
"Makanya jangan kasih hukuman pak, kasih minum dong pak biar semangat" Ucap Juli.
"Ayang Juli semangat ya olah raganya" Teriak Rian dari lantai 3 sekolah karena kelas Rian memang ada di lantai 3.
Semua orang yang ada di lapangan seketika menatap ke arah lantai 3. Di sana ada Rian yang sekarang sedang mendapat pukulan buku dari guru kimianya karena berisik.
"Pacar kamu Jul?" Tanya guru olah raga.
"Nggak pak, saya nggak punya pacar yang memalukan seperti itu" Ucap Juli kembali berlari.
"Hahahahaha. Memang cocok kamu kalau sama si Rian. Sama sama bikin kepala pusing" Ucap guru olah raga yang tertawa keras.
"Sudah sudah, karena kamu sudah buat saya ketawa, hukuman kamu selesai. Sana main voli sama anak anak yang lain. Nanti akan tanding sama kelas lain" Ucap guru olah raga.
"Dan kalian bertiga harus ikut" Imbuh guru olah raga.
"Ada hadiahnya nggak pak?" Tanya Cia hang mengusap keningnya yang penuhdengan keringat.
"Kalau kalian menang, bapak akan teraktir kalian makan di kantin" Jawab guru olah raga.
"Janjo lho pak, jangan ingkar" Ucap Kila.
"Iya, sudah sana kalian latihan" Ucap guru olah raga.
"Ok pak" Jawab mereka bertiga bersamaan.
Jam istirahat ke dua.
Semua murid berhamburan keluar dari kelas. Namun kali ini sebagin anak anak tidak ke kantin karena ingin melihat pertandingan antara kelas Juli dan Vito.
Vito duduk di bawah pohon bersama kedua sahabatnya. Sedangkan Juli dan ke empat temannya yang lain tengah bersiap siap untuk melakukan tanding Voli.
"Panas banget sih" Ucap Cia yang maosh bisa bisanya memakai kipas tangan berbentuk kodok di tengah lapangan yang panas.
"Ayang semangat" Teriak Rian yang bersorak sorai dengan 2 balon pemberian Juli tadi pagi.
"Diam lo Rian, jangan bikingue malu" Ucap Juli yang akan melempar sepatunya namun lebih dulu Cia yang melempar botol kosong kearah Rian.
"Itu balon gue bang***t" Ucap Cia marah.
"Enak saja, ini balon dari ayang gue. Yah walaupun ambil dari laci lo sih" Ucap Rian.
Mendengar ucapan Rian, Cia seketika menoleh ke arah Juli. Juli memperlihatkan deretan giginya dan membentuk huruf V dengan 2 jarinya.
"Md nanti pulang sekolah" Ucap Cia singkat.
"Ok" Jawab Juli.
"Hahahaha lo kayak bocah bang mainnya balon"
"Sirik kan lo, nih balon dari ayang gue tuh" Jawab Rian bangga.
"Ketua geng motor mainnya balon" Guman Bayu tersenyum melihat tingkah Rian.
"Berisik lo" Ucap Vito tegas. Entah kenapa Vito terus terpancing emosi hanya karena melihat tawa bahagia Juli saat bersama Rian. Seperti ada api besar yang berkobar di dalam dirinya hingga sekali sentuh saja mampu membuatnya marah besar.
"Hai Vito" Ucap Nara yang datang bersama kedua sahabatnya itu. Mereka duduk di samping Vito dan kedua temannya.
"Heh lampir, ngapain sih lo di sini?" Tanya Celo.
"Apaan sih Cel, gue ke sini kan ingin dekat sama Vito." Ucap Nara.
"Lagak lo kayak cewek baik baik" Sindir Bayu yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nara.
Di sisi lain, Kila masih duduk di kursi karena dia tengah mengikat tali sepatunya. Dia yang fokus ke sepatu terkejut ketika minuman kaleng dingin yang menempel di pipinya.
"Kak Gilang, lo ngapain di sini?" Tanya Kila terkejut.
"Mau kasih lo ini. Di minum ya" Ucap Gilang.
"Makasih kak" Ucap Kila tersenyum.
"Ciyeee yang sudah go public" Ucap Juli dan Cia bersamaan yang membuat Kila dan Gilang jadi pusat perhatian.
"Wah kak Gilang pacaran sama Kila?"
"Kok bisa sih kak Gilang sama Kila?"
"Aaah patah hati lagi nih gue"
"Ketos gue sudah ada yang punya"
Dan masih banyak lagi celoteh dari anak anak yang mengidolakan Gilang. Ketua osis yang lembut dan ramah.
"Lo manis banget sih Kil kalau lagi pakai olah raga. Pengen banget gue bawa pulang" Ucap Gilang tersenyum menatap Kila.
"Lo apaan sih kak. Jangan ngaco deh" Ucap Kila malu.
"Enggak ngaco kok. Lagian tinggal nunggu lusa juga lo sudah bisa gue bawa pulang" Bisik Gilang ke telinga Kila. Kila yang mendapat bisikan dari Gilang seketika terpaku. Sedangkan anak anak yang mengidolakan Gilang berteriak histeris melihat hal itu.
Priiit priiit
Guru olah raga sudah mulai meniup peluitnya. Semua pemain voli pun masuk ke lapangan. Kali ini Kila sebagai ketua tim dari kelasnya. Sedangkan Nana ketua tim dari kelas Vito.
"Hai Nana" Sapa Juli.
"Hai Jul" balas Nana.
"Sudah siap kan semuanya?" Tanya guru olah raga.
"Siap pak" Jawab semua pemain.
Juli menggulung rambutnya ke atas agar tidak mengganggu pergerakannya. Namun hal itu membuat Rian was was karena leher jenjang Juli nampak menggoda iman. Rian segera turun ke lapangan dan hal itu membuat semua orang jadi bingung.
"Lo ngapain sih Yan?" Tanya Juli.
Bukannya menjawab, Rian melepas cepolan Juli lalu mengikat rambut Juli seperti kuncir kuda. Semua pergerakan yang di lakukan Rian terlihat jelas oleh mana Vito.
"Sabar Vit, ini semua kan juga salah lo sendiri" Bisik Bayu.
"Gue nggak akan biarkan itu terus terjadi" Ucap Vito meremas jemarinya.
Nara yang mendengar ucapan Vito pun hanya diam karena dia tidak tau maksud dari ucapan Vito barusan.
"Lho Vit, lo mau ke mana?" Tanya Nara hang melihat Vito bangkit dari duduknya.
"Bukan urusan lo" Jawab Vito dingin.
Sedangkan di lapangan guru olah raga berjalan menghampiri Rian yang masih mengikat rambut Juli.
Plack
Rian mendapat pukulan keras di betisnya dari guru olah raga.
"Aduh, pak ko main kekerasan sih?" Ucap Rian mengusa betisnya yang terasa panas.
"Kalau mau pamer kemesraan nggak usah di depan saya. Saya tau kalau kalian sudah pacaran dan saya belum punya pacar. Jadi nggak usah pamer" Ucap guru olah raga.
"Ye si bapak malah curhat" Ucap Ical.
"Kalau curhat nanti di belakang saja pak, kita lagi liat sintron secara live nih" Ucap Yoga.
"Iya nih bapak ganggu saja"
"Ini cerita asli dari drakor lho pak"
"Jangan jadiin sinotron azab dong pak"
Banyak anak anak yang bersorak pada guru olah raga karena telah mengnggu tontonan mereka.
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏