
"Gue buatin lo minum dulu ya" Pamit Juli yang sudah berjalan menuju ke dapur.
Karena bosan, Rian menghampiri Juli ke dapur. Dia duduk di kursi meja makan dan melihat Juli yang sedang membuatkan minuman untuk dirinya.
"Rumah lo kok sepi Yang?" Tanya Rian.
"Iya nih, bik Marni lagi ke pasar mungkin" Jawab Juli.
"Mami sama papi lo ke mana?" Tanya Rian.
"Kalau papi lagi ke luar negri, kalau mami sudah 3 tahun lalu meninggal karena kanker hati" Jawab Juli.
Mendengar jawaban Juli membuat Rian merasa bersalah. Dia bangkit dari duduknya lalu memeluk Juli dari belakang. "Sorry, gue nggak tau kalau mami lo sudah meninggal" Ucap Rian tulus.
"Nggak papa kok, lagian gue juga sudah iklas. Gue malah bahagia karena sekarang mami nggak perlu merasakan sakit lagi" Jelas Juli tenang namun Rian tau lalau Juli saat ini sedang menahan tangisannya.
Rian membalikkan tubuh Juli agar mereka berhadapan. Rian mengusap lembut wajah Juli yang kini tersenyum paksa ke arahnya untuk menyembunyikan perasaannya.
"Lo nggak harus pura pura kuat di depan gue Jul, gue tau lo saat ini lagi bohong sama gue. Lo bilang kalau lo nggak papa tapi gue tau betul kalau lo kenapa napa." Ucap Rian lembut.
"Lo nggak salah kok kalau lo rindu sama mami lo. Lo nggak akan buat mami lo sedih karena lo menangis. Jadi, kalau lo mau nangis nggak papa Juli. Jangan lo pendam sendiri karena ada gue di sini yang akan selalu menemani lo" Ucap Rian lembut.
Mendengar ucapan Rian membuat Juli tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia memeluk tubuh Rian dan menangis dalam dekapan Rian.
"Gue kangen sama mami Yan, gue kangen banget sama dia. Gue kangen setiap pagi kena omelan mami. Gue kangen setiap hari makan masakan mami. Gue kangen di manja sama mami Yan. Gue bukan cewek tegar yang seperti lo lihat. Gue lemah Yan, gue lemah." Ucap Juli menangis.
"Lo hebat lok Jul, gue bangga punya pacar seperti lo" Ucap Rian mengusap lembut kepala Juli. Sesekali dia mencium pucuk kepala Juli.
"Lo jangan sedih lagi ya, gue akan selalu ada buat lo kok. Gue sayang sama lo Jul" Ucap Rian menghapus air mata Juli.
"Makasih ya Yan, walaupun gue belum bisa balas perasaan lo. Tapi gue nyaman kok sama lo" Ucap Juli.
"Udah ah, jangan nangsi lagi. Ingus lo kena seragam gue semua nih" Ucap Rian memperlihatkan seragamnya yang basah.
"Ih, kan gue lagi nangis" Ucap Juli cemberut.
"Nangis ya nangis tapi ingusnya di buang di tisu dong Yang, ini kan ada tisu du sebelah lo" Ucap Rian.
"Ih, Riyan. Itu kan tisu buat makanan" Ucap Juli marah karena Rian menghapus air mata Juli dengan tisu dapur.
"Hahahaha mana gue tau, setau gue tisu ya sama aja" Ucap Rian tertawa lepas.
"Rian awas lo ya" Ucap Juli yang mengambil susuk penggorengan. Rian yang melihat hal itu pun langsung lari karena takut kena pukulan dari Juli.
"BERHENTI NGGAK LO, RIAAAAAN" Teriak Juli.
"Yang, sorry Yang. Gue benar benar nggak tau" Ucap Rian yang berlari keluar rumah. Dan alhasil mereka kejar kejaran di taman rumah Juli.
***
Hari berikutnya.
Juli dan Rian baru saja sampai di sekolah. Juli turun dari motor Rian lalu Rian membukakan helm yang di kenakan oleh Juli.
"Cantik bener nih pacar gue" Ucap Rian menyusupkan anak rambut Juli ke belakang telinga.
"Lo kok lebay banget sih Yan" Ucap Juli memukul lengan Rian.
"Heh curut, lo tuh harusnya senang karena di puji pacar lo sendiri. Lah inj malah main pukul aja" Ucap Rian menyentil kening Juli lembut.
"Hahahaha, habisnya lo aneh sih" Ucap Juli tertawa.
"Lo yang aneh. Sudah ah, ayo masuk" Ucap Rian menggenggam tangan Juli lalu berjalan ke koridor sekolah.
"Wih yang baru jadian lagi anget angetnya nih" Ucap Celo ketika Juli dan Rian melewati kelasnya.
"Iya dong, dari pada lo jones" Ucap Juli.
"Sekate kate lo Jul, gue punya pacar tau nggak" Ucap Celo.
"Punya lah" Jawab Celo.
"Siapa? Kok gue nggaj tau" Tanya Bayu.
"Lo pacar gue, puas lo" Ucap Celo dongkol.
"Najis, mending gue perjaka tuwir dari pada jadi pacar lo" Ucap Bayu duduk menjauh dari Celo.
"Hahahaha Celo belok nih" Ucap Cia yang baru datang bersama Kila.
"Lo belok Cel? Pantesan lo berdua nempel mulu kayak prangko sama amplop" Ucap Kila.
"Eh cabe jaga ya ucapan lo. Gue bukan pacarnya Celo" Teriak Bayu saat Cia dan Kila kembali berjalan menuju ke kelasnya dengan tawa mereka yang renyah tentunya.
"Jauh jauh lo dari gue" Ucap Bayu mendorong tubuh Celo agar menjauh darinya.
"Apaan sih lo Bay, gue cuma bercanda kali. Noh cewek oon itu yang gue suka" Ucap Celo yang menunjuk ke arah Cia.
"Lo suka sama Cia?" Tanya Bayu yang langsung menghampiri Celo.
"Iya, kenapa? Awas aja kalau lo sampai nikung" Ancam Celo.
"Pantesan dari tadi lo diam saja. Ternyata lo terpukau sama tuh salah satu cabe" Ucap Bayu.
"Jaga ucapan lo dong Bay, walaupun oon plus kayak cabe dia tetap nomer satu di hati gue. Jadi lo jangan lah ngatain dia cabe lagi" Ucap Celo memelas.
"Iya iya, gue nggak akan panggil dia cabe. Gue ganti ulat bulu aja gimana?" Tanya Bayu yang langsung mendapat pukulan keras di belakang kepalanya.
Berbeda jauh dari kedua sahabatnya yang tengah bertengkar di dalam kelas. Vito yang sedari tadi di dalam kelas melihat Juli dan Rian yang bergandengan tangan. Dia merasa hatinya panas dan moodnya jadi jelek seketika.
"Arhgt. Sialan" Umpat Vito keras hingga membuat seluruh anak anaj yang di kelas menatap kebarah Vito. Sedangkan Bayu dan Celo langsung masuk ke dalam kelas ketika mendengar teriakan Vito.
"Lo kenapa bro?" Tanya Bayu.
"Panas gue, mau cari angin" Jawab Vito berjalan keluar dari kelas.
"Panas bro" Goda Celo.
"Haredang dong" Ucap Bayu yang seketika itu tawa mereka berdua pecah.
"Makanya jangan sok cuek, nyesel kan lo sekarang" Teriak Bayu
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏