
"Lo akan tau nanti" Jawab Rian lirih.
"Sudah lah Yog, ini juga permintaan Juli kok" Ucap Ical lirih agar Juli tidak mendengar percakapan mereka.
Perlahan Yoga melepaskan tangannya dari lengan Rian. Rian mengambil tote bag tersebut dan mengambil atat potong rambut yang di bawakan Ical tadi.
Dengan tangan gemetar, Rian terus menatap wajah Juli dari pantulan kaca. Juli terus tersenyum pada Rian yang kini menatapnya dengan tatapan sendu.
"Potong saja Yan, nggak papa kok. Nanti kalau sembuh aku kan bisa panjangin lagi rambutnya" Ucap Juli tersenyum. Rian menghela nafas lalu memaksakan senyumannya pada Juli. Perlahan dia mulai membotaki kepala Juli. Rambut yang awalanya panjang san berwarna ungu itu kini sudah mulai botak.
Yoga yang melihat hal itu tak kuasa menahan air matanya. Dia sungguh tak percaya melihat Juli yang ceria kini tampak kurus dengan wajah yang pucat tak terurus. Yoga memilih keluar dari ruangan inap Juli dan menangis di luar ruangan. Ical yang melihat hal itu pun ikut keluar. Dia juga sedih namun dia lebih bisa mengontrol emosinya.
"Gue nggak bisa bayangin betapa hancurnya Rian saat ini Cal. Gadis yang ia cintai kini seperti itu. Gue nggak sanggup membayangkan jika gue ada di posisi Rian saat ini" Ucap Yoga sedih.
"Gue tau Ga, tapi lo nggak boleh sedih di depan Juli. Kasihan dia kalau melihat kita sedih. Dia pasti akan drop jika tau kita sedih. Sebagai sahabatnya Juli, kita harus tetap memberikan semangat untuk kesembuhannya" Ucap Ical mengusap punggung Yoga agar Yoga tenang.
"Gue nggak tega melihatnya Cal" Ucap Yoga.
"Iya gue tau" Jawab Ical.
Di saat bersamaan, Cia dan Kila serta Gilang datang ke rumah sakit. Mereka melihat Yoga dan Ical yang tampak sedih di luar ruangan Juli.
"Kok lo nggak pada masuk?" Tanya Cia.
Yoga dan Ical hanya menjawab dengan gelengan kepalanya saja. Mereka tidak sanggup jika harus memberi tahukan apa yang sedang terjadi di dalam sana.
"Rian jangan" Teriak Juli yang membuat semuanya terkejut.
Ical, Yoga, Cia, Kila dan Gilang langsung masuk ke dalam ruangan inap Juli. Mereka terkejut melihat Juli yang sudah botak dan di tambah Rian yang saat ini juga sedang memboyaki kepalanya sendiri. Juli menangis menahan tangan Rian agar menghentikan apa yang ia lakukan.
"Aku mohon jangan lakukan ini Rian, aku mohon" Ucap Juli menangis memegangi kemeja yang di pakai oleh Rian saat ini. Namun dengan derai air mata, Rian tetap membotaki kepalanya.
Setelah kepala mereka berdua botak, Rian berlutut di depan Juli. Dia menghapus air mata Juli dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Kenapa kamu harus melakukan ini Rian? Apa kamu nggak mikir? Gimana nanti kalau kamu sekolah? Kamu akan malu dengan penampilan seperti ini?" Ucap Juli menangis.
"Aku nggak akan malu sayang, aku hanya ingin samaan seperti kamu. Jika bisa aku pun ingin kamu membagi rasa sakit yang kamu derita untuk ku. Biarkan aku juga merasakan apa yang kamu rasakan" Ucap Rian.
Plack
Satu tamparan mendarat di pipi Rian. Namun karena tenaga Juli yang lemah hal itu tidak Rian rasakan sama sekali.
"Jangan lakukan itu lagi Rian, aku nggak mau membagi rasa sakit ini ke kamu. Biar aku yang merasakan ini semua sendiri. Aku hanya perlu kamu yang selalu ada untuk aku. Aku butuh kamu untuk merawat ku. Aku tidak mau kamu juga sakit" Ucap Juli menangis. Juli menarik kepala Rian dan ia peluk erat dengan air mata yang terus membasahi wajahnya.
"Aku cinta sama kamu Rian, aku sudah mencintai kamu. Aku tidak tau kapan rasa ini muncul, tapi aku yakin jika rasa yang aku rasakan ini rasa cinta ke kamu" Ucap Juli.
"Makasih sayang, makasih banyak" Ucap Rian membalas pelukan Juli erat.
Semua orang yang melihat Rian dan Juli ikut menangis. Besarnya rasa cinta Rian pada Juli membuat mereka haru. Bahkan Rian tidak sedikit pun pergi lama dari Juli. Dia hanya pergi sekolah lalu waktu lainnya ia habiskan di ruangan inap Juli. Untuk pulang saja jarang ia lakukan. Ia takut jika sesuatu terjadi saat ia pergi lama dari Juli. Pak Ari pun mengerti dan memberikan kebebasan bagi Rian untuk menemani Juli di rumah sakit.
Yoga berjalan ke arah ranjang Juli. Dia mengambil kupluk yang ia beli tadi bersama Ical. Yoga berjalan ke arah Juli lalu membersihkan sisa sisa rambut yang berada di pakaian Juli.
"Lo tetap cantik kok Jul, lo nggak boleh malu karena kecantikan lo nggak akan pernah pudar" Ucap Yoga memakaikan kupluk di kepala Juli.
"Ini lo yang belikan?" Tanya Juli tersenyum.
"Iya, tapu pakai uang pak bos. Lo kan tau sendiri kalau gue bokek" Ucap Yoga tertawa.
"Hahahahaha, lo kan emang parasitnya Rian" Ucap Juli tertawa. Rian pun ikut tersenyum kala melihat Juli yang sudah bisa menghina Yoga. Yang artinya perasaanga sudah sedikit membaik.
"Sudah siang, jalan jalan di tamanya besok saja ya?" Ucap Rian.
"Gue bantu lo ganti baju ya Jul, baju lo kotor terkena rambut. Nanti badan lo gatal semua kalau nggak ganti baju" Ucap Kila.
"Iya" Jawab Juli tersenyum.
Semua pria keluar dari ruang inap Juli. Kila dan Cia membantu Juli untuk mengganti pakaiannya. Walaupun sedikit kesusahan namun perlahan mereka bisa mengganti baju Juli.
Cia keluar dari ruang inap Juli untuk memanggil Rian. "Yan, pindahin Juli ke ranjang, dia mau istirahat katanya" Ucap Cia yang di jawab anggukan kepala oleh Rian.
"Gue masuk dulu ya" Pamit Rian.
"Iya, sekalian kita juga mau pamit pulang" Jawab Ical dan Yoga.
"Gue beliin lo makan siang dulu Yan" Ucap Gilang yang di jawab anggukankepala oleh Rian lagi.
Cia dan Rian kembali masuk ke dalam ruang inap Juli. Rian perlahan menggendong Juli ke atas ranjang lagi. Kila dan Cia duduk di sofa. Sedangkan Rian duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Juli.
"Makan ya" Ucap Rian lembut.
"Enggak ah, nanti muntah lagi kalau makan" Tolak Juli.
"Nggak papa, walaupun sedikit kamu harus tetap makan ya" Ucap Rian lembut.
"Minum susu saja ya" Ucap Juli.
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏
Selamat menunaikan ibadah Puasa
MARHABAN YA RAMADHAN
1444 H / 2023 M
Mohon Maaf Lahir Batin 🙏