It'S Me Rianoval

It'S Me Rianoval
Eps 79



Riang membelokkan kursi rodanya ke arah ruang TV. Di sana masih ada Vito yang tampak tidak enah hati karena mendengar pertengkaran mereka.


"Jangan emosi Yan, dia cewek lo" Ucap Vito.


"Gak usah ikut campur" Ucap Rian singkat.


Rian mengambil dompetnya lalu kembali ke dapur. Di meja makan, dia melihat kembali Key yang menangis menatap ponselnya yang hancur.


Rian semakin marah. Dia melempar sebuah kartu hitan di atas meja depan Key.


"Beli ponsel sesuka lo. Tapi jangan harap lo bisa kembali sama dia" Ucap Rian.


Brack


Key menggebrak meja makan dengan sangat keras. Dia mengambil kartu hitam dari Rian tadi dan melemparkanya tepat di tubuh Rian.


"Lo memang kaya Rianoval, tapi lo gak akan bisa membayar berapapun kenangan yang ada di dalam ponsel gue ini." Ucap Key penuh penekanan.


"Asal lo tau Rianoval yang terhormat, semua foto foto mendiang orang tua gue ada di sini. Hanya ponsel ini yang gue miliki sebagai kenangan mereka. Tapi sekarang sudah hancur dan ini semua karena ulah lo. Ulah lo yang cemburu gak jelas padahal sudah jelas bahwa gue gak pernah selingkuh dari lo." Ucap Key.


"Gue sadar diri Rianoval. Gue sadar diri karena gue menggantungkan hidup gue sama lo. Gue gak akan lupa dengan apa yang sudah lo berikan sama gue. Lo juga tau betapa besar rasa cinta gue ke lo. Tapi lo gak pernah percaya sama gue Rian. Lo selalu meragukan cinta yang gue miliki buat lo." Ucap Key.


"Tapi sudah jelas di ponsel itu lo selingkuh dari gue. Lo bertukar pesan sama cowok lain" Bentak Rian.


"Cowok siapa maksud lo? Jason?" Teriak Key tidak kalah keras dari Rian.


"Dia hanya teman gue Rian, bahkan lo tau siapa dia. Lo memang gak pernah percaya sama gue. Percuma gue bicara kalau di otak lo gue tetap salah." Ucap Key.


Key melangkah pergi dari dapur.


"Mau ke mana lo?" Bentak Rian.


Key tidak menjawab ucapan Rian. Dia tetap masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar dari dalam.


Vito yang merasa kasihan pun mendekati Rian.


"Harusnya lo dengar penjelasan dia dulu Yan. Lo tau sendiri, dia sudah tidak punya orang tua. Semua kenangan kedua orang tuanya ada di ponsel itu. Gue tau lo takut kehilangan dia, tapi jika lo bersikap seperti ini maka lo akan tetap kehilangan dia Yan" Ucap Vito.


"Tau apa lo tentang gue. Lagian lo ngapain ikut campur urusan gue. Gue sudah usir lo sejak tadi. Gak tau diri banget sih lo" Ucap Rian marah.


"Ok gue akan pergi. Tapi gue harap lo dengarkan apa yang gue ucapakan. Lo sudah pernah merasakan kehilangan bukan? Jadi gue harap lo gak akan merasakan rasa itu lagi" Ucap Vito.


Vito pergi dari apartemen Rian. Rian menjalankan kursi rodanya ke arah pintu kamar.


Tok tok tok


"Buka pintunya Key" Ucap Rian.


Tok tok tok


Rian kembali mengetuk pintu karena tak ada jawaban dari Key.


"Bula anj***g" Bentak Rian yang kini mulai menggedor gedor pintu kamarnya.


Key membuka pintu kamar. Tampak jelas wajar Key yang memerah karena menangis.


Rian terkejut melihat Key yang membawa tas miliknya.


"Lo mau ke mana?" Tanya Rian takut.


"Untuk apa gue tetap di sini jika lo gak pernah percaya sama gue. Lebih baik gue pergi dan menganggap semua ini gak pernah terjadi" Ucap Key.


"Enggak, lo gak pergi" Ucap Rian meraih tangan Key. Namun dengan cepat Key menepis tangan Rian.


"Gue capek, gue mau pergi sekarang" Ucap Key dingin. Key membawa tasnya melewati Rian. Rian yang tidak ingin Key pergi segera memutar kursi rodanya. Dia menjalankan kursi rodanya agar bisa mencegah Key untuk pergi.


Brack


"Key, gue jatuh Key. Ini sangat sakit" Ucap Rian lirih.


Key mengusap air matanya. Dia menguatkan dirinya agar tidak kasihan dengan Rian.


"Harusnya lo lebih hati hati lagi. Lo bisa membanting ponsel gue sampai hancur jadi gue yakin kalau lo bisa bangun sendiri" Ucap Key membuka pintu apartemen lalu pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun pada Rian.


"Enggak Key, jangan pergi Key gue mohon. Gue salah Key, jangan tinggalin gue" Teriak Rian berusaha menuju ke pintu apartemennya.


"Key jangan pergi" Teriak Rian dari dalam apartemennya.


Di depan gedung apartemen, Key membawa tas besarnya menuju ke halte bus. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya karena keadaan halte yang cukup ramai sekarang.


Din


"Key, naik" Ucap Vito yang menghentikan mobilnya di depan halte bus.


"Lo gak usah khawatir, gue gak akan bawa lo balik ke tempat Rian kok" Ucap Vito yang tau kekhawatiran Key.


Akhirnya Key membawa tasnya masuk ke dalam mobil Vito. Vito kembali melajukan mobilnya pergi dari area itu.


"Lo mau ke mana sekarang?" Tanya Vito.


"Gak tau, mungkin gue ke tempat sahabat gue" Jawab Key tertunduk.


"Kalau mau nangis, nangis saja. Gue tau kok lo kecewa sekarang. Lo boleh melampiaskan dengan air mata lo" Ucap Vito.


Dengan ucapan Vito barusan, seketika membuat Key menangis. Memang benar dengan apa yang di ucapkan Vito. Saat ini dirinya benar benar kecewa. Kecewa dengan sikap Rian dan dia juga kecewa dengan dirinya sendiri karena membalas pesan dari Jason hingga membuat semua ini terjadi.


Vito membawa Key berputar putar agar Key merasa nyaman menangis di dalam mobilnya. Cukup lama Key menangis dan kini dia sudah mulai tenang.


"Sorry, bukannya gue mau ikut campur. Tapi kenapa Rian bisa sampai semarah itu sama lo?" Tanya Vito.


"Dia melihat isi pesan dari teman cowok gue." Jawab Key tertunduk sedih.


"Bukannya memang lo berteman sama anak anak cowok ya? Kenapa dia bisa semarah itu?" Tanya Vito bingung.


"Gue juga gak tau. Ini kali ke dua gue bertengkar hebat sama dia karena soal cowok. Gue sudah berulang kali menjelaskan ke dia kalau gue gak ada hubungan apapun sama cowok lain. Tapi sikap dia semakin ke sini semakin mencekik gue." Ucap Key.


💥💥💥


Hai hai hai...


Gimana seru nggak nih ceritanya.


Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.


Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁


👍 Like


♥️ Favorit


💬 Komen


⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.


Selamat membaca ya kak


Terima kasih banyak


See you next part


😊😊😊🙏🙏🙏🙏