
"Lo sendiri ke mana saja? Sudah tua belum juga wisuda. Naksir lo sama dosennya sampai lo betah banget di kampus terus" Ucap Key.
"Ya gak lah. Lo kan tau gue ngurusin kafe sama perusahaan papah. Wajar lah kalau kuliah gue berantakan. Lagian sebentar lagi gue juga bakal lulus" Ucap Rian.
"Ya bagus deh, cepetan deh lo lulusnya. Jadi gue bisa puas lihat cogan cogan di kampus" Ucap Key.
"Berani lo lakuin itu, gue congkel mata lo" Ancam Rian tegas.
"Iiih Riyan. Kok lo gak ada romantis romantisnya sih sama gue. Gue ini pacar lo ya. Segala mau congkel mata gue lagi. Mau lo kehilangan masa depan lo itu" Ucap Key menunjuk adik Rian dengan dagunya.
"Habisnya lo ngomong sembarangan. Kalau sampai itu terjadi, gue pastikan semua cowok yang lo lihat akan musnah dari muka bumi" Ucap Rian menyambar tasnya lalu keluar begitu saja dari kamar.
"Yan, tunggu gue dong" Teriak Key mengambil tasnya lalu berlari keluar menyusul Rian.
Rian dan Key kini sudah masuk ke dalam mobil Rian. Rian mulai melajukan mobilnya keluar dari area parkir apartemen.
"Mau sarapan dulu gak?" Tanya Rian.
"Ini gue bawa roti untuk sarapan" Jawab Key memperlihatkan kotak bekal yang ia bawa.
"Gue mana?" Tanya Rian lagi.
"Ini juga buat lo juga kok" Jawab Key.
"Nih buka mulutnya" Ucap Key menyuapkan roti selai kacang pada Rian.
Saat mengunyah roti yang di supakan Key, Rian langsung menginjak rem mobilnya dan hal itu membuat kotak bekal yang Key bawa jatuh ke kakinya semua.
"Rian, lo mau mati ya di tangan gue" Bentak Key marah. Key yang ingin mengambili roti itu tangannya di cekal oleh Rian.
"Dari mana lo dapat selai kacang? Setau gue di apartemen gak ada selai kacang" Ucap Rian serius.
"Lo kenapa sih Yan? Kok lo marah begini?" Tanya Key bingung.
"Jawab gue Key" Bentak Rian.
"Gue...." Key tidak berani melanjutkan kata katanya karena melihat mata Rian yang memarah menahan amarahnya.
Rian mengambil roti selai yang di bawah kaki Key. Dia membuang semua roti itu termasuk kotak bekalnya.
"Rian, lo apa apaan sih? Memangnya kenapa sama selai kacang? Gue bosan makan selai itu itu saja. Jadi kemarin gue beli" Ucap Key.
"Jangan pernah lo simpan selai kacang di apartemen lagi. Kalau sampai gue lihat, gue akan keluar dari apartemen" Ucap Rian.
"Lo kenapa sih Yan? Jangan mengancam gue. Jelasin kenapa gue gak boleh makan selai kacang" Ucap Key
"Karena selai kacang mengingatkan gue sama Juli. Dia paling suka sama selai kacang. Jadi jangan pernah lo bawa semua bentuk selai kacang ke apartemen" Ucap Rian.
Key terdiam dengan jawaban yang di berikan oleh Rian. Key memang tau jika Juli memang cinta pertama bagi Rian. Dia juga sadar jika di dalam hati Rian masih tersimpan rapi nama Juli. Tapi sebagai kekasih Rian, dia merasa sakit karena ucapan Rian barusan.
Rian kembali melajukan mobilnya menuju ke kampus. Di sepanjang perjalanan, Rian maupun Key sama sama diam. Key lebih memilih melihat leluar jendela sedangkan Rian fokus ke jalan raya.
Tak butuh waktu lama, kini mobil Rian sudah memasuki parkiran kampus. Saat Key membuka sabuk pengamannya, Rian mulai membuka suara.
"Kalau pulang tunggu gue" Ucap Rian.
"Gak usah, gue bisa pulang sendiri" Jawab Key yang langsung keluar dari mobil Rian. Rian juga keluar dari mobil untuk bicara dengan Key, namun kini Key lebih dulu berjalan ke arah lapangan kampus.
"Kenapa harus bertengkar lagi sih" Guman Rian mengusap rambutnya frustasi.
Key mencari cari keberadaan Luna karena tadi lewat ponsel, Luna sudah memberi kabar kalau dirinya sudah berada di lapangan kampus. Saat melihat keberadaan Luna, Key segera menghampirinya. Dia melempar tasnya lalu duduk di sebelah Luna.
"Kenapa lagi lo? Tuh muka kusut amat" Ucap Luna.
"Cowok breng***k, baj***n. Kenapa sih dia harus membahas dia lagi" Ucap Key.
"Dia siapa maksud lo?" Tanya Luna bingung.
"Mantanya Rian?" Tanya Luna lagi.
"Iya siapa lagi. Gila saja tuh orang, hanya gara gara selai kacang gue di bentak sama dia. Bahkan roti selai gue di buang hanya karena gue pakai selai kacang. Gila gak tuh anak" Ucap Key.
"Namanya juga di tinggal mati Key. Harusnya lo yang lebih sabar dong" Ucap Luna.
"Gue bisa saja sabar Lun, tapi gak gitu juga dong caranya. Bicara baik baik kan bisa. Kenapa harus ngebentak gue segala coba." Ucap Key.
"Terserah lo deh, percuma juga gue nasehatin lo di saat lo masih emosi seperti ini" Ucap Luna.
Key masih saja marah dengan Rian. Bahkan saat kakak kakak yang akan melakukan Ospek pada mereka pun dia tetap cemberut.
"Itu yang anak baru. Sini maju lo" Ucap Cintia. Dia termasuk orang yang suka mencari gara gara atau lebih tepatnya dia paling suka membully anak anak baru yang tampak lemah.
Key yang di tunjuk oleh Cintia pun segera berjalan maju menghampiri Cintia.
"Ada apa?" Tanya Key.
"Berani banget lo sama gue. Lo gak tau siapa gue?" Tanya Cintia.
"Mana gue tau, lo saja gak mengenalkan diri lo ke gue" Ucap Key.
"Heh, yang sopan lo sama kita. Lo mau kehidupan lo di kampus ini menderita" Ucap Gaby, anak buah Cintia.
"Halah gak usah mengancam gue deh lo. Gue gak mempan sama ancaman lo. Lagian lo gak tau siapa gue jadi lo gak usah cari gara gara deh sama gue" Ucap Key berani.
Byur
Tania, anak buah Cintia juga yang kini tengah menyiramkan seember air ke Key.
Key yang masih emosi dengan sikap Rian pagi ini, kini di tambah dengan ulah kakak angkatanya yang semena mena. Jadi dia tentu akan semakin emosi.
"Gawat, bisa ngamuk tuh anak" Ucap Luna.
Key membalikkan badanya yang basah kuyup menatap Tania yang kini menyeringai marena dia pikir sudah memberikan pelajaran pada anak baru.
"Ini yang akan lo terima setiap hari jika lo berani melaean Cintia. Di kampus ini apapun yang di ucapkan Cintia adalah mutlak dan tidak bisa di ganggu gugat" Ucap Tania.
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏