
Semua yang menyaksikan hal itu hanya menatap dan menunggu perintah dari Max, Max menarik kerah baju Genta dan mencekiknya.
"Apa kau bodoh? kenapa kau percaya dengan surat seperti itu? dan apa kau kira kami akan percaya dan mengasihanimu?" sungut Max.
Zoya melepas tangan Max dari Genta, membuat Max menatap istrinya itu dengan mengerutkan keningnya.
"Kau baru saja pulih, jangan pergunakan banyak tenagamu. Kau harus istirahat serahkan semua pada Haider dan Amar," ujar Zoya.
Max mengerti lalu menatap tajam Genta kembali, semua bisa melihat kalau dari tatapannya ia tidak berbohong sama sekali.
"Genta, beri tahu aku dimana keberadaan Alex?" tanya Max.
"Alex telah tiada. Saat dia naik keatas helikopter dengan keadaan yang sekarat, aku berada di dalamnya dan menyuruh mereka untuk meletakkan disebuah pulau kecil negara B. Setelah kami berdua disana, dia memohon kepadaku untuk membawanya kerumah sakit, tetapi aku hanya membawanya ke pengobatan desa di dekat pulau itu. Setelah dia pulih aku langsung membunuhnya menggunakan pistol ini!"
"Bahkan jasadnya masih didalam peti, dan tubuhnya sudah hancur, aku memberi formalin agar awet dan membawanya kepada kalian. tetapi kalian tidak memberikan aku jalan, peti nya masih berada di pulau itu." jelas Genta.
"Haider dan Amar bawa beberapa anggota untuk menuju pulau itu dan bawalah peti itu kehadapanku!" perintah Max.
"Siap tuan muda."
"Pastikan dengan cara apapun kalau itu benar jasad Alex."
Amar dan Haider pamit undur diri dan langsung bergegas untuk mempersiapkan perlengkapan.
"Saguna, maafkan aku malam pertamamu tidak berjalan lancar. Silahkan kembali kepada Fayza biarkan Genta aku yang mengurusnya!"
"Tidak, Max. Kau baru saja pulih, jangan pikirkan hal yang lain, Genta biar aku yang mengurusnya dan memberinya hukuman!"
"Saguna, kembali kepada Fayza. Masih banyak anggota lainnya, kau tak perlu khawatir!" ujar Zoya.
"Tapi-"
Saguna mengangguk dan menyetujui nya lalu kembali kedalam gedung. Omar lelaki tua itu, mendatangi tempat tersebut, dan membawa Genta masuk kedalam ruangan bawah tanah. setelah peti itu ditemukan maka Genta baru bisa menerima hukuman nya.
Setelah semua kembali ketempat masing-masing. Zoya mengajak Max untuk kembali pulang, Max berusaha menahan emosinya karena ia tidak ingin terluka lagi dan membuat semua orang jadi kesusahan karena dirinya.
Sesampainya di mansion utama, Zoya membantu Max untuk pindah ke atas ranjang dengan hati-hati.
"Sayang, apa kau tidak malu dengan keadaan ku saat ini?" tanya Max.
"Kenapa harus malu? apa kau tidak tau hampir tiap hari aku ingin menjambak rambutmu agar kau segera sadar." ketus Zoya merapikan tempat tidur baby twins, Zoya tidak ingin pisah kamar dengan baby nya saat malam hari.
"Apa kau yakin dengan omonganmu?"
Setelah meletakkan dengan baik, dan melihat putra dan putrinya tertidur dengan nyenyak. Zoya menatap Max.
"Yakinlah, bahkan aku tadi berencana ingin mencubit kepemilikanmu biar kau segera bangun."
Max tertawa lalu merentangkan tangannya agar Zoya mendekat, Zoya naik keatas ranjang dan memeluk suaminya, rasanya sungguh bahagia sekali.
"Jangan pernah tinggalin aku lagi!"
"Aku nggak pernah bosan menunggumu untuk bangun, dan bahkan aku lebih memilih menunggumu untuk bangun daripada aku harus merelakan mereka semua melepas alat yang terpasang di tubuhmu." ujar Zoya meneteskan air matanya.
Max mencium kening istrinya dan menghapus air mata itu, Max sungguh menjadi seperti pria yang sangat lemah dan menyusahkan saat ini. Dia tidak tega melihat istri nya kesusahan karena dirinya.
cup!
Max mencium bibir Zoya dengan lembut, karena tidak ada pergerakan dari Zoya, Max langsung menyesapnya dengan lembut.
bersambung....