
Setelah selesai membuatkan minuman Zoya langsung memberikan nya pada Max dan meletakkan nya tepat di hadapannya lalu duduk di depan Max dengan menjaga jarak takut kejadian di mobil terjadi lagi disini, Max telah merenggut ciuman pertama milik Zoya bagaimana Zoya tidak terus kepikiran soal itu bahkan selalu terbayang-bayang saat dimana Max mencium dirinya dengan sangat lembut.
"Minumlah!"
Max memperhatikan minumannya dengan seksama membuat Zoya mengerutkan keningnya dan ingin sekali memukul kepala Max.
"Kenapa dilihatin begitu, aku gak punya stok sianida disini jadi aman," ketus Zoya.
"Oh, baguslah!" Ujar Max datar dan langsung meminumnya.
Cih, makhluk macam apa dia ini, batin Zoya.
"Lumayan, apa kau yang membuatnya?"
"Tentu,"
"Jangan percaya diri, aku kesini mau menghukummu atas kejadian kau kabur dan membuatku susah hingga membuang waktu dengan sia-sia karena kau!" Ujar Max dengan ketus.
"Aku gak salah apa-apa disini, kau yang mengkhawatirkan ku sampai seperti itu karena dirimu sendiri bukan aku!" Ujar Zoya menusuk tepat jantung Max.
"Si...siapa yang khawatir samamu? Itu hanya tindakan terpuji seorang Max!" Ujar Max mencari alasan.
Zoya hanya memajukan bibirnya dan memutar bola matanya malas, walaupun sebenarnya hati nya sangat senang Max berusaha mencari dan khawatir akan keadaan nya terlebih saat tadi pertama ketemu, walaupun Max tidak memberitahukannya pada Zoya tetapi Zoya sudah bisa menebak, walau sebenarnya dia tidak sepenuhnya yakin akan hal itu, namun berharap tidak akan merugikan dirinya.
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam membuat Khansa keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Zoya.
"Sudah waktunya, apa kau tidak akan bersiap siap?" Bisik Khansa.
"Untuk apa?"
"Makan malam di rumah lelaki itu!" Bisik Khansa dengan mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Max.
Max yang mendengar nya langsung memasang wajah tidak bersahabat dan melotot ke arah Zoya lalu melirik ke Khansa dan dibalas oleh tatapan tajam milik Khansa walaupun tatapan tajam nya terlihat seperti tatapan kucing imut.
"Apa kau mau ikut dengan kami?" Ajak Khansa dengan malas.
"Gak ada yang boleh pergi, terlebih lagi Zoya!" Ujar Max menatap Zoya tajam.
"Kenapa tidak boleh, kau bukan siapa-siapa nya Zoya jadi jangan suka menindas nya!" Ketus Khansa.
"Dia calon istriku!" Jawab Max dengan spontan.
Zoya yang mendengarnya langsung terkejut dan menatap Max tidak percaya akan perkataan nya tadi begitupun dengan Khansa yang langsung melirik ke arah Zoya.
"Buk...buktinya apa?" Tanya Khansa.
"Nanti, gak sekarang!" Ujar Max langsung menidurkan dirinya di sofa.
"Intinya gak ada yang boleh keluar dari apartemen ini apalagi kerumah siapa?" Tanya Max.
"Ha apapun itu gak boleh!" Jawab Max lalu memejamkan mata nya.
Khansa sangat kesal lalu membalikan tatapan nya pada Zoya.
"Apa benar dia bicara seperti itu padamu? Kau benar akan menikah dengannya? Kenapa kau gak cerita sama ku tadi Zoyaaaa?" Cerocos Khansa.
"Aku gak tau, sudahlah kita gak usah pergi kau bilang ke Erlan kalau kita ada halangan hadir," ujar Zoya.
"Okedeh!" Ujar Khansa lemas dan memasuki kamarnya.
Sedangkan Zoya juga masuk ke dalam kamarnya membersihkan dirinya, Zoya mengganti bajunya dengan handuk mandi lalu masuk ke dalam kamar mandi dan berendam di bathtub dan sambil pikirannya menghayal sangat jauh.
"Apa benar Max ingin menikahi ku?"
"Apa tadi itu hanya alasannya aja?"
"Atau itu hanya asal bicara saja?"
"Aahhhhhhh, bodo amat lah! Lagian dia gak suka samaku! Siapa bilang harapan gak merugikan, harapan itu merugikan diriku sendiri!"
Zoya langsung merendam seluruh tubuhnya dan memasukkan kepalanya ke dalam rendaman air. Berusaha menetralisir perasaan nya agar tidak berharap berlebihan karena seorang Max pastilah tetap seorang Max yang kejam dan tidak memiliki hati.
Tokkk...tokkk...
Pintu apartemen ada yang mengetuk membuat tidur Max terbangun dan segera bangkit membukakan pintu dan pandangannya jatuh kepada lelaki yang sedang berdiri di depan pintu membuatnya mengerutkan keningnya dan seperti melihat orang yang tidak asing bagi nya lalu berusaha mengingat siapa lelaki itu namun tidak juga dia mengingat nya, di depannya berdiri seorang lelaki yang juga sedang menatap nya lekat dan memperhatikan dari atas ke bawah sama hal nya dengan Max, Erlan seperti tidak asing dengan lelaki di depan nya ini namun dia tidak menemukan siapapun yang dikenal nya.
"Kau siapa? Apa petugas kebersihan?" Tanya Max.
"Apa kau tidak bisa menggunakan matamu dengan baik?" Sungut Erlan.
"Hei, kenapa kau malah ngotot kepadaku? Apa urusan kau datang kesini, cepat beritahu!" Perintah Max.
"Aku ingin menjemput Zoya dan Khansa, dan kau sendiri siapa? kenapa berada di apartemen perempuan atau kau seorang penjahat kelamin?" Tanya Erlan dengan kuat.
"Pergunakan mulut mu dengan baik kalau kau tidak ingin kehilangan nyawamu sekarang juga, segera pergi karena Zoya tidak ingin pergi ketempat mu!"
"Haha kau siapa berhak melarang Zoya? Apa kau ayah nya? Tapi sangat tidak cocok Zoya memiliki ayah seperti mu!"
"Anj*ng, sialan!" Bughh Bogeman mentah tepat terkena muka Erlan.
Zoya yang sudah selesai mandi dan berpakaian mendengar keributan di luar dan langsung keluar dari kamar nya begitupun dengan Khansa yang juga ikut berlari.
"Wow!" Ujar Khansa tertegun melihat pertarungan mereka berdua.
"Bantu pisahkan, kau pegang Erlan!" Perintah Zoya.
Khansa yang mendengar nya merasa tidak setuju dengan usul Zoya karena bisa-bisa dia yang terkana Bogeman Max yang membuatnya meneguk saliva nya namun tidak ada jalan lain, dia langsung berlari menahan tubuh Erlan sedangkan Zoya menahan tubuh Max.
"Stop! Apa yang kalian lakukan? Max stop kenapa kau sangat liar begini?" Tanya Max saat mendorong tubuh Max menjauh dari Erlan.
Max hanya menatap Zoya sekilas lalu kembali kepada lelaki itu.
"Stop Erlan, apa kau tau dia King Mafia kau tidak bisa mengalahkan nya! Kalau kau mau menang gak bisa!" Ujar Khansa.
Saat emosi Erlan sedikit mereda dia langsung menatap Khansa yang sedang menenangkan nya.
"Ikut aku!" Ajak Khansa menarik tangan Erlan keluar dari apartemen dan pergi jauh.
Namun pandangan Max tetap menuju kepada punggung lelaki itu dengan emosi. Zoya langsung menarik wajah Max agar mengarah kepada nya dan menatap Max.
"Kenapa kau menghajarnya?"
"Kenapa? Apa kau suka padanya, ha?"
"Jawab pertanyaan ku, Max!"
"Karena ulah dirinya sendiri!"
"Kenapa kau menghajar Erlan, ha?" Tanya Zoya sekali lagi.
Max yang mendengar nama Erlan disebut langsung menatap Zoya lekat.
"Apa kau bilang, Erlan?" Tanya Max dengan terkejut.
"Ii..iya Erlan! Kau kenapa?"
Max menjauh dan sedang berfikir mengingat siapa lelaki itu, dengan wajah yang tidak asing dan nama yang juga tidak asing.
"Kau kenapa berputar-putar seperti itu, Max?" Tanya Zoya kesal dan menarik tubuh Max dan menahannya agar berhenti karena itu membuat nya sangat pusing.
"Apa kau kenal dengan Erlan?" Tanya Zoya.
"Ntahlah, seperti nya tidak asing!" Ujar Max duduk dan memegang kepalanya yang tidak pusing.
"Serius? Dia juga pernah cerita samaku kalau dia punya kenalan di negara Y!" Ujar Zoya.
Max langsung menatap Zoya dengan lekat dan ingin terus mendengar pembicaraan Zoya selanjutnya.
Bersambung ...
semoga suka dengan part ini yaa, jangan lupa like, komentar, gift, bintang 5 dan juga tekan tombol favorit. kalau boleh kalian share novel ini biar semakin berkembang 🙏🥰❤️
makasih buat semua dukungan nya, love you all❤️
hmm kira kira Erlan siapa ya ?
....
Dan ini author juga mau ngerekomendasikan novel yang juga menarik semoga suka❤️