It'S Me Rianoval

It'S Me Rianoval
Ekstra Part 01



Pagi ini Key sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Rian. Seperti pagi pahi baisanya, dia menyiapkan semua keperluan suaminta itu sendiri.


Namun saat menata makanan di atas meja, dia merasa perutnya yang terasa sakit. Namun tak lama rasa sakit itu hilang.


"Aduh, kamu kenapa sih dek? Apa sudah waktunya kamu keluar?" Guman Key mengusap perut besarnya.


Dia terus mengatur nafasnya agar Rian tidak khawatir dengan keadaanya saat ini. Dia tidak ingin ketakutan Rian kambuh karena melihat dirinya yang kesakitan.


"Tunggu papah pergi kerja dulu ya sayang, nanti kita periksa ke rumah sakit. Jangan sampai papah kamu tau, nanti dia sedih lagi" Ucap Key yang bersandar pada meja dapurnya.


"Key" Teriak Rian yang berjalan ke arah ruang makan. Dengan cepat Key bersikap seperti biasa saja agar Rian tidak melihat kesakitannya.


"Iya, kenapa?" Tanya Key tersenyum.


"Dompet gue di mana?" Tanya Rian.


"Mungkin masih di jaket yang lo bawa kemarin" Ucap Key.


"Oh, ok gue cari dulu" Ucap Rian kembali ke kamarnya.


Key merasakan rasa sakitnya kembali lagi. Dia perlahan duduk di kursi meja makan dengan terus mengusap perutnya.


"Sebentar ya sayang, nanti kita ke rumah sakit" Ucap Key.


Tak lama Rian kembali ke ruang makan. Rian mencium kening Key lalu mengusap lembut perut buncit Key yang terlihat sudah semakin ke bawah.


"Sepertinya kita sebenyar lagi akan segera bertemu dengan dia" Ucap Rian tersenyum senang.


"Iya, sudah sana makan dulu, nanti keburu dingin lagi" Ucap Key.


"Iya" Jawab Rian mulai memakan makanan yang di masak oleh Key tadi.


Di sela sela makannya, Rian melirik ke arah Key yang entah kenapa terlihat pucat. Banyak keringat yang membasahi pelipisnya.


"Lo sakit Key?" Tanya Rian menghentikan aktivitasnya.


"Hah...enggak kok. Gue baik baik saja" Jawab Key tersenyum.


"Lo yakin?" Tanya Rian lagi.


"Iya, gue yakin" Jawab Key.


Rian menghela nafasnya, dia mengambil tisu lalu mengusap keringat Key.


"Kalau lo capek, istirahat saja. Nggak usah bersihkan apartemen. Biar nanti gue panggil orang saja buat bersih bersih. Lagian dengan perut lo yang besar, gue nggak mau kalau lo sampai kenapa kenapa" Ucap Rian.


"Iya, nanti gue akan istirahat saja." Jawab Key.


"Ya sudah, gue berangkat dulu. Kalau ada apa apa segera hubungi gue" Ucap Rian yang di jawab anggukankepala oleh Rian.


Key ikut bangun saat Rian berjalan ke arah pintu apartemen. Saat akan sampai di pintu, Key kembali merasakan perutnya yang sakit lagi. Bahkan kali ini sakitnya datang lebih sering.


"Ingat jangan banyak betaktifitas. Banyak banyak istirahat" Ucap Rian.


"Iya" Jawab Key memaksakan senyumnya agar Rian tidak khawatir.


Byuur


Rian yang baru saja akan mencium kening Key pun terhenti saat melihat air yang cukup banyak keluar dari tubuh bagian bawah Key.


"Key.... lo..." Ucap Rian terbelalak.


"Sakit Yan" Ucap Key dengan deru nafas yang tersengal sengal.


Dengan segera Rian menggendong tubuh Key. Dia masuk ke dalam lift dengan Key yang terus metemas kemeja Rian.


"Sabar ya sayang, kita akan ke rumah sakit sekarang" Ucap Rian gemetaran.


"Sakit Yan, ini sakit banget" Ucap Key.


"Tahan sebentar ya sayang" Ucap Rian.


Tak lama Rian sudah sampai di lobby apartemen. Melihat Rian yang menggendong Key 2 satpam pun menghampiri Rian untuk membantu.


"Istrinya mau melahirkan pak?" Tanya Satpam.


"Yang mana mobil pak?" Tanya satpam lain.


"Ini kuncinya" Ucap Rian menyerahkan kunci mobilnya. Salah satu satpam membawa mobil Rian di depan Lobby. Satpam lain segera membukakan pintu mobil untuk Rian.


"Biar saya yang antar pak, dalam keadaan anda seperti ini berbahaya jika mengendarai mobil sendiri" Uca0 satpam.


"Iya sudah, tolong ya pak" Ucap Rian khawatir.


"Iya pak" Jawab satpam.


Saat di pertengahan jalan, Key merasakan tubuhnya yang semakin lemas. Bahkan cengkramannya pada kemeja Rian pun mulai melonggar.


"Sayang bertahan ya" ucap Rian menggenggam erat tangan Key.


"Yan, gue...."


Rian kembali terbelalak saat melihat darah yang kini keluar dari tubuh bagian bawah Key.


"Pak lebih cepat pak, istri saya pendarahan" Teriak Rian.


"Iya pak iya" Jawab satpam.


"Sayang lo harus bertahan, lo nggak boleh meninggalkan gue sayang. Gue mohon bertahan demi gue" Ucap Rian yang kini mulai menangis.


Tak lama mereka sudah sampai di rumah sakit. Satpam yang mengantarkan Rian tadi segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Rian.


Petugas rumah sakit segera kekuar dengan mendorong berangkas untuk Key. Rian membaringkan tubuh Key yang semakin lemah di atas berangkas.


"Bapak pulang saja dengan mobil saya" Ucap Rian.


"Tidak usah pak, biar saya naik taxi saja dan ini kuncinya, semoga ibu dan anak bapak selamat dan sehat semua" Ucao satpam.


"Terima kasih pak, kalau begitu saya masuk dulu pak" Pamit Rian.


"Iya pak" Jawab satpam.


Rian sedikit berlari masuk ke dalam rumah sakit. Dia juga menghubungi Noval dan Dara untuk memberi tau bahwa Key masuk rumah sakit.


Saat sampai di ruang persalinan, Rian duduk di kursi tunggu karena dia di karabg untuk ikut masuk ke dalam ruangan.


Tak lama Noval dan Dara sampai di rumah sakit denganraut wajah Dara yang khawatir dengan keadaan menantu dan calon cucunya.


"Rian, gimana Key?" Tanya Dara.


"Mah, Key tadi banyak keluar darah mah. Rian takut mah" Ucap Rian menangis.


Dara meraih tubuh Rian dan membawanya ke dalam pelukan.


"Key wanita kuat Rian, kamu harus yakin kalau dia akan baik baik saja" Ucap Dara.


Noval menghubungi Vito untuk datang ke rumah sakit. Noval tau akan ketakutan Rian namun dia juga tidak bisa berbuat apa apa sekarang ini. Rian hanya butuh Dara untuk menyemangati dirinya.


"Mana kunci mobil kamu Rian, biar anak buah papah mencucinya" Ucap Noval.


Dengan masih dalam pelukan Dara, Rian memberikan kunci mobilnya pada Noval.


"Papah keluar dulu ya mah" Pamit Noval.


"Iya pah, jangan lama lama" Ucap Dara dan Noval mengangguk sebagai jawabannya.


Sudah lebih dari 4 jam Key berada di ruang persalinan. Rian yang sudah mulai tenang terus menatap lurus ke arah pintu ruangan.


Di sana juga sudah ada Vito dan Jesika. Sedangkan Dara dan Noval ke kantin untuk membelikan minuman.


"Tegang banget sih lo Yan" Ucap Vito yang mencoba mencair suasana. Namun yang ia dapat malah tatapan tajam dari Rian dan Jesika.


"Lebih baik kamu diam Vito. Berani kamu bicara lagi, aku jahit mulut kamu" Ucap Jesika.


"Galak banget sih lo" Ucap Vito.


"Itu karena lo belum pernah merasakan apa yang gue rasakan Vit. Jadi lebih baik lo diam saja atau gue akan habisi lo saat ini juga" Ucap Rian dingin dengan kembali menatap ke arah pintu ruangan.