
Khansa berlari lalu berhenti tepat di depan pintu ruang operasi lalu berhenti menatap kedalam, semua yang ada disitu terkejut karena kedatangan Khansa yang berlari seperti itu.
"Syukurlah, hanya mimpi!" Ucapnya.
"Selamatkan Fayza, ya tuhan. Dia orang baik," dia berdoa pelan.
Erlan yang berlari dibelakang berhenti tepat di belakang Khansa lalu menarik tangan Khansa agar menghadap ke arah nya, Khansa berputar lalu menghadap Erlan dan menatap nya panik.
"Ada apa?" Tanya Khansa.
Erlan tidak berbicara namun mengangkat tubuh Khansa dan meletakkan di bahunya membawa Khansa kembali keruangan yang tadi.
"Lepas-" teriak Khansa.
"Kau belum sembuh!" ujar Erlan datar.
Khansa pasrah lalu melemaskan tubuhnya di atas bahu Erlan seperti dia membawa karung saja.
Max menggeleng, namun Zoya hanya menatapnya dengan tatapan tidak dapat di artikan. Tetapi tatapan yang lain menegangkan melihat Erlan seperti itu, dan sekejap saling menatap satu sama lain. Tetapi tidak dengan Saguna yang terus mengacak rambutnya sambil duduk dibawah seperti orang kehilangan arah.
Saat Zoya menggerakkan tubuhnya yang berada di pelukannya Max bajunya serasa basah dan melihatnya banyak darah, Zoya teringat kalau Max juga terluka dan langsung bangun memegang tangan Max. Max menghadap ke Zoya saat tangannya di angkat oleh Zoya.
"Max, kau terluka? Kenapa kau seakan baik-baik aja?"
"Ini luka kecil, nanti juga sembuh sendiri!"
"Luka kecil? Ini bekas tembakan Max!" Bentak Zoya.
"Suster, tolong suami saya!" Panggil Zoya.
Suster langsung menghampiri dan melihat keadaan Max, dirinya terkejut.
Kenapa lelaki ini masih biasa saja saat ada luka bekas tembakan? Batin suster itu tidak mengerti.
"Mari ikut saya keruangan itu, biar di obati tuan!" Ujar suster.
Tiba-tiba Max menjatuhkan dirinya ketubuh Zoya berpura-pura pingsan, Zoya terkejut lalu menarik telinga Max.
"Awwww!" Teriak Max.
"Kamu kasar banget si, Sayang!" Sungut Max.
"Kenapa berpura-pura? Jangan bilang kamu takut jarum suntik?" tebak Zoya.
Semua anggota Mexmar menunduk menahan ketawa karena mereka mengetahui kalau tuan muda mereka memang sangat takut dengan jarum suntik, tetapi masih menghormati Fayza yang sedang berada di dalam hingga mereka memilih menundukkan kepalanya.
"Siapa bilang? Nggak aku gak takut!"
"Cuma aku nggak suka sama suster ini, nanti dia mengambil kesempatan di dalam, apa kamu nggak cemburu?" Tanya Max berbisik.
"Enggak!" Jawab Zoya cepat.
Zoya bangkit lalu menarik tangan Max agar mengikutinya, tetapi Max tetap menahan tubuh nya agar tetap duduk dan tidak ingin dibawa keruangan itu.
Dia sangat trauma dengan jarum suntik, separah apapun lukanya saat sehabis bertarung dia tetap tidak ingin di tangani oleh dokter atau suster lain karena dia bakal bertemu dengan jarum suntik, sedangkan dokter pribadi Mexmar telah mengetahui soal ketakutan Max dengan jarum suntik hingga memberikan pengobatan yang lain.
"Aku-aku harus menghibur Saguna, Sayang!" Ujar Max mengeles.
"Saguna nggak butuh lelaki penghibur seperti dirimu, Max! Ikut aku atau-"
"Iya ikut, aku ikut!" Ujar Max karena takut kalau ancaman Zoya akan meninggalkan nya atau tidak memberikan servis pada dirinya.
Zoya menahan ketawanya lalu menarik tubuh Max, Max pasrah dan ikut masuk ke dalam ruangan itu.
Zoya membuat Max untuk berbaring di ranjang pasien, suster dan dokter tersebut sedang memeriksa Max. Max memperhatikan bawaan para petugas kesehatan itu untuk memastikan mereka tidak membawa jarum suntik.
"Kamu benaran takut suntik, Sayang?" Tanya Zoya saat melihat Max menutup matanya.
"Enggak!"
"Bayangin aja wajahku," ledek Zoya.
Max membuka matanya lalu menatap Zoya yang dekat dengan nya dengan tersenyum.
"Luka nya gak parah, karena pelurunya tidak masuk ke tubuh tuan hanya melesat meninggalkan bekas luka!" Ujar dokter tersebut saat telah siap membersihkan luka Max dan mengobatinya.
"Nggak di suntik ya, dok?" Tanya Zoya.
Max membalalakan matanya saat mendengar Zoya menanyakan soal itu.
"Sudah, tadi!" Jawab dokter tersebut.
"Apa?" Teriak Max.
"Kenapa nggak berasa, dok?" Tanya Max.
"Karena mungkin, anda lagi melihat nona ini yang lebih indah dari rasa sakit saat di suntik," jawab dokter tersebut dengan tersenyum.
"Apa ingin di suntik lagi?" Tanya dokter tersebut.
"Ya nggaklah dok, mati saya nanti!" Jawab Max spontan lalu bangkit dari ranjang pasien.
"Sudah kan, dok?" Tanya Max.
Dokter itu mengangguk kan kepalanya. Lalu Max berjalan keluar menarik tangan Zoya.
"Terimakasih, dokter!" Ujar Zoya.
Dokter tersebut hanya membalaskannya dengan senyuman.
Zoya memberhentikan langkahnya saat di depan ruangan Khansa, Max berbalik menatap Zoya.
"Ada apa?"
"Mau lihat keadaan Khansa dulu ya, sayang!"
"Yaudah ayo!"
Ceklekk!
Zoya membuka pintunya dan seketika itu juga membelalakkan mata nya saat melihat Khansa dengan Erlan seperti sedang berciuman dan Erlan memegang erat tubuh Khansa. Khansa yang melihat Zoya langsung menjauhkan dirinya dari Erlan dan berlari mendekat ke Zoya.
"Zoyaaa, ini nggak seperti yang kau lihat! Dia mencari kesempatan, Zo!" Ujar Khansa.
"Hei, kau hampir jatuh karena tingkahmu sendiri, kenapa jadi nyalahin aku?" Sungut Erlan tidak terima.
"Dia bohong, Zo!"
"Sudah...sudah ngapain di permasalahkan! Lagian Khansa kenapa kau sangat menyusahkan Erlan?" Tanya Zoya.
"Aku mau cerita! Sini duduk," ajak Khansa.
Max dan Erlan membiarkan mereka bercerita, sedangkan mereka berdua berdiri dekat pintu dengan memandang dua wanita tersebut.
"Aku tadi mimpi, Fayza meninggal aku takut Zo, maka dari itu aku ingin disana nemaninnya, aku nggak mau mimpi itu jadi kenyataan," ujar Khansa meneteskan air matanya.
Zoya memeluk Khansa menghapus air mata Khansa, "Fayza bakal baik-baik aja, Fayza nggak bakal menyerah begitu saja, aku yakin dengannya! Jangan berfikir yang buruk ya, kita cukup doain agar dia diberikan keselamatan,"
Khansa mengangguk.
"Yaudah, kau masih pucat! Lebih baik istirahat dulu, nanti kalau operasi Fayza sudah selesai aku akan ngabarin dirimu, ya!" Bujuk Zoya.
Khansa mengangguk setuju dan Zoya menuntun Khansa agar berbaring kembali di atas ranjang pasien tersebut.
"Erlan, aku titip Khansa ya!" Ujar Zoya.
"Iya, Zo!" Jawab Erlan.
Max menoyor kepala Erlan, "Yang boleh panggil Zo hanya sahabat nya dan aku, kau gak kenal jadi jangan panggil itu!"
"Apaansih," sungut Erlan menatap Max.
"Yaudah, kami kesana dulu ya," ujar Zoya pamit.
"Iya, Zo!" Jawab Erlan dan Khansa berbarengan.
Max menatap manik mata Erlan kembali, namun yang di tatap tidak gentar. Hingga Max lebih memilih pergi bersama Zoya.
Di depan ruang operasi semuanya berdiri karena melihat Geisha telah keluar dari ruang operasi dan membuka maskernya menatap ke arah mereka semua.
Zoya yang melihat Geisha sudah keluar langsung berlari mendekat, "Geisha, gimana keadaan Fayza?"
"Operasi berjalan dengan lancar,"
Semua yang mendengar bernafas dengan lega.
"Tapi, dia sangat lemah dia seperti tidak ada keinginan untuk hidup, dia seakan menyerah dengan keadaan nya, jadi dia masih belum sadarkan diri, dan kita bisa lihat perkembangannya dalam dua hari kedepan, kalau dia membuka mata nya dia masih berjuang untuk hidup, tetapi semua ada di tangan Tuhan, kita cukup berdoa agar Fayza bisa kembali membuka matanya," ujar Geisha menunduk.
"Apa aku bisa menemui Fayza?" Tanya Saguna.
Geisha menatap mata Saguna yang sangat merasa ketakutan akan kehilangan Fayza, kembali menunduk dan menganggukkan kepalanya.
"Saat dia sudah di pindahkan ruangannya, tetapi hanya bisa satu orang yang mengunjunginya dan tidak menimbulkan keributan," jawab Geisha.
Mereka melihat tubuh Fayza yang di dorong keluar dengan tubuh lemahnya dan banyak alat yang terpasang di tubuh Fayza. Zoya menutup mulutnya dan terus meneteskan air matanya melihat keadaan Fayza saat ini.
bersambung ....
halo para reader, jangan lupa untuk terus dukung karya author ini yaaaaa, jangan lupa like, komentar, vote, hadiah dan juga bintang 5. dan kalau suka jangan lupa tekan favorit, biar bisa dapat notifikasi update tiap harinya❤️❤️
love you all❤️