
Zoya melirik ke arah kaca spion dan melihat mereka semua telah berada di posisi masing-masing, sedangkan Verin memasuki sebuah toko baju untuk memperhatikan keadaan di luar.
Zoya turun dari dalam mobil dengan wajah yang sudah ia atur menjadi wajah sedih yang sok di tegar-tegarkan lalu berjalan memasuki sebuah toko kue, di toko kue ini sangat mencurigakan karena semua pengunjung berwajah datar dan seakan ketakutan. Saat Zoya memesan sebuah kue tatapan nya dapat mengintimidasi wajah lelaki yang sedang melayani nya itu dengan tatapan mengerikan.
"Apa kau ingin memesan kue?" Tanya lelaki itu.
"Iya, aku ingin pesan kue ini!" Ujar Zoya menunjuk salah satu kue tersebut.
"Apa nona ingin mendapatkan sebuah potongan harga? Membeli 2 kotak hanya membayar separuh dari 1 kotak saja!" Tawar penjual.
Zoya mengerutkan keningnya, kecurigaan nya bertambah berlipat ganda. Namun dia penasaran dan ingin mengetahui ada apa sebenarnya di toko itu.
"Apa kau serius? Tentu saja aku mau!" Ujar Zoya dengan akting mengalahkan Laura.
"Tetapi nona harus membuat sebuah foto diri di dalam ruangan itu, untuk menambah jumlah konsumen yang telah datang, maaf kalau ini sedikit membuat nona bingung tetapi ini adalah teknik marketing toko ini untuk membantunya semakin maju, apa nona bersedia?" Ujar penjual.
"Oh, gitu ya! Boleh ruangan yang mana?" Tanya Zoya.
"Mari saya arahkan ke ruangannya,"
Zoya mengikuti penjual tersebut namun tatapan para konsumen seperti mengatakan jangan kepada Zoya, hingga membuat Zoya sedikit khawatir namun tetap memaksakan masuk ke dalam.
"Ini, nona! Saya tinggal dulu ya," ujar penjual.
Zoya memasuki ruangannya dan menelisik semua isi ruangan namun pandangan nya terbatas karena cahaya lampu yang redup.
Seketika saja ruangan begitu terang menampakkan seisi ruangan yang penuh dengan organ dalam manusia yang masih segar seperti baru saja di ambil membuat Zoya mual, lalu mengambil masker yang sudah ia siapkan lalu memakainya.
"Sialan, apa maksud mereka?" Tanya Zoya dengan nada tinggi.
"Hahaha, selamat datang di ruangan yang akan menjadi akhir dari hidupmu!" Ujar lelaki itu memakai topeng.
"Badebah, siapa kau?" Sungut Zoya.
"Kenapa kau tidak ketakutan?" Tanya lelaki misterius itu.
"Tapi itu tidak penting, karena kau telah datang keruangan terindah ini, maka nasibmu hanya ada dua, pertama mengorbankan dirimu atau kedua menjadi budak kami dalam sebulan dan berakhir mengorbankan dirimu juga!" Ujar nya lagi dengan tertawa.
"Shittt, sialan kau! Apa mereka yang ada di meja konsumen adalah budak kalian?" Tanya Zoya dengan emosi.
"Ya, menarik bukan?" Tanya nya lagi dengan seringai.
Ini keadaan darurat, aku nggak bisa bertindak sendiri atau gegabah, batin Zoya.
Tangan Zoya sibuk mencari tombol darurat hingga akhirnya mendapatkan nya lalu menekannya, semua yang ikut dalam misi ini mendapatkan sinyal bahaya tersebut, hingga berlari mengepung toko tersebut. Max masuk ke dalam namun tidak menemukan keberadaan Zoya. Max menatap lelaki penjual itu dengan tajam.
"Dimana wanita yang sedang membeli kue disini?" Tanya Max dengan menyebutkan ciri-ciri Zoya.
"Tidak ada tuan, apa tuan ingin membeli kue?"
"Sialan kau! Bughhh"
Bogeman keras mengenai wajah lelaki itu hingga hidungnya mengeluarkan darah, namun lelaki itu menyeringai lalu mengeluarkan pistol dan mengarahkannya dan menambak Max dengan brutal namun sasaran nya tidak mengenai Max sama sekali malah mengenai para pembeli, hingga Saguna hadir menyuruh mereka semua pergi keluar.
"Biar ini urusan mereka, mari kita kedalam ruangan itu! Zoya dalam bahaya!" Ujar Saguna berbisik.
Manik mata Max yang memerah semakin menjadi hampir warna darah karena mendengar Zoya mereka terkam, Max dan Saguna langsung berlari masuk kedalam ruangan itu. Namun pintunya terkunci dan pintunya dari baja yang sulit di dobrak.
Hingga Max menarik pistolnya dan menembak kunci nya hingga pintu itu terbuka dan mendobraknya, terlihat di dalam Zoya sedang bertarung dengan lelaki misterius mempertahankan dirinya agar tetap selamat.
Max tidak tinggal diam dan langsung menarik Zoya dan memukul keras kepala lelaki itu menggunakan ujung pistol hingga darah menempel di pistol Max, Saguna ingin mual hingga memakaikan masker untuk menutupi mulut dan hidungnya. Lalu bughh! Bogem mentah dari Saguna mendarat di lelaki misterius itu.
Max menatap wajah Zoya dengan khawatir, "Kau baik-baik saja kan?"
"Aku baik-baik saja karena kalian datang tepat waktu! Mereka penjahat kelas atas Max, tidak mudah mengalahkan mereka!"
"Kau tenang saja, ini udah rencana kedua kita! Jika mereka tidak mengusik kita maka kita gagalkan untuk menghancurkan mereka, ternyata salah mereka telah berani menyenggol Mexmar, maka kita harus memusnahkan nya!"
Zoya ragu namun mencoba menguatkan dirinya dan mempercayakan semuanya kepada suaminya itu.
Terlihat Saguna hampir terkalahkan oleh lelaki misterius itu hingga membuat Max melayangkan peluru ke arah di perutnya hingga membuat lelaki itu terjatuh dan dengan segera Max dan yang lainnya berlari mendekat untuk mengetahui siapa lelaki misterius itu.
Saat topengnya terbuka semua kaget tenyata dia adalah Dega seseorang yang selama ini mereka cari. Max semakin marah, dan menarik tubuh Dega untuk dibawa nya keluar dan menyeretnya keluar. Mexmar berhasil menaklukkan penjahat itu semua.
Verin ternyata telah bergabung dengan penjaga di luar menghancurkan lawan sampai tidak bernafas lagi, ini pertama kalinya bagi Verin namun dia sangat menikmati nya. Saat Zoya dan yang lainnya keluar, Verin menghampiri Zoya dan menarik Zoya untuk menghadapnya.
Verin memperhatikan semuanya dengan detail, hingga memegang perut Zoya memastikan kalau organ dalam Zoya belum ada yang di ambil.
"Hei, kenapa tangan kau lasak sekali?" Ujar Zoya protes.
"Memastikan kalau organ tubuh kakak masih utuh!" Ujar Verin.
Haider yang melihatnya sedari tadi menahan tawa nya dengan perlakuan Verin namun kembali fokus terhadap Dega.
"Aku baik-baik aja, karena kalian tepat waktu datangnya!"
"Bagus deh!"
"Aku akan menghubungi polisi agar mereka segera menghukum mati badebah ini semua!" Ujar Verin emosi.
"Jangan, mereka harus kita eksekusi mati! Dan menyisahkan lelaki payah ini!" Ujar Max.
"Kenapa gitu?" Tanya Saguna tidak satu frekuensi dengan Max.
"Kalau kita menghubungi polisi sudah pasti mereka akan mengungkap identitas kita, dan kita bisa dalam bahaya! Kita hanya membutuhkan Dega sialan ini, selebihnya bakar mereka semua!" Ujar Max tegas.
Saguna setuju dengan pemikiran Max karena yang dikatakan Max sungguh benar, lalu mereka semua membawa tubuh lelaki itu semua masuk ke dalam lalu menguncinya, sedangkan anak buah yang lain menyiram bahan bakar disekitar toko itu. Yang lainnya setelah selesai dengan tugasnya segera pergi dari tempat itu, begitupun Zoya dan Verin. Hanya menyisahkan Max disana, lalu Max menghidupkan korek api dengan menyeringai tajam lalu membalikan tubuhnya berjalan menjauh lalu melempar kebelakang hingga terjadi ledakan besar dan membakar seluruh toko tersebut, semua yang mendengarnya langsung berlari keluar melihat toko yang ingin sekali mereka hancurkan sudah terbakar dengan sendirinya merasa senang. Karena mereka tidak mengetahui apapun tentang kejadian sebelum kebakaran itu menyala melahap habis toko itu beserta lelaki sialan yang ada di dalamnya.
Bersambung ...
semoga suka dengan part ini, dan maaf karena kemarin author lagi ngedrop, jadi baru bisa hari ini untuk up, dan setelah benar-benar pulih author akan rajin double up lagi✌️
terimakasih untuk dukungannya yaa🙏 dan terus dukung karya ini untuk terus berkembang.
love you all❤️