
"Sa....saya Rian Dok" Jawab Rian.
"Anda bisa masuk ke dalam sekarang" Ucap Dokter. "Suster tolong di bantu ya" Ucap Dokter.
"Baik Dok" Jawab suster.
Rian masuk ke dalam ruang ICU dengan baju khusus yang di bantu oleh suster tadi. Dia berjalan perlahan menghampiri Juli yang saat ini tengah memakai banyak alat alat rumah sakit yang ada di tubuhnya.
"Hai sayang, giaman keadaan kamu?" Tanya Rian tersenyum paksa.
"Rian, makasih ya kamu sudah selalu ada buat aku. Aku sangat berterima kasih karena sudah memberiku kebahagian yang berlimpah."
"Rian, aku takut.... aku takut Rian" Ucap Juli menangis.
"Jangan takut sayang, aku aka ada sisi kamu. Kamu harus kuat untuk melawan sakit ini. Kamu gadis yang hebat sayang. Kamu pasti bisa sembuh. Kamu harus semangat ya Sayang" Ucap Rian yang kini sudah menangis.
"Aku janji akan terus di sisi kamu sayang. Aku akan tetap di sini menemani kamu." Imbuhnya.
"Rian.... aku sudah sangat bahagia bisa mengenal kamu. Aku... aku bahagia bisa merasakan cinta yang melimpah dari kamu." Ucap Juli lirih.
"Aku harap kamu akan selalu bahagia Rian. Walaupun.....raga kita terpisah....tapi...cinta kita akan tetap bersama.... aku...mencintai.... kamu....Rian. Jangan sedih.... aku ingin.....melihat... kamu... senyum" Ucap Juli dengan deru nafas yang tersengal sengal
Rian menggigit bibir bawahnya. Jujur ini sangat berat untuk ia lakukan. Dia harus tersenyum di saat ia tau kalau dia akan kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya. Cinta sejatinya yang selama ini ia lindungi. Cinta yang selama ini ia perjuangkan. Cinta yang membutuhkan pengorbanan untuk ia dapatkan. Walaupun ia harus egois namun terbukti saat ini cintanya telah terbalaskan.
Namun Kenapa? Kenapa di saat Juli membalas Cintanya, dia harus kehilangan cinta itu. Bahkan ia pun harus kehilangan orang yang ia cintai.
"Aku....mohon...Rian. ter...senyumlah...aku ingin.... pergi dengan.... melihat...senyum....kamu" Pinta Juli.
Rian segera menghapus air matanya. Dia tersenyum pada Juli seperti yang Juli minta. Juli pun tersenyum melihat senyuman Rian. Dia perlahan mengusap wajah tampan Rian dengan kekuatan yang tersisa.
"Tolong... bilang...ke... papi... kalau...aku....sangat...sayang...pada...papi....aku...akan....bahagia...di....sana....dengan....mami" Ucap Juli lirih.
"Aku....mencintai...kamu....Rianoval" Ucapnya lagi.
Plack
Tangan Juli yang mengusap wajah Rian terjatuh dengan keadaan Juli yang sesak napas.
"Enggak Juli, enggak. Kamu harus bilabgs sendiri ke papi kamu." Ucap Rian menangis histeris.
"DOKTER, DOKTER" Teriak Rian kelabakan. Rian terus menggenggam tangan Juli erat. Dia menangis dengan terus menciumi punggung tangan Juli.
Dokter datang bersama suster. Dokter memberikan shock jantung pada Juli namun nihil, Juli sudah tiada dengan senyumannya yang tampak manis.
"Maaf mas, pasien sudah tiada" Ucap Dokter.
"Enggak, lo bohong kan? Juli nggak mungkin ninggalin gue. Lo jangan bercanda. Atau lo mau gue hajar sekarang juga" Teriak Rian marah.
"Juli bangun sayang, lo nggak boleh pergi Juli. Juli lo janji akan pergi jalan jalan sama gue kan? Lo bilang mau pergi ke swiss kan sama gue. Lo bilang mau habiskan waktu sama gue. Bangun Juli, gue akan kabulkan apapun yang lo mau. Tapi tolong bangun Juli"
"BANGUN JULI, LO JANGAN BERCANDA SAMA GUE JULI. LO HARUS BANGUN" Teriak Rian histeris.
"Bangun Juli, apa yang hatus gue lakukan agar lo bangun sekarang. Geu nggak bisa hidup tanpa lo Juli. Tolong bangun.... gue sayang sama lo Juli. Gue cinta sama lo... jangan tinggalin gue" Ucapnya lirih.
Mendengar teriakan histeris dari Rian, membuat semuaorang yang ada di luar pun menangis. Mereka tau arti dari tangisan Rian barusan. Juliana Maheswari, gadis cantik dengan lesung pipu dan gigi gingsulnya. Gadis cantik dengan berjuta pesona. Gadis cantik yang bar bar dan ceria. Kini telah tiada. Raga yang telah terpisah dengan ruhnya menyisahkan kenangan kenangan yang tak bisa di lupakan oleh orang orang terdekat.
Persabatan yang di bina oleh Kila, Juli dan Cia kini hampa tanpa tawa dan sikap bar bar milik sang sahabat yang lebih dulu menghadap pada sang Khaliq.
Dimas sepupu yang begitu manja padanya. Sepupu yang selalu ada untuknya. Sepupu yang selalu menyiksanya kini telah tiada. Tawa canda yang sepupunya miliki kini telah musnah karena sebuah penyakit mematikan yang di sebut dengan kanker ganas.
***
Di pemakaman.
Rian terus menggendong boneka besar yang ia beli kemarin. Boneka babi kesukaan Juli yang ia beli untuk hadiah. Namun belum juga Juli melihatnya, sang Khaliq lebih dulu mengambilnya.
"Terima kasih atas kenangan yang lo berikan ke gue Juli. Maaf atas sikap dan perbuatan gue selama ini. Gue memang bodoh karena sudah menyia nyiakan berlian secantik lo. Tapi gue tetap bahagia karena lo sempat merasakan cinta yang tulus yang di berikan oleh Rian. Walaupun gue menyesal melepaskan lo sama dia. Tapi gue tetap bahagia melihat tawa lepas lo saat sama Rian."
"Selamat jalan pelangi ku, selamat jalan matahari ku. Kamu adalah warna dalam hidup ku yang gelap Juli. Semoga kamu bahagia di sana" Ucap Vito lirih.
Setelah Vito berbalik, kini Rian mulai melangkah ke samping nisan Juli yang terdapar foto cantik Juli yang tersenyum.
"Tuhan lebih sayang sama kamu Juli. Rasa sayang Tuhan lebih besar dari rasa sayangku ke kamu. Kamu janji harus bahagia di sana. Kamu sudah nggak merasakan sakit lagi. Kamu sudah bisa bertemu sama mami kamu di sana." Ucap Rian lirih.
"Selamat jalan cinta ku, selamat jalan kekasih ku, selamat jalan separuh hidupku."
"Aku janji akan bahagia di sini. Aku janji tidak akan membuat kamu kecewa. Aku janji akan tetap tersenyum walau separuh hidupku telah tiada."
"Aku sangat mencintai kamu Juli. Sangat sangat mencintai kamu. Bahkan rasa cinta ku lebih dari rasa cinta ku pada diri sendiri. Cinta kita akan abadi sayang."
Rian mencium nisan Juli dengan derai air mata yang terus membanjiri wajah tampannya. Dia tersenyum di balik luka yang cukup dalam akibat kepergian cinta sejatinya.
Rian menaruh boneka yang ia beli di atas peristirahatan terakhir Juli. Foto Juli yang tersenyum cantik membuat Rian yakin kalau saat ini Juli tengah bahagia di alam sana.
"Ayo pulang, sebentar lagi sepertinya akan turun hujan" Ucap Ical menepuk bahu Rian.
Seluruh anggota Death Devil datang ke pemakaman Juli. Anak anak SMA Rajawali pun turun hadir dengan beberapa guru yang mendampingi. Tidak lupa dengan geng SMK 23 juga turut hadir juga. Tidak ada wajah permusuhan saat mereka saling tatap. Hanya rasa duka yang tersirat di wajah wajah mereka karena Juli memiliki kenangan di antara kedua geng tersebut.
"Selamat jalan sepupu gue yang cantik dan bawel. Gue pasti akan sangat kangen sama bawelan lo. Semoga lo bahagia di sana" Ucap Dimas tersenyum.
"Selamat jalan sahabat kita hang cantik. Kita pasti akan sangat merindukan lo. Lo yang selalu memberi warna bagi kita. Lo hang selalu membuat kita terhibur dengan tingkah konyol lo. Lo harus bahagia di sana karena kita janji akan bahagia di sini demi lo. Kita nggak akan pernah melupakan lo Juli. Lo sahabat terbaik yang pernah gue miliki" Ucap Cia menangis.
Kila memeluk bahu Cia lembut. Mereka menangis di depan pusara terakhir Juli. Taburan bunga yang melimpah berada di atas makam Juli. Doa doa yang semua berikan agar Juli bahagia di alam sana.
"Selamat jalan kekasih hati ku. Tetap lah tersenyum walau kita tidak bisa bersama. I LOVE YOU SO MUCH JULIANA MAHESWARI" Ucap Rian lirih.
💥💥💥
Hai hai hai...
Gimana seru nggak nih ceritanya.
Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.
Tips untuk jajan Authornya kakak, jangan lupa ya..😁
👍 Like
♥️ Favorit
💬 Komen
⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.
Selamat membaca ya kak
Terima kasih banyak
See you next part
😊😊😊🙏🙏🙏🙏
Selamat menunaikan ibadah Puasa
MARHABAN YA RAMADHAN
1444 H / 2023 M
Mohon Maaf Lahir Batin 🙏