
Noval berjalan menuju ke kamar tamu. Dia memilih ke kamar tamu karena kamarnya yang masih berantakan akibat pertengkarannya dengan Ria tadi. Di tambah banyak kenangan bersama Ria di dalam kamar itu.
Rian berjalan keluar dari rumahnya. Dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota yang cukup ramai. Dia tidak perduli dengan umpatan dan kemarahan pengguna jalan lainnya. Dia benar benar kalut saat ini.
***
Semalaman Rian tidak pulang dari club malam. Bahkan saat ini Rian yang baru pulang dengan pakaian yang berantakan dengan mata merah serta jalannya yang sempoyongan.
"Den Rian habis mabuk?" Tanya pembantu Rian.
"Bantu Rian ke kamar bik" Ucap Rian singkat.
"Iy...iya den" Jawab pembantu Rian. Rian yang di bantu oleh pembantunya pun naik ke lantai atas untuk menuju ke kamarnya.
Di kamar, Rian duduk di pinggiran ranjangnya. Dia merasa kesepian di pagi hari ini. Biasanya sang mamah akan berteriak teriak ketika ia tidak kunjung bangun. Namun saat ini rumah besar nan mewah itu terasa sepi.
"Ck, kalau gini mana betah gue di rumah" Ucap Rian lirih.
Rian lebih memilih bangkit dari duduknya. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia ingin ke rumah sakit untuk menjenguk Juli.
Tak butuh waktu lama, Rian sudah siap dengan pakaian rapinya. Kali ini ia memakai celana jins yang di padukan drngan kemeja hitam pendek.
Rian merasakan kepalanya yang terasa berat. Namun ia ingin ke rumah sakit melihat keadaan Juli. Dia menggelengkan kepalanya untuk mengurangi rasa pusingnya.
"Gue harus kuat, gue harus melihat keadaan Juli sekarang" Ucapnya lirih.
Rian keluar lagi dari kamarnya di saat bersamaan, pembantu Rian membawakan minuman hangat untuknya. "Lho den Rian mau ke mana? Ini bibik bawakan minuman hangat untuk aden" Ucap pembantu Rian.
Rian mengambil minuman yang di bawakan oleh pembantunya itu. Dia meminum minuman itu hingga habis dan menaruh kembali gelasnya di nampan yang di pegang pembantunya.
"Rian pergi dulu ya bik, makasih minumannya" Ucap Rian.
"Iya den, aden hati hati di jalan" Ucap pembantu Rian yang di jawab anggukan kepala oleh Rian dengan langkah kakinya yang menuruni anak tangga.
Di rumah sakit, Rian langsung menuju ke ruang inap Juli. Dia berjalan menuju ke ruang inap dengan langkah yang cepat.
Tok tok tok
Rian mengetuk pintu ruang inap Juli, dia membuka pintu ruang inap Juli dan melihat Juli yang tengah di suntik obat pada selang infusnya oleh Dokter. Namun sebelum masuk, Rian di minta untuk memakai pakaian khusus dan juga masker karena ruangan inap Juli harus tetap steril.
"Om" Sapa Rian yang menyalami tangan Ari, papi Juli.
"Juli akan di kemo hari ini. Ini kemo keli pertamanya" Jelas Ari.
"Yang kuat ya om, Juli pasti akan kuat kok. Om jangan patah semangat demi kesembuhan Juli" Ucap Rian.
"Iya Rian, terima kasih karena kamu sudah memberikan om semangat" Ucap Ari menepuk bahu Rian.
Dokter berjalan ke arah Ari. "Obatnya sudah kami sunyikkan. Mohon untuk tetap di temani karena setelah melakukan kemo, biasanya akan ada efek samping yang di alami pasien. Suster akan tetap di sini untuk menemani pasien" Jelas Dokter.
"Terima kasih Dokter" Ucap Ari.
"Sama sama pak, kalau begitu saya permisi dulu" Pamit Dokter.
"Silahkan Dok" Jawab Ari.
Setelah kepergian Dokter, Rian berjalan menghampiri Juli yang tengah tersenyum ke arahnya. "Hai sayang" Sapa Rian mengusap lembut pucuk kepala Juli. "Gimana keadaan kamu?" Tanya Rian lembut.
"Baik kok, kamu nggak sekolah?" Tanya Juli lirih.
Rian menggelengkan kepalanya namun ia tetap tersenyum manis ke arah Juli. "Aku mau di sini menemani kamu hari ini" Jawab Rian.
"Rian, aku sakit" Ucap Juli lirih. "Aku akan jadi jelek setelah pengobatan ini. Kamu pasti akan malu punya kekasih yang penyakitan seperti aku" Ucap Juli.
"Makasih ya. Makasih karena kamu selalu ada untuk aku. Terima kasih Rian. Aku janji akan berjuang untuk sembuh agar bisa bersama kamu" Ucap Juli tersenyum.
"Iya sayang, aku akan selalu bersama kamu dan menemani kamu" Jawab Rian.
Beberapa jam yang lalu Suster sudah keluar dari ruang inap Juli. Kali ini pengobatan Juli telah selesai. Namun yang Juli rasakan saat ini nyeri di seluruh tubuhnya. Bahkan dia sering muntah hingga membuat tubuhnya lemas. Rian dengan telaten membantu Juli. Tidak ada rasa jijik saat membersihkan muntahan Juli yang berceceran kala ia tidak sempat menadahinya dengan baskom yang di sediakan.
"Sakit Yan" Ucap Juli lirih. Tubuhnya terasa sakit dan lemas. Rian mengambil tisu basah untuk membersihkan mulut Juli.
"Sabar ya sayang, kamu harus kuat agar kamu bisa sembuh" Ucap Rian lembut.
"Tapi ini sangat menyakitkan Rian, aku nggak kuat" Ucap Juli menangis.
"Nggak boleh bicara seperti itu Juli, kamu harus kuat sayang. Kamu gadis paling kuat yang pernah aku temui. Kamu harus bertahan ya sayang" Ucap Rian lembut.
Cukup lama Rian menemani Juli dengan keadaan Juli yang membuat Rian tidak tega untuk melihatnya. Wajah Juli yang pucat membuat hatinya sakit.
"Maaf om, saya ijin keluar" Ucap Rian yang sudah tidak tega melihat keadaan Juli. Dia keluar ketika Juli mulai tertidur. Dia melepas baju khusus yang ia kenakan tadi lalu berjalan menuju ke tempat ruang tunggu.
"Ya Tuhan, kenapa engkau memberikan cobaan yang sangat berat untuk kekasih ku. Kenapa gadis yang seceria Juli harus menerima sakit ini ya Tuhan, kenapa engkau tidak memberikannya padaku?" Guman Rian dalam hati.
"Rian" Panggil Kila yang saat ini berada di rumah sakit bersama Cia dan Gilang.
"Gimana keadaan Juli? Dia sakit apa?" Tanya Cia khawatir.
"Kangker otak stadium 2" Jawab Rian yang masih tertunduk sedih.
Mendengar jawaban Rian membuat Kila menangis histeris. Gilang meraih tubuh Kila dan membawanya ke dalam pelukannya. Sedangkan Cia, dia terduduk di lantai dengan serai air mata yang membasahi wajah cantiknya.
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏
Selamat menunaikan ibadah Puasa
MARHABAN YA RAMADHAN
1444 H / 2023 M
Mohon Maaf Lahir Batin 🙏