
Genta menoleh kebelakang, lalu memandang wajah Verin dengan tatapan bersalah.
"Kenapa kau ada disini? mau jadi mata-mata siapa lagi?"
"aku tidak ingin mencari masalah, aku hanya ingin hadir dipernikahan Saguna."
"Siapa yang mengundang badebah sepertimu?" tanya Verin.
Didalam gedung semua kehilangan Verin, acara telah selesai tetapi Verin tidak terlihat. Haider pusing mencari anak kecil itu yang sangat liar.
"Haider, apa kau melihat Verin?" tanya Zoya.
"Aku juga sedang mencarinya, nona muda."
Amar mendekat lalu berbisik ditelinga Haider hingga membuatnya membelalakkan mata dan langsung berlari keluar, semua menatap aneh dengan perilaku Haider. lalu melirik kearah Amar.
"Verin, tadi mengikuti seorang lelaki. Aku tidak mengenalnya, dia berjalan keluar dengan terburu-buru. saat aku ingin mengikuti nya, malah aku ditabrak oleh seorang wanita hingga dia menumpahkan minumnya dibajuku!" keluh Amar.
Zoya menatap Erlan, "Apa itu, Genta?"
Erlan dan yang lainnya membelalakkan mata mendengar nama Genta, namanya sudah menjadi terkenal di kediaman Mexmar. sebenarnya mereka sudah dari lama ingin mencari Genta dan menghabisinya tetapi Zoya melarang. dia ingin Max sadar terlebih dahulu.
"Max, apa kau mengenal, Genta?" tanya Saguna.
Max tampak berfikir, seperti tidak asing tetapi dia merasa pusing karena berfikir terlalu berlebihan.
"Aww." Max memegang kepalanya.
"Sayang, kau kenapa? Jangan terlalu banyak berfikir, kau baru sadar dan harus butuh istirahat untuk pulih." Zoya memandang mereka semua memberikan kode untuk tidak membebani pikiran Max terlebih dahulu.
Saguna dan yang lainnya pun mengerti, lalu Saguna mengecup kening Istrinya.
"Sayang, aku ijin keluar sebentar ya." Fayza menggenggam tangan Saguna seperti melarangnya pergi, ia takut Saguna akan kenapa-kenapa.
"Enggak apa-apa." Saguna memeluk Fayza berusaha meyakinkan.
Fayza dengan rela melepas tangan suaminya, Saguna tersenyum lalu berlari keluar diikuti oleh Amar dan yang lainnya.
"Kau mau ikut mereka?" tanya Zoya.
Max tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Zoya memberikan baby nya kepada baby sister, dan mendorong kursi roda suaminya untuk keluar dari ruangan. baby twins dijaga oleh anggota Mexmar lainnya di dalam beserta Khansa dan juga Fayza.
"Sayang, apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri?"
"Tidak ada apapun yang terjadi, hanya saja Genta murid kesayangan sensei Hisao menjadi penghianat dan mata-mata Alex."
"Bajingan!" sungut Max kesal.
Mendengar kembali nama Alex membuat darahnya mendidih, dan ingin sekali rasanya ia segera menghancurkan lelaki itu.
sesampainya disana, dimana ada Verin dan Genta sedang beradu agumen, tetapi tatapan Genta menuju kepada Max, dan berlari menuju Max dan tersungkur di hadapannya.
"Max, maafkan aku! aku rela dihukum seberat apapun. Tetapi maafkanlah aku." Genta memegangi kedua kaki Max.
Max menendang tubuh Genta hingga ia tersungkur kebelakang, Max menatap tajam ke arah Genta.
"Apa alasan mu melakukan ini?"
"Aku tertipu oleh Alex, dia mengetahui tragedi kedua orangtuaku dan aku percaya kalau dia yang telah membantu mereka dan aku berhutang budi padanya, tetapi ternyata setelah Alex menyerang kalian, aku baru mengetahui fakta bahwa kedua orangtuaku telah wafat ditangannya, dia yang membunuh kedua orangtuaku. Dia memperdayaku karena aku murid kesayangan sensei, tetapi dengan bodohnya aku menghianati kalian semua. Aku bisa saja membunuh diriku sendiri untuk membayar semuanya, tetapi aku ingin kalianlah yang memberiku hukuman itu, aku tidak sanggup hidup di dalam rasa bersalah ini." jelas Genta.
Verin sama sekali tidak mengetahui apapun tentang kedua orang tua Genta, Verin hanya mengetahui kalau orang tuanya telah tiada. Benarkah yang di ucapkan oleh Genta? haruskah Verin dan yang lainnya percaya? Verin langsung mendekat dan menarik tangan Genta.
"Apa bukti kau telah mengatakan sejujurnya?"
"Verin, percayalah padaku." pinta Genta.
"Alex memberikan surat wasiat yang tulisannya persis dengan ayahku, disurat itu tertulis kalau aku harus berpihak kepada Alex." Alex mengeluarkan sebuah surat dan memberikan nya kepada Verin.
Verin memberikan nya langsung kepada Max, Max membukanya lalu membaca semua isi surat itu dan meremasnya hingga tidak berbentuk lalu melemparkannya kewajah Genta.
Bersambung....