King Mafia Vs Bad Girl

King Mafia Vs Bad Girl
Usia Mangga



Saguna kembali melirik kebelakang melihat keberadaan Fayza yang ternyata sudah menaiki taxi lalu senyum terulas di pipi nya dan kembali membalikan tubuhnya dan berjalan ke arah mobil.


Mereka melajukan mobil dengan kecepatan sedang karena mengetahui keberadaan tuan kecil mereka ingin hadir. Zoya dan Max tidak memberitahukan seisi mansion utama karena ingin memberikan kejutan itu.


Sesampainya di mansion utama, mereka langsung turun dan Max menggandeng tangan Zoya dan terus mengawasi pergerakannya, membuat Zoya menggeleng dengan perlakuan berlebihan suaminya.


"Ahhh,"


Zoya kesandung sebuah batu kecil, membuat Max murka lalu menatap tajam mereka semua.


"Siapa yang letak batu disini?" Teriak Max.


"Sayang, aku nggak apa-apa! Kenapa berlebihan gitu sih?"


"Berlebihan?" tanya Max tajam lalu mengalihkan pandangannya.


Semua yang melihat Max seperti kesetanan langsung mengambil batu itu dan memastikan jalan tuan dan nona muda mereka menjadi mulus.


"Sekali lagi kalian sembarangan letak apapun di lantai dan membuat Zoya tersandung, habis kalian!" ancam Max.


Saguna hanya membalas tatapan mereka yang merasa aneh dengan tingkah Max, hanya karena sebuah batu kecil Max menjadi murka begitu dengan tatapan datar dan mengangguk pertanda baik-baik saja, dan lakukan apa saja yang diperintahkan oleh Max.


Semua paham dan langsung menunduk, saat Max dan Zoya pergi ke kamar mereka namun langkah Max terhenti, membalikan tubuh nya menghadap mereka semua, anggota Mexmar lainnya yang berada disitu sedang menatap punggung Max tiba saja langsung menunduk.


"Siapkan jamuan spesial malam ini, ada tamu yang mau hadir!" ujar Max dan langsung kembali menuntun Zoya untuk masuk ke kamar.


"Saguna, tuan muda kenapa?"


"Dan tamu siapa yang akan datang?"


Saguna menatap mereka datar lalu membalikan tubuh nya dan berjalan menuju kamar nya, "Lakukan saja, banyak bertanya bisa buat umur kalian semakin pendek!"


Duar!


Semua anggota Mexmar yang berada disitu mendengar omongan Saguna yang menusuk relung hati yang paling dalam langsung lemas dan menggeleng kepala.


"Mereka kesambet nih di Negara P!" Ujar Haider.


Amar mengangguk, "Bisa jadi itu bukan jiwa asli mereka, dan ada jin yang mengendalikan tubuh mereka."


Will langsung menoyor mereka berdua dan berlalu pergi meninggalkan nya, Haider dan Amar tidak terima lalu mengejar Will. Will melihat kebelakang karena merasa terancam akhirnya langsung berlari menghindar.


"Shitt! Will, awas kau ya!" ancam Haider.


"Will, kenapa kau dijadikan ketua tim B? Karena kau sudah tua, makanya dibuat ketuaan!" ujar Amar ngelantur kemana-mana sambil mengejar nya.


"Nggak peduli!" ujar Will dan berlari memasuki kamar nya lalu mengunci dari dalam.


"Arghh, shitt!"


"Aih kok hati ku deg-degan?" Tanya Haider ngos-ngosan di depan pintu kamar Will.


"Itu tandanya kau sebentar lagi!" Ujar Amar mengelap keringat nya dan pergi meninggalkan Haider.


"Sebentar lagi apa?" tanya Haider bingung.


"Nyusul Zeyn!" Jawab Amar teriak.


"Shittt! Nggak guna bicara sama kau!" teriak Haider.


Will yang mendengar percakapan tidak berguna mereka tertawa lalu membuka pintu memastikan aman, lalu keluar dan menuju ruang senjata.


Sedangkan di kamar sepasang kekasih sedang duduk menghadap keluar jendela sehabis membersihkan diri mereka, salah satu dari mereka sangat posesif, melarang apapun yang akan Zoya lakukan, tidak membolehkan zoya kecapekan.


Hachiiim! Zoya bersin karena merasa hidung nya sedang gatal.


"Sayang, kau sakit? Kita ke dokter sekarang ya!" ujar nya dan langsung berdiri.


Zoya memutar bola matanya lalu tertawa dan menarik tangan Max agar kembali duduk.


"Ya nggak mesti di periksa dokter? Kalau kau kenapa-kenapa gimana?"


"Aku bakal kenapa-kenapa kalau kau nggak bisa diem ngelarang aku ini itu, Sayang!" jawab Zoya.


"Duduk diem, oke?"


Max mengangguk lalu menyenderkan tubuh nya menatap Zoya, Zoya sangat kesal dengan Max lalu membuat rencana untuk mengerjai suami nya itu.


"Aww, King kecil pengen jus mangga!" ujar Zoya.


"Yaudah aku panggilkan Saguna biar dia yang menyuruh pembantu untuk membuat kannya!"


"Nggak!"


"Aku mau nya kau Sayang yang membuatkan nya, dan mangga nya harus kau ambil langsung dari pohon dan usia mangga nya sudah pas untuk di buat jus, jangan sangat muda ataupun ketuaan karena aku nggak suka! Harus sesuai," ujar Zoya menahan tawa nya tetapi muka nya dibuat sangat menyedihkan.


"Ha? Kau bercanda? Gimana aku bisa tau usia mangga itu?" serkah Max karena permintaan tidak masuk akal Zoya.


"Ini kemauan king kecil, kau nggak mau menuruti nya?"


"Anak ayah, jangan aneh-aneh yaa! Kalau kau menyusahkan ayah atau ibu mu maka-" ujar Max terpotong.


"Maka apa?" tanya Zoya tajam.


"Maka...maka hidup nya akan sejahtera," jawab Max kebingungan.


"Yaudah cepat carikan kalau udah dapat langsung buatkan, aku mau dari tangan dirimu semua, dan jangan ada campur tangan dari orang lain!"


"Oke-oke, aku pergi dulu ya, Sayang!" ujar Max tersenyum dengan terpaksa.


Setelah kepergian Max dan pintu tertutup rapi, Zoya tertawa dan menuju ranjang untuk membaringkan tubuh nya karena merasa lelah, terlebih lagi sifat posesif suaminya itu, setidaknya Zoya bisa merasa nyaman beberapa saat. Tanpa butuh waktu lama akhirnya Zoya tertidur.


****


Di dalam taxi Fayza dan Khansa melamun, namun yang membuat Fayza melamun adalah sifat Saguna yang sudah berubah kembali, tetapi pikiran Khansa saat ini bahkan author sendiri tidak tahu, pikiran nya sangat luas dan menerawang jauh ke masa depan.


Khansa menoleh ke Fayza, "Za, kenapa kau melamun?"


Fayza menoleh ke Khansa dan mengangkat bahu nya.


"Dih, karena Saguna lagi?"


"Ya sikap nya aneh banget nggak sih pas sudah sampai di negara ini?" tanya Fayza.


"Mungkin ada suatu elemen yang mendorong Saguna untuk menjauh darimu di negara ini!" jawab Khansa polos.


"Serius, Khansa!"


"Oke-oke! Bilang aja ke Saguna kalau beberapa hari lagi kau akan lamaran, dan kita lihat reaksinya gimana? bahkan mencegah nya dan melamar mu atau tidak!"


"Hmm, boleh juga!"


"Tapi, kalau besok pagi dia nggak juga hubungi aku atau bersikap baik, akan kuterima sungguhan perjodohan itu!" ujar Fayza yakin.


"Emang sanggup?" tanya Khansa meledek.


Fayza menoleh ke Khansa lalu memasang wajah sedih dan menggelengkan kepala nya.


"Bisa mati muda aku kalau terima perjodohan itu!"


"Yaudah ikutin aja rencana ku, setelah itu kita buat siasat lain,"


"Siasat apa?" tanya Fayza serius.


bersambung ....


hai guys jangan lupa dukung author terus yaa❤️ berupa like, komentar, vote, bintang 5, dan Hadiah. terimakasih semua❤️