
Zoya lebih baik memilih tidur daripada memikirkan Max yang tidak punya sedikitpun empati kepadanya. Khansa berusaha mengetuk pintu kamar Zoya terus menerus namun tidak ada jawaban dari dalam membuat Khansa lebih baik memilih masuk kedalam kamarnya.
Max sedang berdiri tepat di atas di balkon memperagakan gimana cara mengungkapkan pada Zoya, dia berjongkok dengan kaki satu lalu mengeluarkan sebuah cincin yang bermata kan diamond.
"Aku mencintaimu, apa kau mau menjadi istriku?"
"Arrrghhhh!"
"Apaan macam begitu!" Ujar Max kembali berfikir.
"Oke...oke ulang lagi,"
"Zoya, you marry me?"
"Hahhaha itu lebih baik! Oke besok langsung praktek," ujarnya dengan senang lalu beranjak ke sofa untuk tidur disana.
Karena di apartemen Zoya hanya memiliki dua kamar jadi terpaksa dia memilih tidur disitu daripada harus menyewa apartemen lain dan membiarkan Erlan sesukanya datang kesini.
...----------------...
Pagi sekali Zoya telah berlari pagi disekitar taman dekat apartemen nya dan meninggalkan Max yang masih tertidur dengan nyenyak.
Zoya sedang berlari dan sambil menikmati indah dan sejuk nya negara P di pagi hari, Erlan yang melintas di sekitar tempat itu melihat keberadaan Zoya langsung memberhentikan mobil nya lalu menghampiri Zoya.
"Hai Zoya!" Sapa Erlan.
Zoya yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh kebelakang, "Erlan, hai juga!"
"Apa kau selalu melakukannya setiap pagi?"
"Iya, aku sangat suka udara di pagi hari!"
"Max dimana?"
"Dia masih tidur, kau sudah mengingatnya?"
"Khansa menjelaskan nya padaku, aku senang bisa bertemu kembali dengannya setelah sekian lama!"
"Oh, ya?"
Erlan mengangguk, "Kita duduk disitu yuk,"
"Boleh, kau mau kemana?"
"Gak ada, kebetulan lewat dari sini dan lihat kau jadi mampir sebentar!"
...----------------...
Max telah terbangun dan mencari keberadaan Zoya namun tidak ditemukan nya lalu mengetuk pintunya dan ternyata tidak terkunci yang membuatnya langsung memasukinya dan ternyata di dalam pun tidak ditemukan keberadaan nya.
"Khansa, apa kau melihat Zoya?" Tanya nya pada Khansa yang baru saja keluar dari kamar.
"Dikamar gak ada?"
"Kalau ada aku gak tanya sama dirimu!"
"Ya gak usah nyolot juga, mungkin dia lagi lari pagi!" Ujar Khansa kesal dan meninggalkan Max.
"Oh." Max langsung bergegas menuju keluar apartemen mencari keberadaan Zoya.
Sambil bersenandung Max berjalan keluar apartemen yang ternyata dia telah menjadi tatapan utama para wanita disekitar nya, ada yang terang-terangan mengaguminya dan ada juga yang langsung menghampiri dirinya.
"Hello," sapa seorang wanita.
Max hanya tersenyum dan hendak pergi.
"Kenalin namaku Laura, apa kau tinggal di apartemen ini?" Tanya seorang wanita.
"Ya!" Jawab Max singkat dan dingin lalu pandangan nya terus beredar mencari keberadaan Zoya.
"Apa boleh kita kenalan?"
"Sorry, aku sibuk!" Ujar Max lalu meninggalkan para wanita tersebut.
"Ternyata pesona mu telah memudar, Laura!" Ujar seorang wanita lain dengan tertawa.
"Kau lebih baik banyak bersyukur karena ini gak diliput oleh wartawan, kalau iya reputasi mu akan lenyap dan ditertawakan oleh satu dunia!" Ujar mereka lagi dan semuanya tertawa.
"Stop, lihat aja aku pasti bisa membawanya menjadi pasanganku saat acara penghargaan ku nanti!" Ujar nya dengan percaya diri.
Semua hanya tertawa dan kembali berjalan meninggalkan tempat itu sedangkan Laura masih menatap ke belakang memperhatikan Max sampai menghilang dari pandangan nya.
Max sangat kesal dan mencari kemana saja tidak menemukan Zoya dan tatapan nya jatuh pada dua orang sepasang lelaki dan perempuan sedang terlihat sangat mesra.
"Aw, mataku sepertinya ada debu yang masuk!" Ujar Zoya dengan memicingkan mata nya.
"Serius? Coba sini aku lihat!" Ujar Erlan dan ingin menghembuskan debu yang ada di mata Zoya.
Max telah merah padam di kejauhan dan langsung berlari mendorong sekuat nya tubuh Erlan hingga terjatuh, dia sebenarnya ingin sekali menghajarnya tetapi karena Erlan adalah teman masa kecil nya ia tidak jadi melakukan itu.
Zoya dan Erlan terkejut dengan kedatangan Max, Max langsung duduk di tempat Erlan tadi dan memegang wajah Zoya dan menghembuskan nya agar debu itu telah pergi dari mata Zoya.
Zoya terpaku atas perlakuan Max lalu menyadarkan nya.
"Kenapa kau bisa ada disini?"
"Kenapa? Apa kau sangat senang berduaan dengan seorang Casanova ini?"
"Hei, kau emang gak pernah berubah yaa! Aku bukan Casanova aku adalah pria yang baik asal kau tau itu!" Ketus Erlan.
"Aku tidak percaya!"
"Stop dekatin Zoya, dia adalah wanitaku dan dia adalah calon istriku! Apa kau mengerti, sekali lagi aku lihat kau berduaan dengan Zoya, habis kau!" Ancam Max.
"Apa begini sambutan mu pada teman lamamu, ha?" Tanya Erlan.
Max tidak menghiraukan nya dan langsung mengambil cincin yang ada di kantong nya itu dan mengeluarkan nya lalu memasangkan di jari manis Zoya.
"Dengan cincin ini kau resmi jadi wanitaku dan jangan coba-coba untuk berduaan lagi dengan Casanova itu!" Ujar Max kepada Zoya.
Zoya tidak tertegun sama sekali dan memperhatikan cincin mewah tersebut dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.
Apaan ini? Apa dia melamarku? Cih, lelaki seperti apa dia melamar seorang wanita seperti itu, bahkan aku bingung harus senang apa kesal, Batin Zoya bergejolak.
Zoya ingin melepaskan cincin itu namun tatapan tajam dari Max membuat nya mengurungkan niat nya dan pasrah karena dia sendiri tidak tau cincin ini maksudnya apa? Dan tidak ingin berharap lagi dengan lelaki di depannya itu.
"Kau baru saja melamarnya?" Tanya Erlan dengan tertawa keras.
"Kenapa? Apa kau iri? Cari saja wanitamu dan jangan mengganggu wanitaku!" Sungut Max.
"Kau sungguh payah, dan kau bersyukur Zoya tidak menggamparmu karena memaksa menerima nya," ujar nya lagi dengan tertawa.
Max hanya menatap nya tajam dan ingin sekali menghajar teman didepan nya itu untuk pelajaran karena telah berani menertawakan dirinya dan menggoda Zoya.
"Zoya, kalau kau tidak menyukainya buang saja dan beritahu kepadaku agar kubelikan dan kubuatkan acara melamar yang romantis, tidak seperti lelaki di depanmu!" Ujar nya dengan tertawa.
"Yaudah aku pamit," ujar nya pada Zoya dan Max.
Zoya hanya mengangguk dengan tatapan datar dan kembali melihat cincin yang terpasang di tangan nya dengan perasaan campur aduk. Lalu Max menatap Zoya namun dibalas dengan tatapan tajam milik Zoya dan langsung pergi meninggalkan Max sendiri disana.
"Kenapa lagi?"
"Sebenarnya mau perempuan itu apa sih?"
"Semua salah!" Sungut Max dan mengikuti Zoya pergi.
"Lelaki macam apaan dia? Pengen banget nih cincin ku lempar tepat di mukanya!" Kesel Zoya dan terus berjalan dengan cepat menuju apartemen.
bersambung ...
semoga suka dengan part ini yaa🥰
jangan lupa dukungannya kakak semua, dan jika kalian suka bisa memberikan vote agar author makin semangat.
salam sayang semuanya ❤️❤️