
"Sialan, jangan asal bicara kau ya!" Bentak Dega.
Bughhh!
Pukulan keras melayang ke arah wajah Dega.
Max melemparkan foto yang bergambar putri Dega tersebut hingga membuat Dega meneguk salivanya lalu menatap tajam Max.
"Urusanmu samaku, bukan dengannya!" Sungut Dega.
"Emang dia siapa? Putrimu?" Tanya Max.
"Bukan!"
"Oh, yaudah Saguna lenyap kan anak kecil itu!" Ujar Max dengan seringai.
Dega membelalakkan matanya, "Jangan, stop! Hentikan melibatkan putriku, apa yang ingin kalian ingin tahu?"
"Ungkapkan rahasia Gerxas!"
"Gerxas memiliki seorang putra berada di pulau kecil sedang melatih dirinya agar kuat dan berlatih berjalan agar bisa bebas dari kelumpuhan nya!"
"Yang lain!"
"Gerxas menyimpan seluruh hartanya di kota P didalam tanah!" Ujar nya lagi.
Max yang mendengarnya menatap tajam ke arah Dega lalu berseringai, "Luar biasa,"
"Saguna, bentuk kelompok kecil untuk mengambil seluruh harta Gerxas yang terkubur!" Perintah Max.
"Siap!"
Saguna pergi meninggalkan tempat itu dan membawa tim B ikut dengannya.
Sedangkan Max menyuruh anak buah yang lainnya untuk membawa Dega ke dalam ruangan itu, agar merasakan perihnya di siksa di dalamnya.
Setelah semua telah pergi dan melakukan tugas masing-masing, Max menuju ke arah kamar nya untuk menemukan keberadaan Zoya.
Saguna telah bersiap-siap dengan tak tiknya untuk mengambil harta itu karena sangat penting untuk memenangkan pertempuran ini. Harta dan putra Gerxas adalah aset utama milik Gerxas.
"Will, siapkan helikopter! Aku akan mencari Haider dahulu!" Ujar Saguna.
Haider tengah sibuk dengan tugasnya mencari titik tempat harta itu di kubur, ternyata ada di dalam kota yang sama dengan kota tempat tinggal Erlan dan juga Geisha.
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan nya?" Tanya Saguna.
"Sudah, kota yang sama dengan lelaki ini!" Ujar Haider menunjuk foto Erlan yang berada di komputer nya.
"Ternyata lebih gampang dari yang kuduga! Tetapi kemungkinan tempat itu tidak akan gampang dimasuki, kita harus memiliki banyak pasukan untuk melawan pasukan Gerxas!" Ujar Haider lagi.
"Aku ada rencana!" Ujar Saguna.
Saguna mengambil ponsel nya di dalam kantong lalu langsung menghubungi Erlan yang berada di negara P untuk meminta bantuan.
Drrrrtt!
"Hola!" Sapa Erlan dari sebrang telephon.
"Kau dimana?"
"Kenapa emangnya?"
"Aku butuh bantuanmu! Apa kau sanggup memenuhi nya?" Tanya Saguna.
"Jelaskan!"
"Kami ingin mengambil sebuah harta tersembunyi milik Gerxas dan tempatnya berada di kota yang sama denganmu! Aku memerlukan sebuah pasukan pembunuh bayaran yang tidak dikenali Gerxas untuk menjadi tim kami!" Ujar Saguna.
"Gampang, akan ku atur!" Ujar Erlan menyetujui.
"Oke, sampai jumpa nanti!" Ujar saguna mematikan sambungan teleponnya.
.....
Max memasuki kamarnya terlihat senyap ternyata Zoya telah tertidur dan baru saja selesai mandi terlihat dari rambutnya yang masih basah Max mengecup kening nya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Max merasa bersalah karena membawa Zoya masuk kedalam bahaya itu, Max merutuki dirinya sendiri lalu langsung segera menyelesaikan kegiatan nya.
Setelah itu dia memakaikan handuk sebatas pinggang dan terpampang roti sobek milik nya dengan rambut yang basah Max keluar dari kamar mandi. Dan melihat Zoya masih juga terlelap dan langsung saja Max memakai pakaiannya.
Setelah itu berbaring disebelah tubuh Zoya dan miring menghadap ke arah Zoya menatap lekat wajah cantik istrinya. Max menatap lekat wajah Zoya lalu mencium sekilas bibir ranum milik Zoya.
Zoya tersentak lalu membuka matanya melihat suaminya yang tengah menatapnya dengan lekat hingga membuatnya malu lalu langsung menutup wajah nya, menenggelamkan wajah itu di dada bidang milik Max. Max tersenyum jahil dan menarik rapat tubuh Zoya lalu memeluknya.
"Kenapa sudah bangun?" Tanya Max.
"Kau, mengganggu tidurku!" Ketus Zoya.
"Sayang!" Panggil Max lembut.
Zoya menoleh kan wajahnya ke arah Max ingin mengetahui ada apa Max memanggilnya dengan selembut itu. Saat Max melihat Zoya kembali menatapnya langsung Max serang bibir mungil milik Zoya dan melumatt nya dalam, Zoya yang tidak siap dengan keadaan ini memukul dada bidang milik Max.
Namun tidak ada reaksi Max untuk melepaskan nya malah semakin dalam melumattnya, membuat gairah Zoya ikut bangkit. Max yang sudah sangat bergairahh langsung menimpah tubuh Zoya namun masih ditahan dengan tangannya.
Zoya membalas lumattan bibir itu, hingga persekian menit mereka saling melahap dengan panas. Bibir Max turun menjalar ke arah leher jenjang milik istrinya bermain-main disana hingga membuat Zoya menggeliat kegelian. Max terus turun hingga sampai di antara dua bukit indah yang sangat menantang itu, yang akhir-akhir ini menjadi kegemaran Max. Max memainkan lidah dan bibirnya di atas biji kecil di antara bukit sintal itu, dengan tangan satunya meremass bukit sebelah nya hingga mampu membuat Zoya semakin merasa darah nya mengalir sangat cepat.
"Ahhhh," desahh Zoya terus menerus.
Setelah cukup lama bermain di atas bukit tersebut Max membuka seluruh baju yang terpasang di tubuh Zoya tanpa menyisahkan nya lagi, lalu berganti bermain dibawah hingga membuat Zoya semakin tidak tahan.
"Sayanggggg! Aaahhhh!" Desahh panjang dari bibir Zoya.
Max memberhentikan kegiatannya, dan kembali keatas tubuh Zoya menatap istrinya dengan puas karena melihat wajah Zoya yang sudah tidak tahan menahan hasratnya lagi.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Max.
"Sekarang?" Tanya Max lagi.
Zoya mengangguk kan kepalanya, langsung saja Max membuka seluruh pakaiannya dan melakukan pergulatan panas yang sesungguhnya setelah pemanasan yang cukup panjang.
Setelah selesai menuntaskan hasrat mereka berdua, Max berbaring disamping Zoya dengan satu selimut untuk menutup tubuh sepasang kekasih tersebut.
Max membelai pipi Zoya dan mengecup keningnya, "Makasih, Sayang!"
Zoya tersenyum lalu spontan memeluk tubuh Max, Max terkejut karena tidak biasanya Zoya melakukan hal ini.
Apa ada yang ia takuti di dalam hatinya?, Batin Max.
"Sayang, maafkan aku membawamu kedalam bahaya! Aku janji itu terakhir kalinya, dan aku juga tak ingin kau terluka, bahkan aku sekarang hidup hanya untukmu setelah berhasil membalaskan dendamku itu!" Ujar Max.
"Apa harus dendam ini terus berlanjut?" Tanya Zoya.
"Dengar aku, kita harus memberi pelajaran terhadap binatang yang tidak tahu diri!" Ujar Max lagi.
"Kalau begitu, berjanjilah padaku untuk kembali dalam keadaan selamat!" Ujar Zoya.
"Aku janji, dan itu adalah salah satu kewajiban ku untuk pulang dalam keadaan selamat untukmu!"
"Kau tenang aja ya sayang! Sebelum aku pergi nanti, kita akan pergi bulan madu dulu! Kau ingin pergi kemana? Cappadocia?" Tanya Max.
"Enggak, Sayang!"
"Aku ingin pergi dimana disana hanya ada kita berdua! Tempat yang asik dan nyaman serta hanya ada bahagia saja disana!" Ujar Zoya.
"Oke, nanti aku cari tempat nya ya Sayang! Dan akan kubelikan untukmu!" Ujar Max menoel hidung Zoya.
Bersambung ....
hai guys semoga suka dengan part ini yaa, maaf banget semalam kurang satu bab dan diganti sama bab ini yaa🙏 soalnya jaringan mendadak menghilang seperti doi😁😆
jangan lupa dukungannya ya semua, berupa like, komentar, vote, hadiah, gift dan bintang 5 juga 🤗
love you❤️