
Kehidupan terus berjalan, hingga sampai dimana hari pernikahan Fayza bersama Saguna yang di adakan besar-besaran di gedung.
Erlan menggendong baby Elza Zetana Mexmar sedangkan baby Zidran Agha Mexmar di gendong oleh Khansa. Mereka berempat saling bergurau dan bercanda ria, Zoya lebih memilih duduk di salah satu kursi ditemani oleh Verin.
"Menurutmu dimana Genta berada sekarang?" tanya Zoya.
Verin langsung menatap Zoya dengan tatapan datar, "Ntahlah, kenapa sih kakak ngelarang aku untuk ngehancurin hidupnya, kalau kak Max saat ini sudah sadar pasti dia juga akan tidak membiarkan Genta berkeliaran dengan puas tanpa hambatan."
"Kita harus tau lebih dulu, penyebabnya. Genta bisa kita jadikan alat untuk mempertemukan kita dengan Alex, aku yakin badebah itu masih hidup saat ini." Mata Zoya menyiratkan kebencian.
"Kenapa nggak secepatnya kita selidiki kak?"
"Belum saatnya, sampai Elza dan Zidran telah lepas susu. Aku baru bisa meninggalkan mereka!"
"Aku hanya ingin melihat suamiku kembali sadar, sehat dan bisa bergabung sama kita semua. Max simbol dari Mexmar, kalau dia tidak segera sadar mungkin Mexmar bakalan musnah untuk selamanya dan juga kami akan pergi jauh dari sini. Tetapi hanya satu keinginanan ku semoga semua itu tidak akan terjadi,"
"Sudah satu tahun lebih dia tidak sadarkan diri, Verin." Tangis Zoya kembali pecah.
Verin langsung membawanya kedalam pelukannya, Zoya berusaha menetralisir perasaan nya. Dia tidak ingin bersedih di acara bahagia sahabatnya. Zoya mengusap kasar lalu melepas pelukan Zoya.
Khansa datang membawa Zidran kepadanya, dengan tawa yang lebar Zidran merentangkan tangannya kepada Zoya, membuat Zoya ikut tersenyum lalu memeluk Zidran.
"Anak pintar, kenapa nggak sama mama Khansa lagi?"
Zidran yang belum terlalu mengerti hanya tertawa sambil mengangkat- angkat tangannya.
Semua tamu telah berdiri dan memperlihatkan sepasang pengantin yang serasi itu berjalan dengan gagah dan anggunnya.
"1...2...3" sepasang pengantin itu berhitung, tetapi bunga tidak jadi dilempar kebelakang, dan terlihat Fayza turun dari tempat terhormatnya membuat semua orang mengerutkan keningnya.
Dia terus berjalan menuju Khansa dan Erlan, lalu memberikan nya ditangan keduanya dengan tersenyum hangat, Khansa membisu lalu menatap Erlan dengan bingung, sedangkan yang ditatap hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Fayza memeluk Khansa karena dia sangat telat mikir, Khansa langsung membalas pelukannya.
"Selamat!" Ujar Fayza tertawa dan kembali kepada suaminya.
Zoya tersenyum hangat lalu menatap putra dan putrinya dengan tertawa, andaikan Max disini! Itulah terus yang terpikirkan oleh Zoya.
Pintu besar terbuka semua mata menatap ke pintu utama, terlihat Amar berjalan dengan gagah menggunakan tuxedo hitam itu, dibelakang nya Haider sedang mendorong kursi roda yang diduduki oleh seorang lelaki membuat Zoya mengerutkan keningnya, begitupun dengan yang lainnya.
Zoya berdiri dan berjalan mendekat ntah perasaan apa yang ada dirinya, seakan semuanya menuntun Zoya untuk melangkah mendekat.
"Nona, ini suprise untukmu!" ujar Amar tersenyum haru.
"Untukku? Siapa dia, Amar?" tanya Zoya.
"Dia orang yang paling kau nantikan selama ini," ujar Amar.
Zoya mendekatkan kembali langkahnya kepada lelaki tersebut lalu membelalakkan matanya, "Max?" menatap lelaki itu dengan berbinar dan mendekat untuk memastikan apakah lelaki yang memakai topi dan kacamata hitam itu adalah suaminya.
Bersambung.....