King Mafia Vs Bad Girl

King Mafia Vs Bad Girl
Misteri pulau terpencil



"Apa? udah dapat identitas nya?" tanya Amar.


Haider langsung menatap mereka satu-persatu lalu menggelengkan kepalanya, sontak Amar menoyor kepala Haider. Semua lagi genting dia malah bercanda, yang lain pun ikut menoyor kepala Haider.


"Woi, stop yaelah. Lihat nih." Haider menunjukan sebuah data di notebook nya.


Amar mengambilnya dan membacanya.


"Pohon besar di arah selatan?" tanya Amar.


"Iya, seharusnya yang keluar itu data diri mereka. kenapa ini teka-teki yang ada di surat tadi?" tanya Haider bingung.


"Coba cari cara lain, biar menemukan identitas mereka." perintah Amar.


waktu terus berjalan hingga tanpa mereka sadari hari mulai gelap. Suara lolongan binatang buas terdengar dari sisi manapun. Nyali Haider sedikit mengecil dan selalu mendekat dengan Amar.


"Mar, ini mar."


"Udah?"


"Udah, lihat mereka adalah wanita ini."


"Kupu-kupu malam?" tanya Amar.


"Jadi mereka pelacur? lantas ini hanya untuk mengecoh kita saja. Ahh sialan." sungut Amar.


"Haider, hubungi Tuan muda."


drrrtt!


"Halo,"


"Halo tuan muda, lapor dari tempat ini. kami menemukan banyak kejanggalan disini."


Amar pun menjelaskan dengan sedetail-detailnya tanpa membiarkan satu ceritapun tertinggal.


"Sialan, mau main-main bajingan itu denganku." emosi Max membara dan langsung mendatangi keruang bawah tanah.


"Genta."


"Badebah." teriak Max.


Diruangan utama Saguna yang baru saja datang, mencari keberadaan Max tetapi tidak ditemukannya.


"Zoya."


"Eh, kau udah selesai nih." ledek Zoya.


"Ah kau ya, Zo. enak tau!" bisik Fayza dengan tertawa.


"Aku mah nggak iri, Khansa noh kau provokasi." ujar Zoya tertawa.


Saguna menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal melihat tingkah istrinya yang dengan polosnya bercerita hal seperti itu saat ada dirinya.


"Max, dimana?"


"Dibelakang tadi, lagi lihat taman. dia udah bisa jalan tanpa kursi roda, datengin aja!" jelas Zoya.


"Pak, lihat Max?" teriak Saguna.


"Tuan muda tadi masuk keruang bawah tanah dengan emosi setelah mendapatkan telepon dari orang lain, tuan." jelas pak Alang.


Saguna langsung berlari menuju ruangan bawah tanah, dia sudah merasakan hal yang tidak enak. Menuruni tangga dengan berlari tidak membuatnya terjatuh atau terjerembab, malah semakin kencang ia berlari menuruni tangga itu.


"Max?" teriak Saguna.


"Max." Saguna berlari ke arah penjara Genta.


Saguna mengerutkan keningnya, begitupun dengan Genta yang ikut bingung melihat Saguna menatapnya seperti itu.


"Ada apa?" tanya Genta.


"Dimana, Max?"


"Max? dia kesini?" tanya Genta.


"Iya, yang lain pada melihatnya masuk kedalam sini. lalu dimana dia?"


"Aku bahkan daritadi disini tanpa melihat siapapun. Max nggak ada kesini." jelas Genta.


"Jangan berbohong kalau kau masih sayang dengan nyawamu!" tegas Saguna.


Genta santai dan memiringkan kepalanya menatap Saguna dengan bingung, "Serius, aku tidak melihat dia datang kesini."


"Sialan." Saguna langsung masuk lebih dalam untuk mencari keberadaan Max tetapi tetap tidak ditemukan nya.


Di pulau kecil itu mereka sedang bingung, kenapa sambungan teleponnya terputus begitu saja.


"Amar coba hubungi, Saguna." perintah Haider.


"oke."


Drrrttttt...


"Ada kabar apa?" tanya Saguna.


"Tuan muda dimana? sambungan teleponnya terputus begitu saja."


"Kalian yang bicara dengannya ditelepon terkahir kali?"


"Iya, kenapa?"


"Ntahlah, aku lagi mencarinya."


Amar menjelaskan dengan detail semua yang mereka temukan dipulau itu.


"Sialan, teruslah ikutin petunjuk itu. aku akan mengirimkan bantuan untuk kalian." tegas Saguna.


"Siap, pergilah temuin tuan muda Saguna, jangan sampai terjadi apapun lagi dengannya." Amar mematikan sambungan teleponnya.


"Kita lanjut ikutin petunjuk ini!" perintah Amar.


Bersambung...