
"Nggak papa, walaupun sedikit kamu harus tetap makan ya" Ucap Rian lembut.
"Minum susu saja ya" Ucap Juli.
"Ya sudah, tapi nanti harus makan ya" Ucap Rian yang di jawab anggukan kepala oleh Juli.
Rian menyendoki susu dan menyuapkannya ke pada Juli. Juli menerima semua suapan dari Rian. Namun dia sudah mulai mual. Dengan segera Rian mengambil tempat untuk Juli memuntahkan isi perutnya.
Melihat Juli yang muntah, Kila dan Cia bangkit dari duduknya. Cia mengambil tisu basah untuk membasuh bibir Juli, sedangkan Kila memgambil air putih untuk Juli minum.
"Titip dulu ya, gue mau bersihin ini dulu" Ucap Rian.
"Iya" Jawab Kila dan Ocha bersamaan. Rian membawa wadah tadi ke arah kamar mandi. Dia mencuci wadah tadi tanpa rasa jijik sedikit pun.
"Lo hebat Rian, gue salut sama lo" Batin Kila.
"Lo pria yang baik Rian. Gue yakin kalau Juli akan bahagia saat sama lo nanti. Cinta yang lo berikan untuk Juli terlihat jelas begitu tulus. bahkan gue sampai iri melihatnya" Batin Cia.
Di sekolah.
Rian datang ke sekolah dengan penampilan barunya. Dia memakai topi yang berlambangkam DD atau Death Devil.
"Wih si bos tampil beda nih" Ucap salah satu anggota Death Devil.
"Sepulang sekolah surun semua anak anak kumpul di camp. Ada yang mau gue bicarakan sama kalian semua" Ucap Rian.
"Siap pak bos"
Rian berjalan menyusuri lorong untuk menuju ke kelasnya. Untuk perihal Juli yang masuk rumah sakit, hanya orang orang terdekat saja yang tau dan juga para guru tentunya. Untuk anak anak lain, taunya kalau Juli sedang cuti untuk berlibur. Anak anak lain tidak curiga karena banyak dari mereka yang lahir dari kalangan orang kaya. Jadi untuk ambil cuti sangat mudah bagi mereka.
"Rian" Panggil Vito saat berada di depan kelasnya yang di lewati oelh Rian.
"Gue mau bicara sama lo" Ucap Vito saat Rian menghantikan langkahnya.
"Istirahat nanti di taman belakang" Ucapnya singkat lalu berjalan kembali menuju ke kelasnya. Rian tentu tau apa yang ingin Vito ketahui. Vito pasti ingin tau bagaimana keadaan Juli saat ini.
"Baru sampai bos" Ucap Ical kala Rian masuk ke dalam kelas.
"Nanti pulang sekolaj ke camp, gue mau mengundurkan diri jadi pemimpin Death Devil. Lagian sebentar lagi kita akan ujian. Gue mau fokus pada Juli dan ujian nanti" Ucap Rian.
"Gue setuju sama ucapan lo." Ucap Ical.
"Terus menurut lo siapa yang pantas untuk menggantikan posisi lo?" Tanya Yoga.
"Itu yang masih gue pikirin sekarang. Menurut kalian siapa yang pantas buat gantiin gue?" Tanya Rian balik
"Gimana kalau si Doni." Usul Ical.
"Anak kelas XI IPA 2 itu?" Tanya Rian.
"Kalau si Kiki gimana? Tuh anak kan pro banget sama anak anak lain. Apa lagi tuh anak berani banget. Lo ingat nggak saat melawan SMK 23. Walaupun lepalanya bocor karena kena balok, tuh anak tetap bertahan dan nyerang anak SMK 23 tanpa rasa takut sama sekali" Jelas Yoga.
"Dua anak itu saja pilihan kita, nanti kita buat pengambilan suara untuk penentuannya" Jawab Rian.
Bel istirahat sudah berbunyi. Saat ini Rian sudah berada di taman belakang sekolah. Dia duduk di kursi panjangyang ada di depan kolam.
"Sorry lama, tadi ada tugas dari guru" Ucap Vito yang baru saja sampai.
"Gue ini kakak kelas lo, lo nggak ada sopan sopannya sama gue" Ucap Rian santai.
"Gue cuma telat sekolah, tapi umur gue sama kayak lo" Ucap Vito.
"Lo mau tau soal Juli kan?" Tanya Rian.
"Iya" Jawab Vito tertunduk.
"Kenapa lo nggak datang saja langsung ke rumah sakit?" Tanya Rian.
"Gue nggak mau nambah luka buat dia" Jawab Vito.
"Rambutnya sudah mulai rontok. Berat badanya saja sudah turun drastis. Bibirnya kering padahal sudah gue kasih pelembap."
"Kemarin dia minta gue buat botakin rambutnya." Ucap Rian.
"Lo juga botakin kepala lo?" Tanya Vito yang di jawab anggukan kepala oleh Rian.
"Gue nggak mau kalau dia malu. Maka dari itu, gue juga botakin kepala gue" Jawab Rian.
Mendengar ucapan Vito membuat Rian tersenyum. "Dia memang sudah menjadi milik gue, dan gue nggak akan melepaskan dia sampai kapan pun" Ucap Rian.
"Semoga lo bisa membuat di bahagia Yan, gue nggak akan ganggu lagi hubungan lo sama dia. Gue titip dia sama lo. Jangan pernah lo sakiti dia" Ucap Vito menepuk bahu Rian.
"Gue pasti akan melakukan itu tanpa lo minta." Jawab Rian tersenyum.
Vito mengangguk pelan. Dia bangkit dari duduknya lalu berjalan pergi meninggalkan Rian yang masih duduk di bangku taman.
Tring tring tring
Ponsel Rian berdering, dia melihat Juli yang sedang meminta panggilan vidio call padanya. Rian mengusap tombol warna hijau untuk menjawab panggilan dari Juli.
"Hai sayang, lagi di mana?" Tanya Juli.
"Lagi di taman belakang sekolah. Kamu sudah makan?" Tanya Rian tersenyum.
"Sudah kok, aku makannya habis tadi. Rasa mualnya juga sudah lebih baik" Jawab Juli antusias.
"Wah hebat ayangnya aku. Sudah minum obat belum?" Tanya Rian lagi.
"Sudah kok, yah walaupun sedikit kesusahan sih, tapi aku bisa minumnya kok" Jawab Juli lagi.
"Oh iya sayang, nanti aku ke sana sorean ya, soalnya ada rapat di camp" Ucap Rian.
"Iya nggak papa kok, nanti juga ada Cia dan Kila yang main ke sini. Kamu selesaikan dulu urusannya" Ucap Juli.
"Makasih sayang. Mau di bawakan apa nanti?" Tanya Rian.
"Nggak usah deh, hadiah kamu sudah banyak di sini" Ucap Juli.
"Ya sudah, kamu istirahat gih. Aku mau masuk dulu ke kelas" Pamit Rian.
"Semangat belajarnya sayang" Ucap Juli tersenyum senang.
"Makasih sayang" Ucap Rian.
Juli mematikan panggilannya. Sedangkan Rian memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dia kembali terdiam di tempat yang sama menatap ke arah kolam ikan yang ada di depannya.
"Segeralah sembuh sayang, aku rindu dengan tawa kamu, aku kangen sama sikap manja kamu. Aku juga kangen dengan umpatan umpatan yang kamu lontarkan untuk aku" Batin Rian.
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏
Selamat menunaikan ibadah Puasa
MARHABAN YA RAMADHAN
1444 H / 2023 M
Mohon Maaf Lahir Batin 🙏