It'S Me Rianoval

It'S Me Rianoval
Eps 13



Semua mata kini tertuju pada Juli yang lebih memilih berjalan ke arah Rian. Dia mengusap lembut sudut bibir Rian yang mengeluarkan darah.


"Lo kenal sama Dimas?" Tanya Rian dingin.


"Nanti gue akan jelasin ke lo. Kita obati dulu luka lo" Ucap Juli lembut.


"Lo hutang penjelasan sama kita semua Jul" Ucap Ical.


"Nanti ya, gue mau obati Rian dulu" Pinta Juli yang di angguki oleh anggota Death Devil lain.


Vito yang awalnya mau membantu, namun terhenti ketika melihat Juli yang di tarik olah ketua musuh. Dia ingin membantu Juli karena dia pikir Juli akan di hajar oleh ketua musuh namun yang ia lihat, Juli tengah bicara dengan ketua musuh.


"Ada hubungan apa Juli sama ketua musuh?" Guman Vito dalam hati.


***


Jam pulang sekolah.


Rian tidak menjemput Juli di kelas karena kini dia berada di warung untuk membantu mengobatu luka anak buahnya. Sedangkan Juli masih di kelas karena tadi dia di minta guru Ekonomi untuk melengkapi tugasnya.


"Juli" Panggil Vito yang kini sudah berdiri di hadapan Juli.


"Mau ngapain lo di sini?" Tanya Juli yang melihat sekilas ke arah Vito lalu kembali fokus pada bukunya.


"Lo ada hubungan apa sama ketua lawan kita tadi?" Tanya Vito.


"Bukan urusan lo" Jawab Juli singkat.


"Jawab gue Juli, gue care sama lo Jul" Ucap Vito mencekal lengan Juli.


"Care lo bilang? Terus lo selama ini ke mana? Hampir 2 tahun gue ngejar lo Vito. Kenapa baru sekarang lo bilang care sama gue? Kenapa baru sekarang saat gue sudah mulai membuka hati buat Rian?"


"Lo benar benar jahat Vito. Lo puas kan sudah mempermainkan perasaan gue? PUAS KAN LO VITO" Teriak Juli marah.


"Jangan pernah lo dekati gue lagi. Gue muak sama lo, dan gue nggak mau lalau Rian salah paham. Asal lo tau Vito, gue akan terus berusaha untuk buang perasaan gue ke lo" Ucap Juli yang langung bangkitdari duduknya. Dia berjalan keluar kelas namun dia terkejut melihat Rian yang berdiri di samping pintu kelasnya.


"Rian" Ucap Juli terkejut.


"Pulang yuk" Ucap Rian datar lalu menggandeng tangan Juli.


Vito yang melihat hal itu pun mulai terpancing emosi. Dia berjalan cepat menghampiri Juli dan Rian. Dia mencekal tangan Juli hingga Juli dan Rian menghentikan langkahnya.


"Jangan pergi Jul, gue sayang sama lo. Gue tau selama ini gue pengecut dan mementingkan ego gue. Tapi jujur gue sudah mulai sayang sama lo sejak lama Jul. Gue sudah terbiasa dengan gangguan lo. Gue sudah terbiasa dengan perhatian lo. Jangan pergi Juli, gue mohon" Pinta Vito mengutarakan semua yang ia rasakan. Penyesalan yang selama inu ia rasakan kini telah ia ungkapkan pada Juli.


Rian melepaskan genggaman tangan Juli. "Selesaikan masalah lo, gue tunggu lo di bawah" Ucap Rian. Barusaja Rian akan melangkah namun kali ini Juli yang mencekal tangan Rian.


"Lo pacar gue sekarang Rian, gue nggak mau buat lo terluka" Ucap Juli.


"Nggak papa, selesiakan saja dulu" Ucap Rian melepaskan tangan Juli. Dia berjalan menuju ke tangga lalu menuruni anak tangga tersebut untuk menuju ke parkiran.


"Apa sih mau lo Vito? Belum cukup lo permainin gue selama ini? Belum cukup lo hancurin hati gue selama ini? Apa sebegitu tidak berharganya gue di mata lo hingga lo terus buat gue terluka? Gue sudah menyerah sama lo Vto. Sudah cukup lo hancurin hati gue. Mau sampai kapan lo bersikap seperti ini ke gue? Gue capek Vit, gue capek. Lo jahat sama gue Vito" Ucap Juli berjongkok dan menangis.


Vito yang melihat hal itu pun ikut jongkok di depan Juli. Dia mengusap lembut air mata Juli. "Sorry. Gue tau kata itu tidak akan mampu menyembuhkan luka lo yang gue buat. Tapi gue benar benar menyesal Juli. Maafin gue" Ucap Vito.


"Maaf lo bilang? Di saat gue sudah mulai menata hati, lo datang ke gue dan mulai menghancurkan hato gue lagi. Dan sekarang lo minta maaf? Lo benar benar hebat Viro" Ucap Juli menepis tangan Vito.


"Jangan temui gue lagi Vito. Gue sudah bersama Rian sekarang. Gue nggak mau menambah luka buat Rian karena Rian tulus mencintai gue" Ucap Juli bangkit lalu berjalan menuju tangga.


Sebelum menrmui Rian, Juli memilih untuk menuju ke ksmar mandi. Di sana dia membasuh wajahnya agar Rian tidak tau kalau dia habis menangis.


Juli keluar dari kamar mandi. Dia berjalan menuju ke parkiran. Dia menghela nafas panjangnya ketika melihat Rian yang duduk di pembatas parkiran.


Juli merampas rokok Rian lalu membuanya dan menginjaknya hingga mati. "Banyak banget puntung rokok lo. Sudah berapa banyak lo hisap?" Tanya Juli.


"Cuma sedikit kok, buat ngalihin pikiran gue saja" Jawab Rian.


"Lagian lo kenapa pergi kalau akhirnya lo tersiksa begini?" Tanya Juli.


"Nggak papa, dari pada gue di sana malah bisa lepas kendali mending gue di sini" Ucap Rian.


"Balik yuk, gue laper nih" Ucap Juli menarik tangan Rian.


"Ayok" Jawab Rian datar. Walaupun perasaannya sakit namun sikap lembut dan perhatian Rian tetap sama pada Juli. Dia tetap memakaikan helm Juli dan membantu Juli naik ke atas motornya. Semua perlakuan Juli dan Rian tidak lepas dari tatapan tajam Vito yang berada di dalam mobilnya. Vito mencengkram erat setir mobilnya untuk menyalurkan kekesalannya.


***


Di rumah Juli.


Rian tengah duduk di ruang keluarga bersama Juli yang tengah asik makan mie gorengnya.


"Rian, lo serius nggak mau mie gorengnya?" Tanya Juli.


"Enggak, lo makan saja. Lagian lo kayak orang kelaperan gitu mana tega gue minta makanan lo" Ucap Rian.


Juli tersenyum lalu membawa piring mie gorengnya berpindah duduk di hadapan Rian. "A... buka mulutnya" Ucap Juli menyuapkan mie gorengnya ke arah Rian.


Rian tersenyum lalu menerima suapan dari Juli. "Pinter banget sih ayangnya aku" Ucap Juli mencubit gemas pipi Rian.


Rian menggenggam tangan Juli dan kenatap lekat kedua manik biru Juli. "Kalau lo mau balikan sama Vito.... gue nggak papa kok Jul?" Tanya Rian lirih.


💥💥💥


Hai hai hai...


Gimana seru nggak nih ceritanya.


Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.


Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁


👍 Like


♥️ Favorit


💬 Komen


⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.


Selamat membaca ya kak


Terima kasih banyak


See you next part


😊😊😊🙏🙏🙏🙏