King Mafia Vs Bad Girl

King Mafia Vs Bad Girl
Keberadaan Putra Gerxas



Sensei menyeduh kembali kopi nya, dan menatap Max lalu bergantian menatap Zoya dan Verin.


"Sebuah pulau kecil di negara ini juga yang mereka bangun menjadi sebuah kecil di dekat nya, membentuk kekuatan Gerxas lebih besar lagi!" Ujar sensei lalu menatap Max tajam.


"Namanya adalah Agra Gerxas, seorang pria lumpuh namun memiliki otak yang licik!"


Max menyeringai, "Lumpuh? Kenapa pria payah harus disembunyikan seperti itu?"


"Karena dia memiliki otak dan siasat yang licik! Sekaligus kelemahan dari Gerxas, kelemahan pertama nya adalah Agra, dan kelemahan lainnya silahkan introgasi Dega yang telah kalian tangkap!" Ujar kakek.


"Agra? Pria lumpuh?" Tanya Max.


"Jadi kawanku adalah pria lumpuh?" Tanya Max dengan meremehkan.


"Jangan pernah meremehkan kekuatan lawan, dia dilatih di pulau itu dengan sangat kuat dan kejam, saat ini dia sudah bisa berjalan lagi atau tidak, aku tidak mengetahuinya! Kau kembali lah kenegaramu! Aku akan kembali kepulau itu, karena aku adalah salah satu guru disana yang melatih dirinya!" Ujar sensei dengan seringai.


Max dan yang lainnya mendengar perkataan sensei sungguh terkejut, setiap perkataan nya selalu ada kejutan yang membuat setiap orang yang mendengarnya selalu membelalakkan mata nya.


"Maaf, Sensei! Kenapa kau bisa menjadi pelatih disana?" Tanya Zoya.


"Itu sebab nya aku tidak ingin berperang ikut dengan Mexmar, Gerxas sampai sekarang tidak mengetahui kalau Sensei Hisao adalah mata-mata milik Mexmar.


"Kenapa tidak pernah cerita sebelumnya? Kalau begitu gak susah payah menangkap Dega, dan sekarang dia sudah tidak berguna lagi?" Tanya Max dengan kesal.


"Kenapa aku tidak menghalangi langkah kalian? Karena Dega pasti memiliki informasi yang aku sendiri belum mengetahui nya! Kembalilah, hancurkan tubuh Dega saat dia tidak ingin membuka mulut!" Perintah sensei.


"Karna informasi yang keluar dari dirinya akan sangat sulit, makanya bawa ini sebagai kartu untuk bisa membuka mulut nya!" Ujar Sensei memberikan sebuah bukti dan foto.


"Foto anak kecil? Ini siapa?" Tanya Zoya.


"Itu adalah putri nya yang sangat ia sayangi! Karena apapun yang dia lakukan di dunia ini demi kehidupan dan kebahagiaan putrinya!" Ujar Sensei kembali.


"Dimana sekarang putrinya?" Tanya Max.


"Dia berada di negara P di asuh oleh seorang wanita paruh baya!" Ujar Sensei.


"Dia di dalam pengawasan ku! Kau tenang saja, segeralah pergi kembali ke negara Y!" Perintah sensei.


"Baiklah, terimakasih Sensei, kalau begitu aku dan Zoya pamit pergi!" Ujar Max berdiri dan membungkuk memberi hormat begitupun dengan Zoya.


"Kek, Verin mau ikut bersama mereka! Apa boleh?" Tanya Verin kepada kakaknya.


"Tidak sekarang, nanti ada waktunya kau dibutuhkan! Lebih pelajari ilmu bela dirimu dan perkuat ingatanmu, agar bisa menjadi pengganti ku!" Ujar Sensei.


"Hmm, baiklah kek!" Ujar Verin.


Verin berlari keluar, melambaikan tangan kepada Zoya dan dibalas lambaian tangan juga oleh Zoya.


.....


Di sebuah markas Mexmar ada satu ruangan yang sangat ditakuti oleh seluruh anggota Mexmar, dan mereka sangat berhati-hati agar tidak berujung ke ruangan itu karena melakukan kesalahan fatal atau berkhianat.


"Hmmm," dehem kuat dari Dega yang ingin melepaskan ikatan tangannya dari para anggota Mexmar.


Namun karena Volker yang menjadi bagian untuk membawa Dega ke dalam, sangat muak dengan sikap membantah dari Dega hingga di tendang bokongg nya membuat Dega tersungkur jatuh ke bawah yang memiliki banyak kerikil tajam, membuat wajah Dega penuh dengan goresan luka dan bersimbah darah.


Setelah luka yang dihasilkan dari tembakan Max itu, telah berhasil di obati dan dikeluarkan peluru yang masih ada di tubuhnya Dega. Setelah itu badan Dega penuh dengan perban lalu dipakaikan kembali baju ungu tua sebagai lambang baju tahanan ruangan mengerikan itu. Siapapun yang akan memasuki ruangan itu dilarang memakai baju bewarna ungu tua karena akan berakibat fatal.


Volker mencengkram dagu Dega dengan kuat dan menunjukkan taring gigi nya lalu menatap tajam manik mata milik Dega, "Kau mau mati saat ini juga?"


"Cihh, bahkan nyawa seseorang berada di tanganku! Kenapa aku harus takut kepada kalian, kenapa kalian mengincarku? Haha pria busuk seperti kalian itu tidak pantas ada di dunia, kalian lah yang telah menghancurkan dunia hingga menjadi seburuk ini, badebah!" Sungut Dega.


Bughhh! Bogem mentah melayang tepay di hidung Dega hingga mengeluarkan darah segar yang begitu kental dan meremukkan tulang hidungnya.


"Anj, sialan kau!" Sungut Volker.


"Lepaskan baju terkutuk kalian ini dari tubuhku, atau kalian akan..." Ancam Dega.


Saguna yang baru datang langsung menghantam kembali wajah Dega menggunakan pistol yang ia pegang, lalu mencekram dagunya kuat menatap tajam ke arah Dega.


"Apa rahasia yang kau ketehui tentang Gerxas?" Tanya Saguna.


Dega hanya tersenyum meremehkan lalu meludah ke arah wajah Saguna, "Anj, sialan kau!" Bughhh! Bughhh Bogeman mentah mendarat lagi.


Semua yang melihatnya langsung mengarahkan pistol nya ke arah Dega. Dega adalah orang yang cukup berbahaya, karena dia berani masuk ke dalam penjualan organ secara ilegal. Maka untuk berhadapan dengannya harus dengan cara licik juga.


"Bawa dia keruangan hitam itu!" Perintah Saguna.


Max dan Zoya telah sampai di markas Mexmar dan menuju ke arah ruangan terlarang itu, mereka terus berlari hingga sampai di tempat tersebut.


"Nanti, Saguna!" Ujar Max memberhentikan.


"Aku ingin bernegosiasi dahulu dengan Dega tersayang!" Ujar Max dengan seringai.


"Bernegosiasi tentang apa?" Tanya Saguna.


"Kau lihat saja ekspresi arrogant nya yang akan berubah menjadi mellow memohon ampunan!" Ujar Max dengan seringai.


"Max, aku ingin kembali ke kamarku! Aku pamit!" Ujar Zoya mengundurkan diri dari tempat itu.


Max hanya mengangguk karena sebenarnya paham kalau Zoya masih memiliki sifat manusiawi di dirinya, dia tidak ingin melihat kekerasan terus-menerus hingga memilih tidak menyaksikan nya. Setiap kejadian seperti itu akan selalu terbayang dan adegan demi adegan selalu terputar di memori ingatannya.


Setelah ini, Max ingin menemani istrinya dan membawanya kesuatu tempat yang jauh dari kekerasan untuk sementara waktu. Lalu saat tubuh Zoya tidak terlihat lagi Max kembali membalikan tubuhnya menghadap ke arah Dega yang ternyata Dega telah menertawakan dirinya.


"Hahaha, King Mafia Mata Merah? Sangat tidak cocok dengan dirimu yang sekarang! Atau kau bisa menggantinya dengan mengajukan kepada leluhur mu Xavier yang telah mati itu, menjadi King Bucin yang sangat menjijikan!" Ujar Dega dengan tertawa.


"Jangan terpancing emosi! Dia begitu karena telah menyerahkan dirinya untuk mati disini!" Ujar Max berkata dengan tenang kepada Saguna yang telah emosi sedari tadi.


"Oh, jadi kalau kau pantasnya disebut Dega? Atau seorang ayah pembunuh buronan dunia?" Tanya Max kepada Dega dengan seringai.


Dega yang mendengar nya langsung menatap tajam ke arah Max namun berusaha tenang, karena dia mengira kalau Max hanya menggertak menggunakan kata ayah, karena yang dia ketahui adalah anak nya telah dia selamatkan dari dunia kejam ini dan tidak ada yang mengetahui nya bahkan Gerxas sekalipun.


"Kenapa kau emosi? Atau kau emang beneran seorang ayah buronan dari seorang anak yang cukup cerdas disekolah nya?" Tanya Max lagi.


"Oh, atau kau adalah seorang suami yang telah membunuh istrinya demi menjual organ dalamnya?" Tanya Max lagi dengan seringai.


Bersambung ....