King Mafia Vs Bad Girl

King Mafia Vs Bad Girl
Baby twins



Setelah membersihkan dirinya Zoya menuju tempat Max dirawat, dengan telaten ia membersihkan tubuh suaminya, begitulah setiap harinya, dia tidak ingin suster atau siapapun menyentuh tubuh lelakinya, dia hanya ingin dirinya yang merawatnya sendiri.


"Mas, kapan kamu mau melihat aku dan anak kita?"


"Sudah dua bulan lamanya kamu berada disini, dan anak kita ternyata kembar, semoga dia lelaki dan perempuan, satunya mirip aku dan satunya lagi mirip kamu, jadinya kita adil, bukan?" Zoya bercerita dengan gembira seakan yang di ajak berbicara mendengarnya.


"Aw,"


"Mas, coba kamu rasakan dia nendang-nendang di dalam!"


"Mereka sudah 6 bulan, aku hanya berharap di hari lahiran anak kita kamu berada di sampingku dan menguatkan aku,"


"I love you, Mas." Zoya mencium kening suaminya.


Lalu tidur di ranjang satunya yang berada diruangan itu, karena Zoya sekali-kali ingin tidur bersama suaminya untuk meluapkan rasa rindunya.


Kapanpun kau akan bersedia membuka matamu, maka akulah yang akan kau lihat untuk pertama kalinya.


Hari demi hari terus berjalan, di pagi hari semua berada dirumah sakit menunggu kelahiran anak Zoya dan Max. Semua menunggu cemas diluar, begitupun dengan paman Omar, Omar telah sembuh dan kembali berkumpul dengan anggota Mexmar, Omar beserta istri dan putrinya bergabung di dalam mansion, atas keinginan Zoya, dia ingin membuat keramaian lagi di dalam mansion tersebut.


Seperti sebelumnya yang masih lengkap, Omar sangat terpukul saat kehadirannya kembali tetapi dia kehilangan begitu banyak orang terdekatnya bahkan salah satunya Brees dan Hisao.


Terdengar suara keras tangisan bayi membuat semuanya menangis haru dan tersenyum bahagia.


Beberapa saat kemudian, dokter keluar dan semuanya mendekat ingin mengetahui kabar baik itu.


"Disini suaminya nona Zoya yang mana, ya?" Tanya dokter tersebut.


Semuanya tersenyum getir lalu ibu dari Saguna datang, "Saya ibu nya, bisa disampaikan ke saya saja, Dok."


Dokter tersebut mengerutkan keningnya, karena merasa bingung, disaat lahiran tidak menemaninya bahkan diluar ruangan pun suaminya tidak terlihat.


"Selamat ya, buk! Anak nya kembar lelaki dan perempuan, anaknya sehat," ujar dokter.


Semua tersenyum haru dan sangat bersyukur mendengarnya.


"Tapi-"


"Tapi apa dok?"


"Nona Zoya belum sadarkan diri,"


Khansa dan Fayza terduduk lemas dan meneteskan air matanya, begitupun yang lain. Mereka terus berdoa akan keselamatan Zoya, mereka tidak ingin kehilangan untuk kesekian kalinya.


"Zaa..." Fayza memeluk Khansa.


"Kita berdoa saja, ya!"


Saguna kembali pulang untuk menemui Max, dan memaksanya agar bangun melihat Zoya agar dia semangat untuk pulih.


"Max..."


"Max ayolah bangun, kau sudah 6 bulan lamanya disini, Zoya sedang bertarung dengan hidupnya disana, hanya kau yang bisa memberinya semangat agar dia kembali pulih, tidakkah kau ingin melihat putra putrimu?"


"Maxx..." Saguna yang selalu kuat itu meneteskan air matanya menangis di samping Max sahabat dari kecilnya.


Tidak ada reaksi apapun dari Max, bahkan dokter beberapa hari yang lalu menyarankan melepaskan semua alat yang terpasang dan membiarkan Max kembali dengan tenang, karena untuk dia kembali sadar itu sudah mustahil. Tetapi Zoya tidak ingin melakukan itu hingga dia histeris dan perutnya terasa sakit lalu dibawa kerumah sakit dan hari ini melahirkan putra-putri nya dengan selamat, tetapi dirinya di ambang kehidupan.


Zoya seakan menyerah tetapi takdir masih ingin menahannya.


Anak yang ceria dan sangat tampan dan cantik, bahkan mereka tersenyum ke arah Fayza dan Khansa.


"Khansa, lihatlah mereka!" Ujar Fayza


"Za-"


"Hmm,"


"Eh sus, bisakah anak ini dibawa kesamping ibunya , agar Zoya bisa mendengar suara anaknya," ujar Khansa.


"Sebentar lagi akan kami bawa kesana ya," ujar suster tersebut.


"Sa, kamu yakin?"


"Selain Max, mereka sumber kekuatan Zoya! Aku nggak ingin kehilangan Zoya, Za."


Fayza setuju dan memeluk Khansa, lalu mereka kembali keruangan Zoya dengan putra putrinya berada disamping kanan kirinya.


"Zoya, bangunlah! Kau lihat lah baby mungil ini, mereka sangat menantikan kau menggendongnya," ujar Khansa.


"Zoya, kau harus kuat!" Fayza menggenggam tangan Zoya.


Baby twins menangis seakan memanggil ibunya, jari Zoya tergerak Fayza yang melihatnya melototkan matanya dan terharu.


"Sa, Zoya! Tangan nya bergerak,"


"Serius?"


Fayza langsung menyentuh tombol memanggil dokter agar segera datang, tidak memerlukan waktu lama dokter telah tiba memeriksa keadaan Zoya.


"Keadaannya membaik, keadaannya sudah normal. Kita tunggu beberapa jam lagi, insyaallah nona Zoya akan sadar,"


Dokter itu pamit keluar, Khansa yang memberi kabar itu kepada yang menunggu diluar dan mereka semua bersyukur.


Dua jam telah berlalu, benar saja Zoya telah sadar dan melihat anak-anak nya menangis haru. Erlan yang menjenguk bersama Khansa mendekat lalu Erlan menggendong jagoan mereka, sedangkan Khansa menggendong princess mereka dan membawanya agar di gendong oleh Zoya.


Zoya tersenyum, lalu meminta putranya agar digendong ditangan sebelah nya. Dia ingin melihat baby twins itu.


"Kamu mirip banget sama papa, sayang!" Zoya tersenyum ke arah putranya.


"Kalau ini mirip mamanya," ujar Khansa tersenyum ke arah Zoya.


"Max, gimana?" tanya Zoya.


"Max belum juga sadar!"


"Aku tidak ingin siapapun melepaskan alat itu, siapapun yang berani melepaskan nya maka harus berhadapan denganku!" Ujar Zoya.


Erlan dan Khansa saling bertatapan karena tidak tau harus berbicara apa lagi.


Akhirnya Zoya sudah pulih dan bisa kembali kerumahnya, membawa putra putri nya kekamar suaminya.


"Kapan kamu mau buka mata itu, lihatlah baby kita mereka hampir mirip kamu semua, kamu curang ih! Masa hanya sikit mirip akunya, tapi aku seperti melihat dirimu di diri mereka, jangan terlalu lama ya tidurnya, kami merindukanmu!"


Kehidupan terus berjalan, hingga sampai dimana hari pernikahan Fayza bersama Saguna yang di adakan besar-besaran di gedung.


Bersambung....