
"Tadi malam. Papi mau bangunin kamu tapi nggak tega. Kamu sepertinya kelelahan sekali" Ucap Ari mengusap lembut kepala Juli.
"Oh iya Juli, maaf tapi papi akan pergi lagi untuk beberapa bulan ke depan. Kamu nggak papa kan kalau papi tinggal?" Tanya Ari lembut. Dia takut jika Juli akan marah karena baru saja ia pulang setelah satu bulan lamanya ia berada di luar kota. Namun kali ini ia harus pergi ke luar negeri yang tentu saja memakan waktu lebih lama lagi.
"Ehem, ng...nggak papa kok Pi. Lagian papi juga kerja buat aku, aku ngerti kok" Ucap Juli memaksakan senyumnya.
"Makasih ya sayang, papi bangga sama kamu. Mami di sana juga pasti bangga sama kamu nak" Ucap Ari sedih.
"Pi sudah dong, jangan sedih terus. Mami sudah bahagia di surga. Mami juga sudah tidak sakit lagi di sana. Papi jangan sedih terus dong" Ucap Juli mengusap lembur punggung tangan Ari.
"Iya sayang, papi tidak akan sedih lagi." Ucap Ari tersenyum.
"Ya sudah, Juli pergi dulu ya Pi. Takut kena macet" Pamit Juli bangkit dari duduknya.
Cup
Juli mencium pipi Ari lalu melenggang pergi keluar dari rumah. Kali ini dia memilih memakai sepeda saja karena jam masuk sekolah masih 1 jam lagi.
"Hah, seger banget sih pagi ini. Yah walaupun mendung kayak perasaan gue. Tapi nggak papa deh, yang penting di bawa happy aja" Ucap Juli menggoes sepedanya membelah kemacetan memuju ke sekolah.
Kurang dari 45 menit Juli baru saja sampai di sekolah. Dia menaruh sepedanya di pojok parkiran motor. "Tumben bawa sepeda Jul" Ucap teman seangkatan Juli.
"Iya nih, lagi pengen naik sepeda saja. Yuk gue duluan ya" Pamit Juli berjalan ke arah koridor sekolah.
"Ke kelas ayang dulu deh, biasanya jam segini dia sudah di kelas. Eh beli minum dulu deh buat ayang, siapa tau dia haus" Ucap Juli berlari ke arah kantin.
Di kantin Juli membeli minuman kaleng dingin untuk Vito. Dia berjalan menaiki tangga karena kelasnya dan kelas Vito ada di lantai 2.
"Ayang Vito" Teriak Juli sambil berlompat lompatan masuk ke dalam kelas Vito. Namun seketika ia menghentikan langkahnya ketika melihat Vito yang tengah duduk dan bercanda ria dengan Naraya atau yang sering di panggil Nara.
Mendengar teriakan Juli, Nara dan Vito menoleh ke sumber suara. Vito seketika merubah ekpresinya ketika melihat kehadiran Juli.
"Ngapain lo di sini?" Tanya Vito dingin.
"Eh...em... ini gue beli minuman buat lo" Ucap Juli memberikan minuman kaleng pada Vito.
"Uhuk uhuk uhuk" Batuk Nara.
"Lo kenapa Ra? Nih minum dulu" Ucap Vito merampas minuman kaleng dari Juli lalu membantu meminumkannya pada Nara.
Melihat hal itu, Juli meremas ujung roknya. Dia menatap datar ke arah Vito yang bersikap lembut pada Nara.
"Hah, makasih ya Vit" Ucap Nara lembut. "Eh maksud gue, maksih ya Jul. Maaf minuman buat Vito jadi buat gue deh" Ucap Nara tersenyum manis.
"Eng...enggak papa kok Ra" Jawab Juli menggaruk tengkuknya. "Kalau gitu, gue balik ke kelas dulu ya" Pamit Juli yang langsung berlari keluar dari kelas Vito.
Vito tau jelas kalau Juli sedang sakit hati dan sedih. Harusnya dia senang karena dengan cara itu, Juli tidak akan mengganggu hidupnya lagi. Namun entah kenapa ada perasaan aneh yang kini ia rasakan ketika melihat raut wajah sedih Juli tadi.
Sedangkan Juli lebih memilih untuk ke taman belakang. Dia berlari terus sampai ia menjatuhkan diri di atas batu besar yang ada di samping kolam. "Kok sakit banget sih?" Ucap Juli memukuli dadanya dan tanpa ia rasa, air matanya telah jatuh membasahai rok seragamnya.
"Kok jadi cengeng gini sih gue? Kan sudah biasa juga Vito bersikap dingin ke gue. Tapi kenapa ini sesek banget sih?" Ucap Juli lirih.
Rian yang tadi ingin menemui Juli tanpa sengaja melihat semua kejadian di kelas Vito. Marah, iya dia sangat marah melihat sikap Vito pada Juli. Tapi apa lah daya karena perasaan tidak bisa di paksa. Dan di sini lah ia sekarang. Di balik pohon yang tidak jauh dari batu yang di duduki oleh Juli. Dia mendengar jelas ucapan Juli dan tentunya tangisan Juli yang menyayat hatinya.
Rian perlahan menghampiri Juli. Dia berlutut di depan Juli lalu menepuk bahu Juli lembut. "Jul" Pangginya lembut.
Juli mendongakkan kepalanya, dia semakin menangis melihat Rian yang kini ada di hadapannya. Rian meraih tubuh Juli dan membawanya ke dalam pelukannya. Tangisan Juli semakin pecah, dia semakin sesegukan dalam pelukan Rian.
Selepas kepergian Nara, Vito mencoba lewat kelas Juli namun ia tidak menemukan Juli di sana. Dia kembali ke kelas dan berjalan menuju jendela untuk melihat ke taman belakang karena biasanya Juli ada di taman belakang. Dan benar saja, Juli ada di taman belakang bersama dengan Rian. Vito meremas jemarinya karena melihat Juli yang tengah di peluk oleh Rian.
"Dasar murahan" Guman Vito yang terus menatap tajam ke arah Juli dan Rian.
Bayu dan Celo yang baru datang pun heran karena tumben Vito melihat keluar jendela yang mengarah ke taman belakang. "Ngapain lo bro?" Tanya Bayu menepuk bahu Vito.
"Bukan urusan lo" Jawab Vito singkat lalu berbalik menuju ke bangkunya. Karena penasaran Bayu dan Celo pun ikut melihat ke luar jendela. Mereka saling bertatapan ketika mengetahui apa yang di lihat Vito tadi. Mereka tersenyum saat melihat awan gelap yang ada di atas kepala Vito.
"Nih kelas kok panas banget sih Cel?" Ucap Bayu berjalan ke arah kursinya.
"Iya nih Bay, padahal kan masih pagi. Ac juga sudah nyala, kok masih panas ya?" Sahut Celo.
"Oh pantes panas" Ucap Bayu.
"Ada apa Bay?" Tanya Celo.
"Ini lagi ada yang kebakar" Tunjuk Bayu ke arah Vito.
"Kebakar api cemburu. Hahahahaha" Ucap Bayu dan Celo bersamaan lalu tawa mereka pun pecah memenuhi seisi kelas.
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏