
Max menunggu di luar lalu datanglah Khansa menghampiri Max.
"Max, Zoya dimana?"
"Dalam!" jawab Max kesal.
"Kenapa kau diluar dan tidak menemaninya?"
"Dia tidak ingin dekat-dekat denganku!"
"Fiks ini mah!" teriak Khansa.
"Fiks?" tanya Max bingung.
"Zoya hamil!" ujar Khansa.
Uhukk!!
"Hmm, hamiil?" tanya Max tidak percaya.
"Kemungkinan, coba deh kau periksa kan di dokter kandungan!" usul Khansa.
"Kalau dia tidak hamil, habis kau!" ujar Max.
"Eh santai, aku bilangin Erlan kau nanti!" ketus Khansa.
"Bawa Zoya keluar, dia selalu mual di dekat ku!"
Khansa mengangguk lalu berlari masuk ke dalam memanggil Zoya dan mendekat memperhatikan wajah Zoya yang pucat dan lesuh, langsung merasa khawatir.
"Kau kenapa pucat begini?"
Zoya menggeleng karena masih kumur-kumur.
"Kita ke dokter kandungan yuk, aku rasa kau hamil Zoya!"
"Puftttt!" Zoya menghemburkan air dari mulutnya lalu menatap Khansa.
"Bercanda ya kau, mana mungkin aku hamil! Kami saja baru dua kali melakukan nya," ujar Zoya polos.
"Jangan bicara seperti itu di depan jomblo, mohon pengertiannya!" ketus Khansa.
"Yaudah ayo kita periksa aja keadaan dirimu, lihatlah kau sangat pucat sekali!"
"Oke, baiklah! Tapi aku tidak terlalu banyak berharap," ujar Zoya lesuh dan mengikuti Khansa.
Max langsung mendekat saat melihat Zoya baru keluar dengan wajah yang pucat.
"Sayang, kau kenapa pucat sekali?" tanya Max khawatir.
"Nggak tau, nih si Khansa punya usul aneh. Masa disuruh ngecek kandungan!"
"Yaudah kita coba aja ya, aku khawatir lihat keadaan mu seperti ini!" ujar Max.
Zoya mengangguk menyetujui perkataan suaminya hingga sampailah mereka bertiga di sebuah ruangan dokter kandungan namun kosong.
"Maaf, ada yang bisa dibantu?" tanya seorang suster yang berjaga malam.
"Dokter kandungan mana?" tanya Max.
Zoya menyikat perut Max karena tidak ada sopan nya bertanya seperti itu.
"Maaf Tuan, dokter kandungan jadwal nya jam 08.00 pagi hingga 18.00 WIB!" jelas seorang suster.
"Panggil dokter itu sekarang atau rumah sakit ini bakal aku tutup!" Ancam Max.
"Max, kau ni apaan sih?" tanya Zoya.
"Biarin, biar mereka nggak lari dari tanggung jawab! Sudah tau ada pasien darurat saat ini,"
"Kenapa masih disini? Panggil dokter nya datang sekarang juga!" perintah Max dengan nada tinggi.
"Hmm, baik...baik tuan!" ujar suster tersebut dengan gemetar lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Zoya, aku carikan kau makanan terlebih dahulu ya!" ujar Khansa.
Saat Erlan baru datang ingin menghampiri mereka namun di cegat oleh Khansa dan menarik nya untuk ikut dengan nya, Erlan mencoba menolak namun malah dengan wajah polos wanita di depan nya.
"Mau kemana?"
"Cari makanan untuk Zoya!"
"Sendiri aja, ngapain tarik-tarik tanganku! Nggak bisa kau jauh dariku?" tanya Erlan dengan ketus.
"Dih, aku Bawak kau karena kau berguna kalau ada bahaya, kalau kau nggak berguna, aku juga males kali Bawak dirimu!" ketus Khansa.
"Ohh, lepas! Biarin kau di Bawak penghuni rumah sakit ini," goda Erlan menakuti.
"Hahah, nggak usah bercanda, habis kau nanti!" ancam Khansa yang sudah gemetar ketakutan.
Erlan tertawa lalu melepas kuat tangan nya dari cengkraman Khansa membuat Khansa terhenti lalu menatap Erlan dengan tajam, namun Erlan hanya menaikan satu alisnya lalu menggenggam tangan mungil Khansa lalu menarik nya mencari makanan, Khansa terpaku dan membisu menatap tangan nya yang di pegang oleh Erlan lalu langsung menggelangkan kepalanya agar sadar lalu bersikap biasa saja dan fokus mencari makanan.
"Makanan yang sehat disini dimana sih?" ketus Khansa.
"Disini sehat semua!"
"Sehat darimana? Lemak gitu, ini untuk Zoya dia sedang hamil nggak boleh makan sembarangan!"
"Jadi, Zoya benaran hamil?"
"Belum tau, cuma dugaanku saja!"
Erlan menghembus nafasnya kasar lalu menatap ke depan mencari makanan, lalu akhirnya mendapatkan nya. Setelah selesai mereka langsung kembali ke tempat Zoya dan Max berada namun tidak ada.
"Mana mereka?" tanya Erlan.
"Mungkin di dalam, karena ruangan nya terang! Tadi Max memaksa agar dokter kandungan datang saat ini juga," ujar Khansa.
"Kelakuan anak itu nggak pernah berubah!"
Lalu mereka masuk ke dalam memastikan kalau benar Zoya dan Max berada di dalam, ternyata benar mereka sedang berbincang dengan seorang dokter kandungan.
"Selamat, ya Tuan! Istri anda sedang mengandung dan usia kandungan nya 2 Minggu," ucap dokter tersebut.
"Serius?" tanya Max tidak percaya lalu langsung menatap Zoya yang juga mematung mendengar nya lalu tatapan mereka bertemu dan Max langsung membawa Zoya kepelukannya.
"Selamat, Sayang!" ujar Max haru.
"Aku benaran hamil, sayang?" Tanya Zoya.
"Iya, kita akan jadi orang tua!" ujar Max melepas pelukannya.
Khansa dan Erlan yang mendengar nya juga ikutan bahagia lalu saling menatap dan berpelukan, seketika itu juga Khansa sadar langsung melepas pelukannya.
"Nyari kesempatan ya, kau!"
Bersambung ...
...Hai guys semoga suka yaa, terima kasih yang sudah mendukung karya ini terus. dan semoga tidak bosan yaa....
...author minta dukungan nya terus berupa like, vote, dan juga hadiah ataupun bintang 5 nya....
...Dan jangan lupa komentarnya terus ya agar author semangat, komentar positif dari kalian vitamin untuk author 🤭🤭 ...
...love you all ❤️...