
Saat mereka berdua akan masuk ke dalam mobil Rian, mereka mendengar deru suara motor. Key menoleh dan tersenyum saat melihat Ikbal, Kennet dan Theo yang berhenti di depan rumah Luna.
"Ayang Rian, boleh nggak gue samperin mereka dulu?" Tanya Key yang memperlihatkan mata gemasnya.
"Ya sudah sana, jangan lama lama" Jawab Rian mengalah.
Mata Key langsung berbinar saat mendengar jawaban Rian. Dia pun segera berlari lalu melompat ke dalam pelukan Ikbal.
Hal itu tentu saja membuat Rian geram. Dengan langkah lebarnya, dia menghampiri Key dan menarik topi hoodie yang Key gunakan.
"Turun nggak lo" Ucap Rian marah.
"Ih, ayang Rian." Ucap Key yang dengan berat hati turun dari gendongan Ikbal.
"Gue ijinin lo buat tegur sapa sama mereka, bukan malah manja manjaan dengan mereka." Ucap Rian marah.
"Lagian lo juga, tuh ada cewek lo. Lo nggak kasihan apa sama dia." Ucap Rian lagi.
"Nggak papa kak, mereka memang biasa begitu. Key sudah seperti adik buat kami" Ucap Luna.
"Nggak nggak ada adik adikan. Dan lo Key, cukup dengan sikap manja lo sama mereka. Lo milik gue sekarang, kalau lo mau manja, manja sama gue" Ucap Rian yang masih emosi.
"Kalau....." Ucap Rian terhenti saat Key dengan sengaja mencium bibir Rian sekilas.
Cup
"Sudah jangan marah marah terus. Iya iya mulai sekarang gue nggak akan manja manjaan sama mereka. Gue akan minta di manja sama lo saja" Ucap Key tersenyum cantik.
"Gitu dong. Sudah ah ayo katanya mau makan" Ucap Rian malu. Dia lebih dulu berjalan ke arah mobilnya sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Malu tuh pacar lo" Ucap Theo.
"Hem, gue tau. Gayanya saja yang sok cool. Tapi aslinya pemalu" Ucap Key.
"Sudah sana samperin, ngambek lagi bisa gawat lo nanti" Ucap Kennet.
"Ok, gue pergi dulu" Ucap Key berlari ke arah mobil Rian.
🥀🥀🥀
Melody Maheswari.
Melody saat ini tengah berada di kafe. Dia duduk sendiri di kafe menunggu Theo yang sedang di jalan untuk menghampirinya.
Tak lama Theo sudah sampai di kafe. Dia melepas helmnya lalu masuk ke dalam kafe. Saat melihat wajah Melody di meja sudut kafe, dia pun tersenyum senang.
"Sorry, gue lama ya" Ucap Theo duduk di hadapan Melody.
"Enggak kok, gue juga baru sampai" Jawab Melody memaksakan senyumnya.
"Kalau bohong jangan setengah setengah" Ucap Theo menggeser dua gelas kosong milik Melody. Melody pun tersenyum malu karena sudah ketahuan bohong.
"Kenapa Mel? Lo ada masalah?" Tanya Theo yang menggenggam tangan Melody.
"Masalah" Beo Melody hang tersenyum paksa. "Setiap orang pasti punya masalah Theo, termasuk gue" Ucap Melody lirih.
"Gue kenal sama lo bukan baru kemarin Mel. Ada apa? Apa masalah lo cukup berat?" Tanya Theo lembut.
"Yo, kalau gue mau jadi pacar lo, apa yang akan lo lakuin ke gue?" Tanya Melody meremas jemarinya.
"Ngaco lo Mel, kita nggak mungkin bisa bersama Mel. Rintangan yang kita hadapai cukup berat karena ini menyangkut keyakinan" Ucap Theo.
"Kalau begitu, gue mau minta satu hal sama lo. Tapi lo harus janji untuk melakukan apapun yang gue minta" Ucap Melody.
"Lo kenapa sih Mel? Lo ada masalah apa?" Tanya Theo.
"Jawab gue Theo, jangan mengalihkan pembicaraan" Ucap Melody sedikit menikkan notasi nada bicaranya.
Theo sempat terdiam karena gadis yang biasanya tersenyum ceria kini terlihat gundah dan ada suatu hal yang membuatnya ketakutan.
"Maaf Theo, gue terlalu menekan lo. Lupakan apa yang gue ucapkan tadi. Gue pergi dulu" Pamit Melody bangkit dari duduknya. Dia melangkah keluar dari kafe.
Saat melihat Melody yang berada di luar kafe, Theo meyakinkan dirinya jika keputusan apa yang ia akan ambil adalah keputusan terbaik untuk dirinya nantinya. Theo pun segerakeluar dari kafe. Dia mengejar Melody yang kini berjalan di trotoar jalan dengan air mata yang mebasahai wajahnya.
Deg
"Gue akan lakukan apa yang lo minta" Jawab Theo tegas.
"Nggak usah Yo, gue baik baik saja kok. Lo pulang gih, sudah malam juga kan" Ucap Melody memaksakan senyumannya.
"Gue juga harus pulang Yo. Dan gue akan di....." Batin Melody yang tidak ingin mengingat apa yang terjadi padanya selama ini.
"Enggak, gue akan melakukan apa yang lo minta Melody. Lo tau kan kalau gue cinta sama lo. Jangan takut Mel, karena gue akan selalu bersama lo" Ucap Theo meyakinkan Melody.
Mendengar ucapan Theo, Melody pun kembali menangis. Dia menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Theo.
Di hotel
Theo dan Melody sudah berada dj sebuah hotel ternama di tengah kota. Theo baru saja memesan kamar sedangkan Melody duduk di sofa yang ada di sudut lobby hotel.
Tak lama Theo menghampiri Melody.
"Mel" Panggil Theo lembut. Melody lun mendongakkan kepalanya menatap Theo yang juga menatapnya.
"Lo yakin dengan keputusan lo ini?" Tanya Theo.
"Gue yakin Yo. Tapi jika lo masih bimbang, kita bisa pulang sekarang" Ucap Melody tertunduk.
"Apapun nanti yang terjadi, gue akan tanggung jawab sama lo Mel" Ucap Theo menggenggam erat kedua tangan Melody.
"Makasih ya Yo" Ucap Melody tereenyum paksa pada Theo.
Akhirnya Theo dan Melody masuk ke dalam lift untuk menuju ke kamar yang sudah di pesan oleh Theo.
Berdebar? Tentu saja. Siapa sih yang tidak berdebar jika akan behubungan dengan orang yang kita cintai. Apa lagi ini adalah hal baru bagi Theo. Kalau Meldy? 🤔
Tak lama mereka sudah sampai di kamar hotel. Theo membuka pintu kamar dengan kartu yang ia bawa.
Saat sampai di dalam kamar, Melody langsung menuju ke kamar mandi. Sedangkan Theo memilih untuk duduk di ranjang. Dia berusaha menenangkan jantungnya yang terasa ingin lompat dari tempatnya.
"Jangan berdebar terus dong. Dasar jantung sia***n. Bisa malu gue kalau begini caranya" Ucap Theo.
Bayangan tubuh Melody kini telah berputar di kepalanya. Hingga adik kecil milik Theo sudah mulai menagang.
"Ck. Bikin malu jon jon. Baru ngebayangin saja sudah tegang lo." Ucap Theo dengan menatap tubuh bagian bawahnya.
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏
Selamat menunaikan ibadah Puasa
MARHABAN YA RAMADHAN
1444 H / 2023 M
Mohon Maaf Lahir Batin 🙏