
"Ya terserah kamu saja, dia semakin menjadi jadi saja" Ucap Noval.
"Om, tante. Cia pulang saja. Lagian ini sudah malam, takut di cari mamah" Pamit Cia.
"Iya Cia, maaf ya atas sikap Rian barusan" Ucap Dara.
"Iya tante, nggak papa kok. Kalau begitu Cia permisi" Pamit Cia. Cia melangkah pergi dari rumah Rian dengan hati yang hancur. Lagi lagi dia menerima sikap Rian yang dingin dan tak perduli dengan perasaannya. Padahal Rian tau akan rasa suka Cia ke dirinya. Namun Rian tetap bersikap dingin dan cuek padanya.
Dara mengusap lembut punggung Noval. Lalu dia berjalan menaiki tangga untuk menuju ke kamar Rian.
Tok tok tok
"Rian, apa boleh mamah masuk?" Tanya Dara yang berada di depan pintu kamar Rian.
Rian yang sedang duduk di lantai beralaskan karpet dan bersandar pada ranjangnya pun bangkit. Dia berjalan membukakan pintu kamarnya untuk Dara masuk.
"Boleh mamah bicara sama kamu?" Tanya Dara.
"Masuk mah" Jawab Rian mempersilahkan Dara masuk ke kamarnya.
Rian dan Dara duduk di sofa. Dara tersenyum ke arah Rian yang menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa?" Tanya Dara lembut dengan menyentuh tangan Rian.
"Aku nggak suka sama Cia mah. Aku hanya menganggap dia sebagai teman, tidak lebih" Ucap Rian.
"Jadi karena itu kamu bersikap acuh ke Cia?" Tanya Dara lagi.
"Iya mah, aku nggak mungkin suka dengan sahabat Juli sendiri. Aku akan merasa bersalah sama Juli jika hal itu terjadi." Jelas Rian.
"Rian, Juli sudah tenang di sana. Dia sudah bahagia nak. Harusnya kamu melanjutkan hidup kamu untuk meraih kebahagiaan kamu sendiri. Kamu tidak boleh terus berlarut larut dalam kesedihan kamu. Coba lah untuk membuka hati nak" Ucap Dara.
"Aku sudah mencobanya mah, tapi aku nggak bisa. Aku nggak bisa mengganyikan Juli dengan orang lain. Aku sangat mencintai dia mah" Ucap Rian.
"Nggak papa jika kamu belum bisa membuka hati Rian. Suatu saat kamu pasti akan menemukan gadis yang bisa sedikit mengisi kekosongan kamu. Kamu yang sabar ya sayang" Ucap Dara lembut.
"Makasih mah dan maaf soal tadi. Aku hanya tidak ingin memberikan harapan palsu pada Cia saja." Ucap Rian.
"Iya, mamah ngerti kok. Ya sidah, kita makan malam dulu ya. Papah kamu pasti sudah menunggu kita di ruang makan" Ucap Dara.
"Vito ke mana mah?" Tanya Rian.
"Vito ke Singapura, dia akan kuliah di sana dan dia sedang melakukan tes untuk masuk universitas" Jelas Dara.
Rian hanya mengangguk pelan. Akhirnya mereka berdua kwluar dari kamar Rian untuk makan malam bersama. Dia ruang makan, Rian melihat Noval yang sudah duduk dengan memainkan ponselnya.
"Jangan sekejam itu sama wanita Yan, kalau memang nggak suka bilang. Jangan bersikap acuh begitu" Ucap Noval tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Ck, kayak situ nggak juga. Sebelum kenal mamah Dara, siapa yang ngusir wanita dari rumah. Panggil satpam segala lagi" Ucap Rian duduk di sebelah Noval.
"Anak nggak tau diri" Ucap Noval.
"Papah nggak tau diri" Sahut Rian.
"Sudah sudah, ini jadi makan atau tidak? Kalau mau berantem terus sana keluar, biar mamah makan sendiri" Ucap Dara menengahi papah dan anak yang seperti tikus dan kuncing setiap bertemu. Tapi kalau sudah lama tidak bertemu saling telfonan.
🥀🥀🥀
Ke esokan harinya.
Rian yang merasa tidak enah hati dengan Key memilih untuk datang ke sekolah SMA Rajawali. Dia bersandar pada mobilnya dengan kaca mata bening yang bertengger di hidung mancungnya.
Hampir semua gadis terpana akan ketampanan Rian. Tak jarang pula dari para gadis itu yang mencari perhatian pada Rian yang asik dengan ponselnya.
"Ck, tuh anak mana sih, lama banget" Gerutu Rian. Rian mulai tidak nyaman dengan keberadaannya di sekolah. Dia memilih pergi dari pada harus menjadi tontonan anak anak wanita yang gila karena berteriak histeris.
"Ada bang Rian" Ucap Theo pada Ikbal.
Kennet menurunkan Key dari punggungnya. Mereka menghentikan tawanya saat melihat Rian yang berjalan ke arah mereka.
"Mau apa tuh si bos?" Tanya Kennet.
"Nggak tau" Jawab Ikbal. Ikbal berjalan ke arah Rian. "Ada apa bang?" Tanya Ikbal.
"Gue mau bicara sama dia" Ucap Rian menunjuk Key dengan dagunya.
"Key, bang Rian mau ketemu lo" Ucap Ikbal.
"Enggak ah, gue mau pulang. Ayo Ken" Ucap Key menarik lengan Kennet. Melihat Key yang memeluk lengan Kennet membuat Rian semakin emosi. Dia meremas jemarinya hingga terlihat otot otot di lengan kekarnya. Ikbal tentu saja tau akan hal itu. Dia menarik kerah baju Key lalu mendorong Key ke arah Rian.
"Pulang sama bang Rian, gue ada perlu sama Ken" Ucap Ikbal.
"Ogah, gue nggak mau di turunin di jalan lagi. Mending gue naik angkot sekalian" Ucap Key melangkah pergi melewati Rian. Dengan cepat Rian mencekal tangan Key. Dia sedikit menarik lengan Key agar Key menatap ke arahnya
"Gue minta maaf sama lo karena sikap gue kemarin. Tapi kemarin gue benar benar ada perlu sama nyokap. Sorry" Ucap Rian menjelaskan apa yang terjadi kemarin.
"Kenapa lo jelasin ke gue? Emangnya lo siapa gue? Lagian ya bang, gue nggak perduli sama apa yang lo lakukan. Jadi nggak usah lo datang lagi menemui gue dan bikin jalanan macet begini" Ucap Key menepis tangan Rian.
Benar saja ucapan Key, Rian datang ke sekolah dengan penampilannya yang tampan di tambah mobil sportnya yang mewah. Membuat anak anak SMA Rajawali enggan untuk meninggalka sekolah.
Rian merasa emosi dengan sikap acuh Key. Dia berjalan cepat menghampiri Key lalu mencekal tangan Key. Dia meraih tengkuk leher Key dan mencium bibir mungil Key di tengah jalan. Tentu saja hal itu membuat semua orang yang melihatnya puh terkejut. Banyak gadis gadis SMA Rajawali yang berteriak histeris dengan apa yang di lakukan oleh Rian saat ini.
"Wih, gerak cepat tuh si bos" Ucap Theo.
"Hahahaha, bakal ada yang jadian nih" Ucap Kennet.
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏
Selamat menunaikan ibadah Puasa
MARHABAN YA RAMADHAN
1444 H / 2023 M
Mohon Maaf Lahir Batin 🙏