
"Panas bro" Goda Celo.
"Haredang dong" Ucap Bayu yang seketika itu tawa mereka berdua pecah.
"Makanya jangan sok cuek, nyesel kan lo sekarang" Teriak Bayu
Vito menoleh ke arah Bayu dengan tatapan tajam. Dia mengambil temoat sampah yang akan ia lemparkan ke arah Bayu. Namun dengan cepat Bayu berlari kembali masuk ke dalam kelas.
Vito lebih memilih berjalan ke arah kantin. Namun dia lebih dulu melewati kelas Juli. Dia menoleh sekilas dan melihat Juli yang tengah asik bercanda dengan Cia dan Kila. Vito masuk ke dalam kelas Juli dan langsung berhenti di samping bangku Juli. Tawa Juli dan kedua sahabatnya pun redup seketika. Kila menarik tangan Cia agar keluar dari kelas memberikan waktu pada Vito dan Juli.
"Ngapain lo di sini?" Tanya Juli dingin.
"Lo jadian sama Rian?" Tanya Vito.
"Iya, kenapa?" Tanya Rian yang baru saja masuk ke dalam kelas Juli.
Juli dan Vito seketika menoleh ke arah Rian yang kini berjalan menghampiri mereka. Rian berdiri di samping Juli dan menggenggam tangan Juli erat.
"Buat apa lo ke sini?" Tanya Rian.
"Bukan urusan lo" Jawab Vito yang langsung melenggang pergi dari kelas Juli.
Juli mendudukkan Rian ke bangku yang ada di sampingnya. Dia tau Rian pasti sangat emosi saat ini. "Lo ngapain ke sini lagi?" Tanya Juli.
"Kenapa kalau gue ke sini? Lo nggak mau gue tau kalau tuh cowok nyamperin lo?" Tanya Rian marah.
"Kok lo marah sih? Lagian gue juga nggak perduli dia mau ngapain ke sini." Ucap Juli bernada tinggi.
"Gue cemburu Jul, gue takut kehilangan lo" Ucap Rian lirih.
Mendengar ucapan Rian, membuat Juli tersenyum. Juli meraih wajah Rian dan menatapnya lembut. "Oh jadi ceritanya bayi gede gue lagi ngambek nih? Kalau di kasih balon masih ngambek nggak?" Tanya Juli.
"Emang lo punya balon?" Tanya Rian heran.
"Tunggu" Ucap Juli bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah meja Cia dan mengobrak abrik laci meja Cia.
"Lo cari apa sih Yang?" Tanya Rian heran.
"Tunggu bentar ah berisik banget sih lo. Nanti kalau Cia tau bisa kena damprat gue" Ucap Juli yang terus obrak abrik laci meja Cia.
Tak lama Juli kembali ke bangkunya dengan membawa beberapa balon yang berwarna kuning dan pink.
"Cia bawa balon ke sekolah?" Tanya Rian terkejut.
"Iya" Jawab Juli mengangguk dan tertawa. Juli mulai meniup balon tersebut lalu mengikat ujungnya.
"Nih buat lo. Udah kan punya balon, sekarang jangan ngambek lagi dong. Entar gantengnya ilang lagi" Ucap Juli mengusap wajah Rian lembut.
"Lo ada ada saja sih Yang. Ya sudah, gue balik ke kelas ya. Nanti istirahat gue samperin lo ke sini" Ucap Rian.
"Ok" Jawab Juli tersenyum cantik.
Rian mengusap lembut pucuk kepala Juli lalu ia pun bangkit dari duduknya. "Gue bawa lo balonnya" Ucap Rian.
"Iya bawa saja, palingan nanti si Cia ngamuk doang" Ucap Juli menopang dagunya sambil menatap Rian yang beranjak pergi dari kelasnya.
***
Rian menepati janjinya untuk menghampiri Juli di kelasnya. Namun saat akan masuk ke dalam kelas, dia berpapasan dengan Cia. Cia menatap tajam ke arah Rian yang baru saja datang.
"Lo kenapa sih? PMS lo?" Tanya Rian.
"Bodo amat" Ucap Cia mengibaskan rambutnya lalu melenggang pergi dari kelas.
"Woy kutu lo pada terbang nih" Teriak Rian pada Cia yang sudah melenggang pergi.
"Hahahaha, kena kibasan rambut Cia lo" Ucap Juli tertawa.
"Ketawa terus. Lo tuh pacar gue, harusnya lo tuh bersikap manis gitu lho sama gue. Bukannya malah makin bar bar gini" Ucap Rian mencubit kedua pipi Juli gemas.
"Rian, sakit bego" Ucap Juli memukul kedua lengan Rian.
"Habisnya gue gemes tau nggak sama lo. Sudah ah laper nih, makan yuk" Ucap Rian yang merangkul bahu Juli.
"Berat Rian" Ucap Juli menepis tangan Rian.
"Mulut lo nggak ada filternya, gue sebel sama lo" Ucap Juli melangkah pergi meninggalkan Rian.
Rian mengusap kasar rambutnya dengan senyumamnya yang mengembang. "Ahh, gue semakin jatuh cinta sama tuh cewek" Ucap Rian kesenangan.
"Tuh kakak kelas kenapa?" Tanya Celo.
"Kesambet mungkin" Jawab Bayu.
"Mau makan apa nggak sih? Lama amat lo" Teriak Juli yang kembali menoleh ke arah Rian.
"Galak amat Yang" Ucap Rian berlari menghampiri Juli dan kembali merangkul bahu Juli. Juli kembali mencubit perut Rian namun sebelum kena, Rian sudah berkari dan akhirnya mereka kejar kejaran di lorong.
Melihat hal itu membuat Vito semakin panas. "Arght" Teriak Vito meninju dinding kelas Juli hingga membuat Celo dan Bayu terkejut. Bahkan orang orang yang ada di koridor pun terkejut dengan apa yang di lakukan Vito.
"Lo gila Vit?" Ucap Kila yang baru keluar dari kelasnya.
"Apa perduli lo?" Ucap Vito berbalik dan kembali ke kelasnya.
"Tuh anak kenapa sih?" Tanya Kila pada kedua sahabat Vito.
"Nggak tau, sejak Juli pacaran sama Rian, dia uring uringan terus" Jawab Celo.
"Sukurin deh, siapa suruh dulu sok jual mahal. Sekarang sudah ada yang punya baru tau rasa kan dia" Ucap Kila yang kembali masuk ke dalam kelas.
"Badas amat tuh cewek" Ucap Bayu.
"Ceweknya si ketos emang beda" Ucap Celo.
"Kila pacarnya ketos kaku itu?" Tanya Bayu terkejut.
"Iya, makanya jarang ada yang tau karena keduanya sama sama kaku" Jawab Celo.
"Celo, lo gosipin gue ya" Teriak Kila dari dalam kelas. Mendengar teriakan Kila, Celo langsung berlari kembali ke kelas.
***
Jam olah raga.
Hari ini kelas Vito dan Juli olah raga bersama. Juli dan kedua sahabatnya baru saja datang ke lapangan dan mereka pun mendapat hukuman karena terlambat.
"Juli, Juli. Kamu mau sampai kapan sih buat ulah terus? Apa kamu nggak capek dapat hukuman terus?" Tanya guru olah raga.
"Bapak sih kasih hukuman terus. Jelas saya capek lah pak, orang di suruh lari 5 kali putaran" Jawab Juli sambil berlari keliling lapangan.
"Kalau kamu nggak buat ulah, saya juga nggak akan kasih kamu hukuman Juliana Maheswari. Saya saja capek kasih hukuman terus ke kamu" Ucap guru olah raga.
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏