King Mafia Vs Bad Girl

King Mafia Vs Bad Girl
Teka-teki meresahkan



"Pesan?" Amar mendekat dan meraih surat tersebut.


Tujuh Kilometer dari arah selatan, Pohon Besar.


See You.


Semua mendengar teka-teki itu mengerutkan keningnya, sebenarnya ada apa? kenapa ada teka-teki berada disini.


"Sialan? apa ini kita dikerjain oleh Genta?" sungut Amar.


"Dendra dan Haikal disini sudah hampir pukul empat sore, kembali kesana dan bawa mereka menuju kesini." perintah Amar.


"Baik ketua." mereka langsung berlari menuju titik perkumpulan.


"Sialan, ayo buka peti ini."


sangat sulit membuka peti yang terpendam tanah, mereka menggali kembali untuk memperlebar lubang itu, sekitar setengah jam lamanya mereka manggali lubang itu dengan kesusahan, karena harus sering tahan nafas agar bau itu tidak masuk ke Indra penciuman.


Bau busuk yang sungguh menyeruak, membuat mereka mual berulang kali.


Dendra dan Haikal sampai dititik perkumpulan lewat lima belas menit, semua telah menunggu.


"Dendra, dimana Amar?" tanya Haider.


"Kami telah menemukan sebuah peti dengan bau busuk, lebih mengejutkannya disitu tertulis sebuah teka-teki! jadi kita harus pergi kesana untuk memastikan ada apa sebenarnya disini!" jelas Dendra.


"Teka-teki?"


"Ayo kita segera kesana, kita nggak punya banyak waktu."


semua berlari menuju tempat tersebut, ternyata menuju tempat itu membutuhkan waktu setengah jam.


"Hais, bau apa ini?"


"Sialan, bangkai apa itu?"


"Apa itu jasad badebah itu?"


Pertanyaan mereka belum bisa terjawab karena Amar dan yang lainnya menunggu kedatangan mereka untuk menyaksikan, dibalik peti itu.


"Mar, ini jasad Alex?"


"Entahlah, sepertinya bukan."


"Buka sajalah."


Sekitar empat orang membuka peti tersebut, karena emang petinya sudah sangat berat dan terlebih lagi kondisinya sudah sangat buruk.


Ketika peti itu terbuka semua memalingkan wajah dan menutup rapat-rapat indra penciuman mereka.


"Baru kali ini aku menemukan hal yang sangat bau melebihi bau badanmu, Der." Haider langsung menatap tajam ke arah Amar yang meledeknya.


"Haha, oke stop." Amar berjalan menuju peti itu dan memastikan didalamnya.


"Tutup." perintah Haider.


"Siapa yang melakukan ini?"


"Genta?"


"untuk apa Genta melakukan ini, siapa wanita ini?" tanya Dendra.


"Haider, bisa kau cari tau identitas mereka?" tanya Amar.


"Mereka sepertinya jasad yang dikasih formalin, kalau dilihat jasad nya baru berusia satu bulanan lebih," jelas Haider.


Haider mencoba segala cara untuk mengetahui identitas wanita itu.


"Dendra, apa kau bawa semua peralatan penerangan?"


"Bawa, masing-masing sudah membawa miliknya. punya anda berada di tas ku," jelas Dendra.


"Boom? pistol? senjata lainnya?"


"Sudah lengkap."


"Bagus, karena aku punya firasat yang buruk saat ini." jelas Amar.


"Kamipun juga merasakan hal yang janggal disini." ujar Kelvin.


"Ntahlah apa yang mereka rencanakan, kita harus terus berjuang mengalahkan mereka." tegas Amar.


semua mengangguk pertanda setuju dengan usul dari Amar, karena Mexmar tidak ingin mengibarkan bendera kekalahan lagi untuk ke dua kalinya. Jika hancur maka hancurlah tim lawan, jika harus mati demi memenangkannya itu lebih baik daripada hidup dalam kekalahan.


"Haider, apa kau sudah menemukan identitas mereka?"


"Belum."


Saat Haider hampir berhasil, sinyal di tempat itu kembali hilang.


"Arghhh, sialan." Haider frustasi menendang udara.


"Kenapa?"


"Sinyal hilang lagi."


Amar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mereka berputar-putar disekitar itu untuk mencari sinyal kembali agar bisa terhubung dan segera menemukan identitas mereka.


"Aku tidak peduli siapa wanita itu? tetapi aku curiga kenapa di atas peti mereka. seseorang meninggalkan teka-teki seakan mereka tau kalau ada yang bakal menemukan jasad ini," ujar Amar.


"Ha, ini dia." teriak Haider dan semua langsung berlari menuju padanya.


bersambung....


ayo ayo komentar dong, dan jangan pelit like yaa. Dan jangan lupa Vote nya juga. Kenapa novelnya jadi sangat sepi😭 hayo tunjukkan diri kalian😅 biar author semangat 🥰❤️