
Rian tersenyum lalu menerima suapan dari Juli. "Pinter banget sih ayangnya aku" Ucap Juli mencubit gemas pipi Rian.
Rian menggenggam tangan Juli dan kenatap lekat kedua manik biru Juli. "Kalau lo mau balikan sama Vito.... gue nggak papa kok Jul?" Tanya Rian lirih.
"Lo apa apaan sih Yan, gue nggak suka ya lo bicara begitu lagi" Ucap Juli menarik tangannya dari genggaman Rian.
"Udah ah, nggak selera makan lagi gue" Ucap Juli bangkit dari duduknya. Namun dengan cepat Rian menarik tangan Juli dan membawa Juli ke dalam pelukannya.
"Sorry Yang, jujur gue cemburu. Gue takut kalau lo ninggalin gue karena gue tau kalaudi hati lo masih ada nama Vito" Ucap Rian lembut.
"Memang gue belum bisa melupakan dia Yan, tapi saat ini lo pacar gue. Walaupun gue belum cinta sama lo tapi gue sudah sayang sama lo" Ucap Juli.
"Lo serius?" Tanya Rian antusias.
"Iya, gue serius. Jadi jangan lagi lo bicara seperti itu lagi, atau gue akan lakukan apa yang barusan lo ucapkan" Ucap Juli tegas.
"Ok, gue janji nggak akan bicara soal itu lagi. Makasih ya Yang, gue seneng banget dengarnya" Ucap Rian yang semakin mempererat pelukannya.
Juli yang merasa sesak memukul punggung Rian. Rian segera melepaskan pelukannya dan menggaruk tengkuknya karenamerasa bersalah.
"Lo mau jadi bunuh gue?" Ucap Juli marah.
"Sorry Yang, namanya juga seneng jadi kelepasan" Ucap Rian.
"Sudah lah, gue mau mandi dulu. Setelah ini kita jalan jalan. Gue suntuk di rumah terus" Ucap Juli.
"Ok. Ini mie gorengnya nggak di makan lagi?" Tanya Rian yang sedikit berteriak karena Juli sudah menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Lo saja yang makan, gue kenyang sama gombalan lo" Jawab Juli yang membuat Rian tersenyum merekah.
Cukup lama Rian menunggu Juli yang mandi dan saat ini ia merasa bosan. Dia memilih merebahkan dirinya di sofa dengan memainkan ponselnya.
Tring tring tring
Ponsel Juli yang ada di atas meja pun berdering. Rian melihat nomer asing yang menghubungi Juli.
"Yang, ada telfon" Teriak Rian.
"Nggak usah teriak Yan, gue nggak budek" Ucap Juli yang sudah turun menghampirinya.
"Hehehe gue kira lo masih di atas" Ucap Rian.
"Nomer baru, siapa ya?" Guman Juli. Juli duduk di pangkuan Rian. Rian mencium rambut Juli yang harum vanilla. Dia memeluk pinggang Juli dan semakin memperdalam ciumannya ke leher Juli.
"Halo, ini siapa?" Tanya Juli yang mendorong kepala Rian karena dia merasa geli.
"Gue Dimas, di mana lo sekarang?" Tanya Dimas.
"Oh lo Dim, gue di rumah. Ke sini saja kalau lo mau ketemu gue" Ucap Juli.
"Ok, tunggu 15 menit lagi gue sampai" Jawab Dimas.
"Jangan lama lama, gue mau pergi sama cowok gue" Ucap Juli.
"Iya bawel lo" Ucap Dimas yang langsung mematika panggilannya.
"Siapa Yang?" Tanya Rian.
"Dimas" Jawab Juli.
"Dimas ketua SMK 23?" Tanya Rian terkejut.
"Iya, dia mau ke sini katanya. Nggak papa kan perginya nanti saja?" Tanya Juli.
"Nggak papa sih, tapi lo ada hubungan apa sama dia?" Tanya Rian.
"Nanti juga lo akan tau" Jawab Juli memainkan ponselnya.
Rian kembali ke aktifitasnya, dia menciumi tengkuk leher Juli yang semakin membuatnya candu. "Lo pakai drug ya Yang?" Celetuk Rian.
"Enggaklah gila" Jawab Juli tegas.
"Kok lo buat gue candu sih" Ucap Rian yang hanya mendapat helaan nafas dari Juli.
Tepat 15 menit Dimas sampai di rumah Juli. Dia turun dari motornya lalu masuk begitu saja ke dalam rumah Juli.
"Sialan, baru datang sudah di suguhi adegan 18+ gue" Ucap Dimas.
"Adegan 18+ pala lo. Duduk lo" Ucap Juli yang langsung di ikuti oleh Dimas.
"Oh jadi bos Death Devil cowok lo. Pinter juga lo cari cowok" Ucap Dimas.
"Jujul, lo habisin briwnis gue" Teriak Dimas dari dalam dapur.
"Gue buang" Jawab Juli santai.
"Kok lo buang sih? Jahat banget lo sama gue" Ucap Dimas.
"Udah berjamul Dimdim. Emang lo mau makan brownis jamuran? Lo mau masuk rumah sakit lagi gara gara keracunan?" Tanya Juli jutek.
"Juljul? Dimdim? Sebenarnya kalian ada hubungan apa sih? Terus kenapa dia seperti sudah dekat sama lo?" Tanya Rian.
"Hahahaha cowok lo cemburu tuh Jul" Ucap Dimas santai.
"Masak lo nggak tau? Lo nggak perhatiin yang bener sih" Ucap Juli.
"Apa sih Yang, lo nggak jelas banget tau nggak" Ucap Rian.
"Noh lihat matanya si Dimdim" Ucap Juli. Rian pun menuruti ucapan Juli. Di menatap mata Dimas lalu berganti menatap mata Juli.
"Mata lo kok sama kayak Dimas?" Tanya Rian polos.
"Iya lah, orang maminya Dimas adiknya mami gue. Jelas lah kalaumata kita sama. Cuma bedanya Dimas lebih banyak mengikuti papinya. Jadinya ya gitu bule buluk" Ucap Juli lalu dia pun tertawa keras.
"Sialan lo Jul. Gini gini gue pewaris tunggal SC group" Ucap Dimas.
"Setelah gue tapi" Sahut Juli yang kembali tertawa.
"SC Group? Lo anaknya Maheswari?" Tanya Rian terkejut.
"Iya, nama gue kan Juliana Maheswari. Masak nama pacar lo sendiri nggak tau sih?" Ucap Juli.
"Wah, gue punya kacar anak konglomerat ternyata" Ucap Rian kagum
"Apaan sih lo, yang kaya tuh bokap bukan gue. Gue cuma parasit doang" Ucap Juli.
"Nikah yuk Jul, biar gue kebagian harta warisan lo" Ucap Rian yang langsung mendapat lemaparan batal sofa dari Dimas.
"Matrek lo" Ucap Dimas.
"Hahahaha, nggak lah. Gue cuma bercanda. Lagian gua juga anak orang kaya kali" Ucap Rian bangga.
"Oh ya? Emang siapa nama bokap lo?" Tanya Dimas.
"Noval dari perusahaan NR" Jawab Rian
"Wah lo berdua beruntung banget bisa menjalin kerja sama dengan 2 perusahaan raksasa jika kalian benar benar menikah. Perusahaan kalian sudah pasti tidak akan ada yang mengalahkan" Ucap Dimas bangga.
"Jalan yuk Yan, gue bosan nih" Pinta Juli menyandarkan dirirnya ke dada bidang Rian.
"Si Dimas gimana?" Tanya Rian
"Biarin deh, palingan dia mau main sama ikan ikannya di belakang. Yuk pergi" Ucap Juli bangkit dari duduknya.
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏