
Dirumah sakit Geisha sudah menunggu kehadiran mereka dengan tidak tenang begitupun dengan Khansa yang terus menangis histeris, Geisha berusaha menenangkan Khansa tetapi Khansa tetap saja tidak bisa berfikir jernih.
"Geisha, gimana kalau khansa-" ujar Khansa dengan terisak.
"Fayza akan baik-baik aja! Kau cukup berdoa agar semuanya baik-baik saja ya, jangan berfikir yang tidak seharusnya," ujar Geisha.
Hingga mobil hitam pun datang, Saguna langsung turun menggendong tubuh Fayza dan menetaskan air matanya terus berlari mendekat ke pintu utama rumah sakit.
"Suster, tolong bantu pasien tersebut bawa segera keruang operasi!" Perintah Geisha.
"Siap dok!" Ujar suster.
Saguna meletakkan tubuh Fayza di ranjang pasien dan ikut mendorong nya membawa hingga depan pintu ruang operasi.
"Zoyaaaa!" Teriak Khansa berlari memeluk Zoya.
Zoya mengusap air matanya membalas pelukan Khansa.
"Fayza pasti baik-baik aja! Maafkan aku ini salahku,"
Khansa tidak bersuara hanya isakan tangisan yang terdengar, Zoya kembali mengeratkan pelukannya.
"Semua ini bukan salahmu Zoya, ini salah Saguna!" Teriak Khansa.
Semua yang mendengar teriakkan Khansa langsung menoleh begitupun Saguna yang menatap nanar ke arah Khansa dan Zoya. Tatapan bersalah jelas terlihat dari matanya.
Lalu Saguna langsung menundukkan kepalanya, menunggu jawaban takdir yang baik untuk Fayza. Saguna sangat merasa bersalah, karena Fayza merelakan dirinya tertembak untuk menyelamatkan Saguna.
"Saguna, kau sadar gak sih sebenarnya kalau Fayza tuh cinta samamu?" Teriak Khansa.
"Aku harus bilang apa sama orang tuanya, ha? Bilang kalau Fayza terbunuh di negara ini? Jelasin samaku! Kenapa kau gak lindungi Fayza?" Tanyanya melemah dan kembali menangis histeris.
Semua yang berada disitu juga sangat berduka, karena seorang wanita terluka karena mereka.
"Sampai dia rela ngorbanin dirinya buat dirimu yang nggak bisa hargai sedikitpun perasaan nya, kalau Fayza gak selamat kau juga harus gak selamat!" Ancam Khansa hingga dirinya lemas dan pingsan.
Zoya langsung memeluknya lagi dan membawa tubuh Khansa untuk duduk dikursi dibantu oleh Verin.
"Suster, tolong bantu teman saya dia pingsan," ujar Erlan menggendong tubuh Khansa untuk dibawa keruangan yang lain.
Zoya sangat lelah dan lemah hingga nggak tahu harus berbuat apalagi, Max langsung menghampiri istrinya lalu membawanya kedalam pelukannya.
"Fayza, Max!"
"Dia bakal baik-baik aja!" Ujar Max menenangkan.
Geisha keluar dari ruang operasi beserta suster yang membawa ranjang pasien yang terbaring tubuh Fayza. Saat semua melihat nya semua terkejut sedangkan Zoya sudah menangis histeris mendekat ke jasad Fayza.
"Ngggakk.... Fayza bangun! Please bangun Fayzaaaaaa!" Teriak Zoya histeris.
Saguna langsung mendekat ke Geisha memaksanya untuk segera beritahu ada apa? Kenapa tubuh Fayza dibawa keluar.
"Kenapa dibawa keluar? Apa sudah selesai? Fayza sudah siuman?" Tanya Saguna bertubi-tubi.
"Nggakk...kau bercanda!" Serkah Saguna berlari ke arah Fayza.
Membuka kain penutupnya dan mencampakkan nya lalu membawa kepala Fayza ke pelukan nya.
"Fayza, bangun! Lihat aku, kau jangan bercanda,"
"Fayzaaaaaa!" Teriak Saguna mendorong-dorong tubuh Fayza.
"Fayza, aku mencintaimu! Itukan yang mau kau dengar, iya aku mencintaimu! Maafkan aku bersikap dingin, aku hanya ingin melindungimu agar tidak ikut campur di dunia gelap, bangunlah!" Perintah Saguna dengan meraung histeris.
"Fayzaaa," ujar Zoya lemas dan terjatuh pingsan.
Max menghapus air matanya lalu membawa tubuh Zoya untuk diperiksa.
"Bangun, Za!"
Khansa berlari mendekat lalu saat melihat jasad Fayza langkah kakinya mundur gemetar tidak percaya.
"Dia bukan Fayza! Kalian salah orang, Fayza, Fayzaku baik-baik aja! Geisha siapa wanita ini?" Tanya Khansa menangis.
Geisha mendekat lalu memeluk tubuh Khansa. Dengan kuat Khansa melepas pelukannya dan berlari ke Fayza.
"Za, Za lihat aku! Aku Khansa, kau janji nggak akan ninggalin aku dan Zoya kan setelah kami mengijinkan kau kesini? Za bangunnnn. Kau jelek kalau kayak gini!" Teriak Khansa.
Plakkk!
Tangan Fayza menampar Khansa karena tidak terima dikatain jelek, membuat semuanya terdiam dan juga berdiri kaku.
"Aahhhhhhhhhhhh!" Teriak Khansa.
"Ada apa?" Tanya Erlan yang terkejut dan terbangun dari tidurnya.
"Fayzaa!" Ujar Khansa mengelap keringatnya.
"Dia masih menjalankan operasinya, kau sudah sadar?" Tanya Erlan.
"Aku mimpi ditampar sama jasad Fayza," ujar Khansa gemetar.
"Aku mau kesana, aku mau ketemu Fayza!" Ujar Khansa turun dari ranjang pasien.
"Eh, kau belum pulih total!" Teriak Erlan.
Namun karena Khansa sudah pergi duluan dia hanya pasrah dan mengikutinya dari belakang.
Bersambung ....
Wah ditampar gak tuh😭 semoga suka ya. maaf kalau tidak sesuai ekspektasi para pembaca.
terimakasih banyak yang sudah mendukung terus karya ini, dan terus dukung yaaa agar authorrrr lebih semangat lagi ngelanjutin ceritanya.
love you all ❤️ jangan lupa vote, like, komentar, dan juga hadiah❤️❤️