
"Kenapa Saguna?" Tanya Fayza.
"Kak Saguna berantem di depan,"
Semua membelalakkan matanya lalu segera berlari keluar mengikuti Verin, Fayza tentu saja masih sangat khawatir tentang keadaan Saguna. Tetapi Zoya tidak sanggup berlari dia hanya bisa berjalan dengan hati-hati di tuntun oleh Geisha.
Saat tiba di depan, Fayza membalalakan matanya lalu mendekat.
Plakk!
Tamparan keras mendarat di pipi Saguna dan Fayza menatap tajam kearahnya. Lalu melirik ke lelaki yang akan menjadi tunangannya hari ini.
"Za-"
"Berhenti bicara, mau kau apasih, Guna?"
"Aku nggak mau kau tunangan sama bajingan itu!"
"Apa hakmu ngelarang diriku? Kau nggak punya hak apapun, ini kehidupanku dan kau nggak berhak ikut campur!" Teriak Fayza meneteskan air mata.
Semua terdiam dan tidak ada yang ingin ikut campur, sekalipun itu kedua orang tua Fayza. Karena mereka mengetahui siapa itu Saguna. Mereka hanya bingung kenapa Saguna bisa mengenal putrinya.
"Aku berhak, karena aku mencintaimu!" Ujar Saguna tidak kalah kuat.
"Kau, dirimu semua milikku lelaki manapun nggak berhak ada di sampingmu."
"Jadi menurutmu kau berhak dismpingku?" Tanya Fayza sinis.
Fayza melirik keseluruh tempat acara akan dimulai tamu yang berdatangan pun mempertontonkan mereka.
"Aku tau siapa lelaki itu, Za! Dia brengsek dan aku nggak rela kau sama dia!"
"Kau lebih brengsek, Saguna! Kau selalu mempermainkan perasaan ku, apa kau sebut itu perilaku mulia mu, ha?"
"Kau sudah menghancurkan acaraku, apa yang kau mau?"
Saguna menarik tangan Fayza menjauh dari tempat itu namun Fayza berusaha memberontak tetapi tidak bisa karena cengkraman Saguna lebih kuat.
Orang tua Fayza ingin menghentikan Saguna tetapi ditahan oleh Zoya.
"Tante, Om! Biarkan mereka menyelesaikan perasaan mereka terlebih dahulu, saya mengenal Saguna dia tidak akan menyakiti Fayza mereka saling mencintai," jelas Fayza.
"Karena kalian nggak pernah ingin mendengar penjelasan nya sedikitpun, kalaupun Tante bisa mendengarkan nya, Om belum tentu mau mendengarkan nya, bukan? Itulah alasannya,"
"Ya ampun, Pa!" Mama nya menangis dipelukan suaminya.
"Apa kita terlalu kejam kepada, Fayza?" Tanya papa nya.
Zoya menarik nafasnya, "Setiap anak punya hak untuk kehidupan nya sesuai keinginan nya, selagi itu baik untuk dirinya kalian harus mendukungnya. Hanya itu yang Fayza inginkan dari dulu."
"Jadi, kami harus berbuat apa?" Tanya mama nya yang merasa bersalah.
"Apapun nanti keputusan Fayza maka terimalah,"
Mereka berdua mengangguk lalu saling bertatap. Sedangkan Khansa dan Zoya tersenyum.
Saguna membawa Fayza menjauh dari keramaian. Fayza menarik tangannya kuat dari Saguna lalu ia terhenti dan menatap kebelakang.
"Maksudmu apa?"
"Dia lelaki penjahat kelamin, dia selalu berganti-ganti pasangan untuk memuaskan hasratnya, aku nggak mau kau menikah dengan lelaki seperti itu!"
"Terus seperti apa? Dirimu?"
Saguna terdiam, Fayza tersenyum sinis.
"Kau datang kesini karena mengetahui kalau Geisha akan menikah dengan orang lain, makanya kau menoleh ke arahku? Hanya sebatas itukah posisiku disini!" Fayza menunjuk hati Saguna.
"Kau salah paham!"
"Salah paham?"
"Aku nggak benci dirimu karena nggak balas perasaan ku, tapi menjauhlah karena aku ingin hidup tanpa bayangan dirimu!"
Saguna menarik tubuh Fayza dan membawanya kedalam dekapannya dengan erat.
Fayza berusaha berontak tapi tidak bisa melepaskan nya, tidak bisa dipungkiri emang inilah yang dibutuhkan Fayza di keadaan seperti ini, hanya hangat peluk nya yang bisa nenangin dirinya, Fayza membalas pelukan itu.
Saguna mengeratkan kembali pelukannya, lalu melepaskan nya dan mencium bibir Fayza tetapi tidak ada reaksi apapun dari Fayza membuat Saguna semakin dalam mencium nya, Fayza mendorong tubuh Saguna.