
Mereka semua telah berkumpul dan sesuai arahan dari saguna mereka semua telah berpencar membagi menjadi lima kelompok, dengan kelompok utama yang dipimpin oleh Max dan Brees di mansion utama.
Drrrttt!
Drrrrt!
“Ternyata kelumpuhan putra gerxas hanya hanya bualan, dan bahkan aku yang telah menjadi guru nya selama beberapa tahun tidak mengetahui hal seperti itu,berhati-hatilah karena dia orang yang sangat licik, kita tidak mengetahui bagaimana caranya dia bisa menyembunyikan kesehatannya dengan sangat baik,” ujar Hisao dari sebrang telephon.
“Shiiit, sialan!” umpat Brees.
Lalu Hisao mematikan sambungan telephon.
Max menoleh ke arah ayah nya untuk mengetahui apa yang terjadi.
“Kenapa, Yah?” tanya Max.
“Ternyata putra Gerxas tidak mengalami kelumpuhan, kelicikan mereka sangat tidak bisa kita duga, berhati-hatilah saat kau bertemu dengan nya, mungkin saja dia akan menyamar
menjadi orang lain atau bahkan tidak sama sekali,” ujar Brees.
Max menyeringai, lalu tersenyum ke arah ayah nya dan yang lainnya membuat mereka
semua mengerutkan keningnya melihat tingkah Max itu.
“Kenapa kau tersenyum?” tanya Brees.
“Kita tidak selemah itu, Ayah! Aku dan Saguna telah mengetahuinya!”
Semua yang mendengar perkataan dari Max sungguh terkejut dan menatap dirinya tidak
percaya.
“Dia emang orang yang licik, tetapi kita jangan berfikir mereka lebih kuat karena itu bisa
menghancurkan mental kita dan juga jangan berbangga diri merasa lebih kuat itu bisa membuat kita jatuh ke lembah kehancuran, apa kalian paham apa maksudku?” tanya Max.
Semua mengangguk dan menyeringai lalu bangkit dari posisi masing-masing.
“Gerxas tidak mengetahui kalau kita telah mengetahui rencana mereka saat ini,
bersikaplah seperti tidak akan kejadian apapun, mungkin saja salah satu anak buah Gerxas telah sampai disini, dan memantau kegiatan kita, dan menyerang di saat kita lengah, dan itu dapat kita jadikan sebagai siasat untuk menghancurkan
mereka lebih cepat.” Max langsung berdiri dan menuju ruangan yang dimana telah terpasang cctv hingga Max memantau dari ruangan tersebut.
Kelompok Saguna bertugas untuk menyebarkan berita palsu agar semua masyarakat di daerah situ segera meninggalkan rumah mereka dan agar tidak mengetahui kejadian malam ini.
Kelompok Will dan Volker mengendarai mobil untuk menuju suatu perusahaan milik Mexmar
untuk menjaganya karena disitu ada salah satu aset berharga milik Mexmar.
“Will, kau berjaga disini dan bawa beberapa anggotamu, kita semua akan berpencar ada yang dilantai aku akan berjaga di rofftop,” perintah Volker.
“Siap, laksanakan.” jawab semuanya.
Will yang berjaga dilantai bawah beserta lima puluh anggota nya langsung memencar
bersembunyi sedangkan Volker dengan yang lain nya langsung naik ke atas.
Earpice masing-masing ketua kelompok berbunyi.
“Semua telah bersiap-siap?” tanya Max.
“Siap, Tuan Muda!”
“Bahkan kami sudah tidak sabar untuk menghancurkan Gerxas,” ujar Volker dan disetujui dengan
lainnya.
Max menyeringai, “Tetaplah bersikap biasa saja jangan terlalu membanggakan diri,
tetapi tanamkan di diri kalian semua harus berusaha dengan segenap jiwa kalian,
lebih baik mati daripada harus pulang membawa kekalahan, ingat kejadian beberapa
tahun lalu untuk membakar semangat kalian, salam Mexmar."
Semua kepala tim tersenyum lalu menatap lurus kedepan dengan seringai dengan semangat yang
penuh.
Max melihat di sebuah salah satu cctv terdapat seorang lelaki berperawakan tinggi kurus dan
juga rambut yang keriting dengan usia yang terbilang tua.
Bersambung....
jangan lupa untuk beri dukungan di karya ini terus yaa, agar author terus semangat untuk melanjutkan kisah mereka, love you all.