
Setelah check-in Zoya dengan lain nya sedang menunggu dan duduk di kursi, semua sibuk dengan ponselnya masing-masing sampai Fayza membuka percakapan diantara mereka.
"Eh ternyata jadwal ke negara Y pagi ini kosong, terpaksa aku harus nunggu nanti siang," ujar Fayza.
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Zoya.
"Gak tau nih, yaudah lagian bentar lagi kalian boarding kan, kalau udah sampai disana kabari aku ya!" Ujar Fayza.
"Tapi kau jangan kelamaan nyusul ke Negara P ya, kalau lama mending gak usah nyusul sekalian," ujar Khansa.
"Iyaaa pak Budi!"
"Enak aja, stop ingat kan aku dengan pak Budi!" Ujar Khansa melotot.
Fayza dan Zoya tertawa melihat tingkah Khansa yang menggemaskan.
"Kenalin dong sama Pak Budi," pinta Zoya.
"Iya kenalin ke kami dong, Sa!"
"Usstttt, jangan bahaya!" Jawab Khansa dengan menutup mulut mereka berdua.
Mereka semua terdiam saat mendengar pesawat XXXX yang ditumpangi oleh Zoya dan Khansa sudah boarding, dan saling menatap.
"Fayza, jangan lamaa ya nyusul nya aku pasti kangen banget!" Ujar Khansa memeluk Fayza.
"Jaga diri baik-baik ya, kalau udah sampai ke negara Y kabari kami!" Ujar Zoya memeluk Fayza juga.
"Iyaa, kan kalian duluan yang berangkat seharusnya aku dong yang sedih ini malah terbalik, udah sana jangan lupa berdoa. Miss you!" Ujar Fayza melambaikan tangan nya.
Mereka berpisah dan melambaikan tangan nya, Fayza kembali duduk dan menunggu waktu nya.
"Eh Zo perut ku sakit, bentar kesana dulu yuk!" Ujar Khansa menarik tangan Zoya.
...----------------...
Setelah sampai di apartemen, Max mengetuk pintu namun tidak terdengar ataupun jawaban dari dalam, membuatnya langsung menggunakan kartu akses milik nya dan segera masuk melihat suasana dan tempat yang kosong, bahkan barang-barang Zoya seperti piagam penghargaan yang di dinding juga sudah tidak ada, membuat nya langsung berlari ke kamar dan memeriksa semuanya dan ternyata sudah kosong tidak tertinggal apapun kecuali sepasang baju milik Max yang pernah di pakai oleh Zoya.
Max mengambil nya, "Ini maksudnya apa?"
"Apa ucapan dia mau pergi dariku benar dilakukan nya?" Tanya Max dengan frustasi dan melemparkan baju itu dan langsung keluar dari apartemen mencari keberadaan Zoya.
Max di dalam mobil tampak berfikir apa yang harus dilakukan nya, saat ini dirinya sangat merasa kesal dan juga menyesal. Max langsung mengambil ponsel yang berada di kantong celana nya.
Drrrtt...drrttt
📞
"Hmmm," dehem Saguna.
"Bilang sama yang lain cari keberadaan Zoya di manapun sampai ketemu di negara ini, SEKARANG!" Perintah Max dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Di markas Saguna tidak terkejut karena dia sudah yakin ini pasti akan terjadi bagaimanapun ini adalah kesalahan Max, maka dia harus menerima kenyataan dan penyesalan nya saat ini.
"Volker! Perintahkan semua nya untuk mencari keberadaan Zoya," perintah Saguna.
"Kenapa dengan nona muda, Guna?"
"Dia pergi, mungkin dia akan menghindar dari Max!"
"Baik, tugas dilaksanakan!" Ujar Volker dan menekan tombol darurat di jam tangan nya.
Seketika saja semuanya telah berkumpul dengan wajah dan kekhawatiran masing-masing, karena kalau mereka dipanggil melalui jam darurat pasti ada hal yang sangat penting harus segera dilaksanakan atau ada kejadian yang sangat tidak terduga.
"Ada apa, Volker?"
"Semua pergi mencari keberadaan nona muda sekarang juga sampai ketemu!" Perintah Volker.
"Ha, kenapa dia bisa pergi?"
"Seperti sifat tuan muda, kalian pasti paham! Segera lah sebelum terlambat," ujar Volker.
"Baik kepala benteng!" Ujar semua dan langsung menuju garasi mobil dan mencari keberadaan Zoya.
"Bandara!" Jawab Saguna dan langsung memakai kacamata nya dan keluar menuju garasi mobil yang diikuti oleh Volker dibelakangnya.
Mereka semua mencari keberadaan Zoya dan semua sangat khawatir jika tidak bertemu dengan Zoya mereka akan dalam bahaya dibuat oleh Max.
Max langsung berfikir jernih dan tujuan dia mencari Zoya dimana, hingga tiba saja mata nya menuju ke arah pesawat di udara yang langsung membuat nya teringat akan bandara salah satu tempat yang pasti akan dikunjungi oleh Zoya dan langsung melajukan mobil nya ke bandara dengan kecepatan tinggi.
"Berani sekali kau pergi dariku! Jangan harap," ujar Max dengan emosi.
Beberapa menit kemudian saat sedang di dalam perjalanan.
Berbunyi suara berita di dalam mobil Max
Minggu, dini hari telah terjadi kecelakaan pesawat XXXX yang membawa 56 penumpang karena kehilangan kendali dan sekarang seluruh petugas sedang mencari keberadaan pesawat.
Serrttttttt... Tiba saja Max memberhentikan mobil nya dengan mendadak saat mendengar kecelakaan pesawat itu dan pikiran nya langsung tertuju ke Zoya.
"Zoyaa," Ujarnya lirih.
Max langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi tanpa memikirkan bahaya untuk diri nya sendiri pikirannya sekarang hanya tertuju pada wanita yang telah merebut hati nya saat ini.
Di bandara semua orang menjerit sedangkan Fayza langsung menjatuhkan ponsel nya dan menutup mulut nya hingga air mata jatuh begitu saja, menatap berita yang terpampang di depan nya tentang kecelakaan pesawat XXXX yang di dalamnya ada Zoya dan Khansa.
"Tidakkk, Khansa Zoyaaa!" Teriaknya gemetar dengan air mata yang terus membasahi pipi nya.
Fayza berlari ke arah petugas bandara dan mencari kebenaran tentang berita itu.
"Pak, katakan kalau berita itu gak benar, kalian jangan becandaa ya disana ada kedua saudaraku! Apa kalian ingin bermain-main dengan nyawa seseorang ha?" Teriak Fayza pada petugas.
"Nona tenang dulu ya, berdoa semoga saudara nona selamat petugas sedang mencari keberadaan pesawat dan para penumpangnya!" Jawab petugas bandara itu dengan gemetar dan menenangkan Fayza.
"Tenang? Ahhhh!" Teriak Fayza dan terduduk ditempat itu teriak dan menangis.
"Seharusnya aku berada disana bersama kalian, seharusnya aku juga pergi bersama kalian!" Teriak Fayza terus menangis.
Lalu Fayza pergi ketempat duduk nya tadi dan mengambil ponsel mengubungi Khansa dan Zoya berharap mereka tidak berada di pesawat itu dan setidaknya ada keajaiban agar mereka semua selamat.
Di kejauhan Max mencari-cari keberadaan Zoya dengan wajah yang sangat khawatir, menabrak semua yang ada disitu dan sampai dimana pandangan nya jatuh kepada Fayza yang duduk di kursi dan langsung menghampiri nya.
"Kau? Zoya dimana? Katakan samaku Zoya dimana?" Teriak Max menahan air mata nya karena melihat Fayza telah menangis.
Plakkk... Tamparan keras tepat mendarat di pipi Max.
"Kenapa kau cari Zoya sekarang ha? Ini semua karena dirimu! Kalau Zoya kenapa-kenapa di dalam pesawat itu maka aku tidak akan membiarkan dirimu hidup dengan damai!" Teriak Fayza histeris.
"Jadi benar Zoya berada dalam pesawat itu?" Tanyanya gemetar menatap papan pengumuman yang memperlihat kan nama-nama penumpang dan mencari nama Zoya disana.
"ANESKA ZOYA ZETANA! Enggak ini gak boleh terjadi!" Ujar Max dengan emosi dan menuju ke pada para petugas bandara.
Max mencekram kerah baju petugas dengan mata yang sudah memerah, "Katakan kalau berita itu palsu, setidaknya aku masih membiarkan kalian semua hidup kalau tidak mati kalian semua di tanganku!"
"Ma..maaf pak mohon tenang!" Ujar petugas lain berdatangan menenangkan Max.
Saguna telah terlihat berada di dalam bandara dan menghampiri keributan itu yang ternyata diciptakan oleh Max dan memisahkannya.
"Max tenang dulu, bisa jadi didalam itu tidak ada Zoya!" Ujar Saguna.
"Disana ada Zoya, guna! Zoya berada disana!" Ujar Max getir.
"Apa kau yakin?" Tanya Saguna.
"Iya, Zoya dan Khansa adalah salah satu penumpang pesawat itu!" Jawab Fayza yang baru datang dengan getir.
Saguna langsung beralih menatap Fayza dan menenangkan nya, membawa Fayza kedalam pelukannya dan langsung tangisan Fayza kembali pecah.
Bersambung ...
Oke part ini seperti nya mengandung bawang, dan jika reader mau tau kelanjutannya hari ini juga author akan double up dengan syarat beri gift dan vote seikhlasnya biar author semangat nulisnya 🥰❤️💪
Terimakasih untuk dukungan para reader, i love you all🥰