King Mafia Vs Bad Girl

King Mafia Vs Bad Girl
Pertunangan Fayza



"Kalian yakin nggak ada yang disembunyikan dariku?" tanya Zoya.


Khansa menatap Zoya dengan lembut lalu mendekat, "Hari ini mertua kamu dan yang lainnya akan dimakamkan."


"Khansa," panggil Zoya lirih.


"Iya,"


"Apa mungkin benar aku pembawa sial?" Tanya Zoya.


"Bagaimana mungkin, kenapa kau bicara seperti itu?"


"Karena setiap orang yang yang aku sayang selalu pergi ninggalinku! Aku nggak mau jadi pembawa sial untuk kalian lagi!"


"Setelah ini, kalian boleh pergi ke kehidupan kalian lagi dan jauhiku!"


"Hei, berhenti bicara seperti itu!" Khansa protes dan menghapus air mata Zoya.


"Pergilah!" Teriak Zoya.


"Nggak, kau kenapa jadi gini sih! Semua udah takdir, hidup atau mati seseorang itu ditangan tuhan bukan karena dirimu, berhenti buat asumsi seperti itu!" Sungut Fayza.


"Kalian nggak tau apa-apa tentang hidupku, lebih baik kalian pergi sekarang juga!" Zoya berteriak.


Tangis Zoya kembali pecah, Khansa melepas pelukannya lalu menatap Zoya.


"Setelah kami pergi kau mau melakukan apa, Zoya?"


"Menyakiti dirimu?"


"Berhenti bersikap seperti ini setiap ada yang meninggalkanmu, ini sudah tertulis kapan mereka pergi dan dengan cara apa, itu bukan karenamu! Kami sayang samamu, jangan Bebani semua dipikiranmu,"


Zoya menatap mereka satu-persatu dengan tatapan sedih lalu menunduk.


"Dimana ruangan, Max?"


"Gimana keadaan nya?"


Khansa melirik ke Fayza, Fayza menganggukkan kepalanya agar Khansa mengantarnya.


Zoya pikirannya sangat kacau, lalu Khansa mendorong kursi roda Zoya menuju ruangan Max.


Max yang tubuhnya penuh alat bantu untuk bertahan hidup, Max yang tetap gagah walaupun dirinya saat ini sangat lemah.


Khansa pergi meninggalkan Zoya sendiri, Zoya memegang tangan Max lalu menciumnya dengan terisak.


"Sayang, bertahanlah kami membutuhkan dirimu!"


"Anak kita menunggumu,"


"Aku akan tunggu kamu beberapa jam disini tapi janji harus bangun, kau pernah bilang akan membawaku pergi jauh dari negara ini dan kekacauan ini, bukan? Aku masih menanti janji itu, kamu berhutang padaku,"


"Maxxx..." Tangis Zoya kembali pecah dan membawa tangan Max kedalam pelukannya.


Setelah beberapa jam Fayza memasuki ruangan, lalu menepuk pelan pundak Zoya.


"Kamu pulang ke rumahku dulu ya," ujar Fayza.


Zoya menggeleng.


"Aku akan disini aja!"


"Aku akan pergi ke apartemen Max, Fayza kapan Max akan sadar?"


"Za-"


"Dokter bahkan nggak bisa mengetahuinya, luka yang dialami Max sungguh parah, kita berdoa saja agar Max segera sadar," ujar Fayza.


"Saguna?" Tanyanya.


"Sama, kita hanya menunggu keajaiban saja!"


"Kalau gitu aku akan ikut dirimu ke apartemen! Aku nggak mau kau tinggal sendiri,"


"Aku nggak apa-apa, kalian jangan khawatir!"


"Za, besok temani aku kesini lagi ya!"


Fayza mengangguk.


Hari demi hari berlalu tanpa terasa Max juga belum sadar, tetapi Amar, Haider dan Saguna telah sadar. Beberapa anggota lainnya telah pulih kembali tetapi tidak dengan Max. Dia masih betah sekali dengan ketenangannya saat ini.


Dua bulan telah berlalu, Saguna dan yang lainnya membangun kembali mansion utama Mexmar di posisi yang sama dan ditempat yang sama, karena sudah dua bulan Max belum juga sadar.


Mereka membawa Max kembali kerumah dengan membeli seluruh alat yang terpasang ditubuh Max agar bisa dirawat dirumah, kehamilan Zoya semakin membesar dan agar tidak membahayakan nya selalu pulang balik kerumah sakit.


"Sayang, lihat perutku semakin membesar! apa kau tidak ingin melihatnya?" tanya Zoya.


"Aku akan tetap menunggumu, kau harus tetap berjuang ya!"


"Kami merindukanmu,"


Zoya berusaha menerima keadaannya dengan baik dan ikhlas, mencoba beradaptasi dengan semuanya.


Dikediaman keluarga Fayza.


Kehidupan terus berjalan, tepat dihari ini adalah pertunangan Fayza dengan calon yang dijodohkan ayahnya, Saguna belum memantapkan hatinya dan belum memberikan kepastian kepada Fayza hingga Fayza memilih dan menerima pertunangan tersebut.


"Za, kau yakin?" Tanya Khansa.


Fayza melihat dirinya di depan cermin, bahkan senyuman pun tidak muncul di wajah cantik itu.


"Lebih baik begini, aku dan Saguna tidak memiliki garis takdir untuk bersama, sudah cukup dua bulan ini aku menunggunya! Terlebih lagi aku baru tau, kalau ternyata dia memiliki masalalu dengan Geisha, dan sampai saat ini dia masih mencintainya,"


"Aku nggak ingin mengganggu mereka lagi, pantes aku melihat ada gelagat lain dari Geisha saat aku bersama Saguna, biarlah kita berjalan di jalan masing-masing. Aku akan mengikhlaskan nya, dan mencoba menerima hidupku saat ini,"


Khansa memeluk Fayza lalu tersenyum hangat kepadanya.


"Kamu cantik banget," ujar Fayza.


Di mansion utama.


Saguna sedang berfikir dan duduk diruang tamu, lalu Zoya mendekatinya.


"Guna, hari ini adalah hari pertunangan Fayza,"


"Apa kau yakin tidak akan datang?"


"Aku hanya berharap kau tidak akan menyesal dengan keputusanmu!"


Bersambung....