turun melainkan langsung pergi ke lokasi dimana Saguna melakukan misinya.


Disebuah desa yang terbilang maju, sudah terdapat anggota Mexmar dan Erlan yang sedang berpencar menunggu situasi aman. Di depan ternyata masih banyak penjaga yang menyamar menjadi pengunjung.


Will langsung mengerahkan tim nya untuk menyerang bagian belakang, sedangkan dirinya langsung menyerang dari depan bersama Saguna. Erlan masih menunggu helikopter datang, agar dia dapat memasuki gedung itu dari atap.


Setelah helikopter hampir mendarat tali sudah menjulur keluar dan Erlan memegangnya untuk memanjatnya agar bisa masuk ke dalam helikopter. Pembunuh bayaran terbaik sudah Erlan sewa untuk membantu mereka.


Pertumpahan darah terjadi dimana-mana, ternyata Max tidak bisa diam saja saat melihat keluarganya hampir kalah, karena penjaga harta Gerxas tidak dapat diragukan dan jumlahnya yang begitu banyak.


Max mengambil pistolnya lalu membidik ke salah satu anggota Gerxas yang terlihat seperti ketuanya.


Dorr!


Tembakan tepat melesat mengenai jantungnya. Hingga membuat yang berada di situ melirik ke arah depan.


"Tuan muda!" Ujar Will terkejut namun sangat senang karena Max membantu mereka.


Wushh! Max berlari sangat cepat memasuki gedung itu, dan melihat keadaan di dalam yang ternyata banyak anggota Gerxas maupun Mexmar sudah tewas. Membuat emosi Max menyeruak begitu saja.


Matanya memanas hingga manik matanya berubah menjadi merah dan melakukan penyerangan dengan pistolnya secara bertubi-tubi ke arah para lawan, hingga dalam sekejap 10 anggota Gerxas terkulai lemas di lantai hingga tewas.


Bughh! Bogeman mentah melayang ke arah Max membuat Max tersungkur kedepan karena tidak menyadari kalau dibelakang nya ada seseorang yang mengincar dirinya.


Membuat Max menatap kebelakang tajam lalu berlari dan lompat menekuk tangan nya, hingga sikut tangannya menghantam keras kepala lelaki tersebut hingga mengeluarkan darah, Max berputar melayangkan kalinya ke arah wajah lelaki tersebut hingga tersungkur. Penyerangan bertubi-tubi terus dilayangkan nya.


Dengan susah payah lelaki tersebut bangkit dan membuka topengnya, yang ternyata adalah Zayn, seorang artis yang hampir pernah dilenyapkan oleh Max.


Zayn menyeringai, "Hai, apa kabar Maya Merah?"


"Kauuu!" Geram Max mengepalkan tangannya.


"Apa kau mengira kalau aku akan mati? Tidak semudah itu!" Ujarnya menyeringai.


"Sialan, ternyata nyawamu masih betah bersamamu!" Ledek Max dan menarik pistolnya dan melayangkan peluru ke arah Zayn.


Zayn berhasil menghindari nya dan menatap Max dengan meremehkan, "Apa kabar Zoya? Apa dia masih kekasihmu?"


"Tentu," ujar Max berusaha tenang karena siasatnya adalah membuat Max emosi dan kehilangan kendali terus melakukan kesalahan nya.


"Jangan banyak bicara kalau kau masih mau hidup!" Ujar Max santai namun tangannya bergerak meninju wajah Zayn.


bersambung ....


hai guys jangan lupa dukungannya yaa, terimakasih yang masih setia membaca cerita ini, love you all❤️