
5 Tahun telah berlalu.
Rian baru saja pulang dari perusahaannya. Dia tampak lelah dan ingin segera beristirahat dengan nyaman di pelukan Key.
"Key, lo di mana?" Teriak Rian saat tidak menemukan Key di dalam kamar.
"Apa dia di kamar Bian ya" Guman Rian.
"Sudah lah, gue mandi dulu baru susulin mereka" Ucap Rian.
Rian menaruh jaketnya di gantungan. Dia langsung menyambar handuk dan mulai membersihkan dirinya di kamar mandi.
Di sisi lain Key dan Bian yang sedang bersembunyi pun kecewa karena Rian tidak juga mencari mereka di kamar Bian.
Bian Reivalio, adalah putra pertama dari Key dan Rian. Seorang putra tampan dengan senyuman yang sangat manis. Sikapnya hampir sama seperti Rian yang pendiam dan tingkahnya seperti Key yang jahil pada orang orang terdekatnya saja.
"Papah nggak mencari kita sayang, kita saja yuk yang mencari papah" Ucap Key.
"Iya mah" Jawab Bian kecil yang menggemaskan.
Key tersenyum lalu menggendong Bian. Dia membuka pintu kamar Bian sambil mencium gemas pipi gembul anaknya itu.
Saar Key dan Bian sampai di depan kamar Rian, Key menurunkan Bian agar Bian berjalan masuk sendiri ke dalam kamar.
Di saat Bian masuk di saat itu pula Rian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuh bagian bawahnya.
"Key" Teriak Rian marah.
"Ada apa sih Yan, gue nggak budek ya. Nggak usah teriak teriak deh lo" Ucap Key yang masuk ke dalam kamar mereka.
"Lo gila ya" Ucap Rian berkacak pinggang menatap tajam ke arah Key dan Bian bergantian.
"Kenapa sih Yan" Ucap Key melembut.
"Anak gue cowok Key, kenapa lo pakaikan gaun begituan. Gue nggak rela ya kalau anak gue belok gara gara lo" Ucap Rian marah.
"Heh, tuan Rianoval yang paling tampan sedunia ini bagi gue. Nih bocil juga anak gue. Gue yang mengandung dia sampai 9 bulan 2 minggu. Gue bahkan hampir meregang nyawa karena melahirkan dia. Jadi dia punya gue, dia anak gue. Bukan hanya anak lo doang. Lo itu cuma iyuran bibit doang" Ucap Key berkacak pinggang juga menatap tajam ke arah Rian.
"Key jangan bicara seperti itu, gue nggak suka" Ucap Rian bersikap dingin. Dia berjalan ke ruang ganti untuk menghindari Key dan Bian. Dia tidak mau jika sampai Key dan Bian melihat kesedihannya.
Sejak Key yang kritis karena pendarahan setelah melahirkan Bian. Rian mulai posesif pada Key. Bahkan Key yang ingin memiliki anak lagi di larang keras oleh Rian. Sudah cukup dia hampir kehilangan Key, dia tidak mau hal itu terulang lagi.
Setiap Key bicara soal dirinya yang hampir kehilangan nyawa, Rian seketika sedih dan ada rasa cemas serta ketakutan pada raut wajah Rian.
Key menghela nafas saat melihat Rian yang sedih.
"Iya mah" JawabBian yang berlari keluar dari kamar mamah dan ayahnya. Dia kembali ke kamarnya yabg penuh dengan maianan di dalamnya.
Key masuk ke ruang ganti, dia melihat Rian yang duduk di kursi yang ada di ruang ganti dengan pakaian yang sudah lengkap. Key tersenyum lalu naik ke atas pangkuan Rian dengan kedua tangannya yang melingkar di leher Rian.
"Maaf ya. Lo pasti sedih ya. Maaf karena ucapan gue membuat lo sedih" Ucap Key menyandarkan kepalanya pada dada bidang Rian.
"Gue takut Key, gue takut kehilangan lo. Sudah cukup Juli saja yang pergi dari kehidupan gue. Gue nggak mau jika lo dan Bian juga pergi meninggalkan gue." Ucap Rian lirih.
"Kita nggak akan tinggalin lo kok Yan, kita akan sama sama terus sama lo. Sudah ya jangan sedih lagi, gantengnya ilang nih kalau sedih terus" Ucap Key menoel noel pipi Rian.
Rian pun tersenyum dengan tingkah istrinta itu. Dia memeluk erat tubuh Key yang ada di atas pangkuannya itu.
"Gue cinta sama lo Key, gue sayang lo. Jangan pernah tinggalin gue Key. Gue nggak bisa hidup tanpa lo" Ucap Rian.
"Iya, gue juga cinta sama lo Rian. Gue nggak akan tinggalin lo apapun yang terjadi" Ucap Key.
SELESAI
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏