
"Belum maju sudah di paksa mundur" Celetuk Vito menyeringai.
"Dari pada lo, di tinggal kelabakan" Ucap Celo tersenyum.
"Ck, sialan lo" Umpat Vito marah.
Tak terasa hari ini sudah akhir pekan. Pagi jam 7, semua murid SMA Rajawali sudah berada di lapangan sekolah. Mereka sudah mulai memasukkan barang barang mereka ke bagasi mobil.
"Ck, Ayang gue mana sih?" Gerutu Rian dengan berkacak pinggang menatap ke pagar sekolah.
"Kenapa lo nggak jemput saja tadi kalau lo khawatir" Ucap Ical.
"Dia yang nolak. Katanya mau di antar si Dimas" Jawab Rian.
Tak lama sebuah mobil sport warna hitam memasuki area sekolah. Semua mata tertuju pada mobil tersebut karena mobil tersebut datang paling akhir.
Dimas turun dari mobilnya, dia berjalab ke arah pintu lain untuk membukakan pintu Juli. Juli turun dari mobil Dimas dengan celana pendek di atas lutut yang di padukan dengan hoodie hitam kebesaran bergambarkan lambangkan geng motor Dimas.
"Tuh anak ngapain malah pakai hoodie musuh" Ucap Ical.
Rian tidak menjawab ucapan Ical. Dia berjalan menghampiri Juli yang sedang di rapikan rambutnya oleh Dimas. Rian mencekal tangan Dimas saat menyisir rambut Juli. Rian menatap tajam ke arah Dimas dengan menarik Juli ke dalam pelukannya.
"Jangan sentuh cewek gue" Ucap Rian penuh penekanan.
Namun Dimas dengan sengaja menarik tangan Juli hingga Juli terlepas dari pelukan Rian. Dia segera mencium pipi Juli. Dan hal itu pun membuat Rian semakin marah.
"Woy, mau mati lo" Teriak Rian marah.
"Rian, telinga gue sakit dengar lo teriak teriak" Ucap Juli menutupi telingannya.
"Dia yang mulai Jul, gue nggak suka" Ucap Rian marah.
"Heh Rianoval Sanjaya. Lo kan tau kalau nih anak babi sepupu gue. Lo cemburu sama sepupu gue sendiri" Ucap Juli.
"Ya jelas lah, gue paling nggak suka kalau lo di sentuh pria" Ucap Rian.
Juli hanya mampu menghela nafas panjang. Dia berbalik menatap Dimas. "Pulang lo, nggak usah tebar pesona di sekolah gue" Ucap Juli.
"Ck, pelit lo" Ucap Dimas santai. Dia berjalan kembali ke arah pintu mobilnya dan mulai melajukan mobil sport miliknya keluar dari area sekolah SMA Rajawali.
Setelah kepergian Dimas. Rian mengambil alih koper Juli yang masih ia genggam. Rian mmebawa kope Juli untuk ia masukkan ke dalam bagasi bus.
"Maka.....sih" Ucap Juli lirih saat melihat Rian pergi begitu saja tanpa bicara sepatah kata pun pada Juli.
"Kenapa cowok lo?" Tanya Cia.
"Nggak tau tuh" Jawab Juli santai. "Loh, Kila mana?" Tanya Juli yang baru sadar jika satu sahabatnya tidak ada.
"Ck, dia satu bis noh sama suaminya" Ucap Cia menunjuk Kila dengan dagunya.
"Oh ya sudah, lo duduk sama gue saja" Ucap Juli yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Cia .
Dari ibu kota menuju Dieng di Wonosobo kurang lebih membutuhkan waktu 12 jam. Dan saat ini rombongan bis dari SMA Rajawali telah sampai di tempat tujuan.
Juli dan Cia turun dari bis. Mereka menghirup udara yang segar membuat diri mereka relaks. Terpaan angin yang sejuk sama sekali tidak pernah mereka rasakan saat berada di ibu kota.
"Seger banget ya Jul di sini" Ucap Cia .
"Banget Ci" Jawab Juli antusias.
Lumayan jauh Vito membawa Juli pergi. Hingga saat ini mereka sudah sampai di perkebunan sayur yang cukup tinggi. Juli terpukau dengan pemandangan yang saat ini ada di depan matanya. Mata yang biasanya hanya melihat gedung gedung oencakar langit, kini matanya di manjakan dengan hujaunya dedaunan dan pohon pohon rindang yang ada di tempat itu.
"Wah cantik banget Vit, lo tau dari mana tempat ini?" Tanya Juli kagum.
Vito tersenyum melihat Juli yang senang dengan tempat yang ia tunjukkan. Vito melepas cekalannya dari lengan Juli. Juli berjalan ke depan beberapa langkah untuk lenikmati pemandangan yang masih asri.
"Lo cantik Jul" Ucap Vito tersenyum tampan. Vito mengeluarkan kamera digitalnya yang ia bawa. Dengan cepat Vito memotret Juli yang tampak estetik. Wajah putih, bibir pink mungil dengan mata lebar dan bulu mata yang panjang membuat kesan alami di wajah Juli. Apa lagi saat ini rambut Juli sudah berganti warna menjadi ungu yang di padukan dengan biru tua.
"Juli" Panggil Vito yang membuat Juli menoleh ke arahnya. Vito berjalan menghampiri Juli lalu menggenggam kedua tangan Juli dengan lembut.
"Juli, gue mau minta maaf sama lo. Gue sudah menyia nyiakan lo. Gue sudah sering menyakiti hati lo. Bahkan gue dengan kejam menghina lo. Jujur gue sadar kalau sekarang ini adalah hukuman buat gue. Tapi satu hal yang lo harus tau Jul. Gue menyesal sudah melakukan itu semua. Gue bodoh karena melepaskan berlian semahal lo. Dan gue sayang sama lo Jul, bahkan gue cinta sama lo Juli." Ucap Vito lembut.
Juli menatap kedua manik coklat gelap milik Vito. Ia tidak melihat kebohongan dari kedua manik Vito itu. Bahkan ia tau jika yang Vito ungkapkan tadi, semua itu yang memang ia rasakan.
Juli menundukkan kepalanya. Dia bingung harus menjawab apa atas ucapan Vito barusan. Jujur, di dalam hati Juli nama Vito memang masih tertulis dengan tinta tebal. Bahkan Rian yang selama ini sudah menemaninya pun belum mampu membuat nama Vito luntur dalam hatinya.
Rasa cinta yang Juli miliki untuk Vito sungguh sulit untuk ia lupakan. Hampir 3 tahun dia mencintai Vito dan itu bukan hal mudah untuk ia lupakan begitu saja.
"Maafin gue Vito. Gue nggak bisa milih lo, karena sudah ada Rian di sisi gue" Ucap Juli.
"Tapi lo nggak cinta sama dia Juli" Ucap Vito sedikit meninggikan nadanya.
"Iya, gue memang belum mencintai dia. Jujur Vito, gue memang masihmencintai lo. Bahkan rasa cinta gue ke lo tidak berkurang sedikit pun setelah apa yang sudah lo lakuin ke gue. Tapi gue nggak bisa terima lo Vito. Sudah cukup luka yang lo berikan ke gue. Gue nggak mau jatuh ke lubang yang sama dengan orang yang sama pula. Jadi maaf Vito, hentikan semua ini. Sampai kapan pun gue nggak akan bisa milih lo." Ucap Juli.
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏
Selamat menunaikan ibadah Puasa
MARHABAN YA RAMADHAN
1444 H / 2023 M
Mohon Maaf Lahir Batin 🙏